Tiga Desa di Kabupaten Tebo Rumuskan RPJMDesa Berbasis Potensi dan Aset

“Sebenarnya kami berharap warga tidak hanya mengusulkan pembangunan fisik. Tapi lagi-lagi warga lebih banyak yang mengusulkan pembangunan fisik dari pada pelatihan-pelatihan misalnya.”

“Dalam penyusunan RPJMDesa, kami sebelumnya memang kopi paste dari desa lain dan hanya dikerjakan beberapa orang saja yang ada di desa. Tim 11 juga selama ini tidak semuanya memahami bagaimana menyusun RPJMDesa”

“Kami bingung bagaimana memasukkan data-data yang sudah ada ini dalam menyusun RPJMDesa”

Pernyataan-pernyaatan tersebut hanya beberapa dari sekian kegelisahan warga dan pemerintah desa, khususnya mereka yang masuk dalam tim penyusun Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDesa). Di pertengahan tahun 2016, tiga desa di Kabupaten Tebo, Provinsi Jambi, yaitu Desa Tegal Arum, Tirta Kencana, dan Teluk Singkawang, telah melakukan tahapan kegiatan tindak lanjut untuk penrencanaan apresiatif desa. Hasilnya, kini mereka telah menghasilkan data-data yang sangat bermanfaat bagi proses pembangunan di desanya, khususnya sebagai bahan rujukan penyusunan dokumen RPJMDesa secara partisipatif.

Dalam proses perencanaan pembangunan, saat ini desa pada umumnya masih menggunakan dalam cara pandang lama selalu menitikberatkan pada  analisa masalah sebagai cara awal merumuskan  program/kegiatan desa. Ada yang menyebut  analisa masalah dengan metode teknikalisasi  masalah. Teknikalisasi masalah kurang lebih  diartikan sebagai cara mencari dan merumuskan  masalah-masalah yang muncul di desa sebagai dasar pengambilan keputusan atas perencanaan  program/kegiatan prioritas pembangunan desa  untuk satu periode tertentu. Teknik ini sering  diterapkan dalam kegiatan-kegiatan seperti  musyawarah pembangunan desa  (Musrenbangdes) penyusunan Rencana  Pembangunan Jangka Menengah Desa  (RPJMDesa) dan Rencana Kerja Pemerintah  Desa (RKP Desa).

Analisa masalah juga yang selama ini digunakan oleh desa-desa di Kabupaten Tebo. Namun tahun ini Infest Yogyakarta bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Tebo dan Pemdes Teluk Singkawang, Tegal Arum, dan Tirta Kencana, mulai merumuskan perencanaan pembangunan berbasis aset dan potensi. Proses perumusan tersebut pada dasarnya telah dimulai di pertengahan tahun 2016 melalui tahapan kegiatan perencanaan apresiatif desa sekitar Mei-Desember 2016. Dalam tahapan kegiatan tersebut, warga, Pemdes, dan semua perwakilan stakeholder di desa terlibat dalam pemetaan aset dan potensi desa, kewenangan desa, kesejahteraan desa, survei layanan publik, dan penggalian usulan atau gagasan kelompok marginal.

Jpeg

Peserta Workshop Penyusunan RPJMDesa sedang memetakan tantangan-tantangn mereka dalam proses penyusunan RPJMDesa

Data-data yang dihasilkan warga secara partisipatif selanjutnya dimanfaatkan sebagai bahan rujukan perumusan RPJMDesa berbasis aset dan potensi. Proses pembelajaran ini dilakukan oleh tiga desa dalam Workshop Penyusunan RPJMDesa Berbasis Aset dan Potensi yang diselenggarakan oleh Infest Yogyakarta, pada Sabtu-Minggu (11-12/02/2017) . Kegiatan yang dilaksanakan di Desa Tegal Arum tersebut diikuti oleh perwakilan dari 3 Desa baik Tegal Arum, Tirta Kencana, maupun Teluk Singkawang. Peserta di antaranya adalah tim penyusun RPJMDesa (Tim 11), perwakilan Pemdes, dan Pemkab dari Dispermasdes Kabupaten Tebo.

Dalam workshop penyusunan RPJMDesa berbasis aset dan potensi, peserta lebih banyak melakukan simulasi penyusunan RPJMDesa. Kendati demikian tidak lagi mulai menyusun dari awal, namun hanya melakukan perbaikan sehingga menghasilkan RPJMDesa Perubahan yang berbasis aset. Dalam prosesnya memang tidak mudah mengubah pemahaman peserta yang terbiasa dengan proses penyusunan RPJMDesa. Termasuk pengalaman tim penyusun RPJMDesa dari Desa Teluk Singkawang, Habibi Kamil, proses perbaikan RPJMDesa ini tidak bisa diselesaikan secara singkat. Apalagi selama ini di desa terbiasa merumuskan RPJMDesa oleh beberapa orang saja. Sementara untuk menggali usulan biasanya hanya berbasis usulan hasil Musdus. Sehingga butuh waktu lama menganalisa data-data yang telah dihasilkan warga secara partisipatif.

Dari proses workshop penyusunan RPJMDesa, masing-masing desa merumuskan rencana kegiatan tindak lanjut untuk menyelesaikan penyusunan RPJMDesa, Musdes perumusan prioritas program, sampai Penetapan RPJMDesa. Selanjutnya, jika RPJMDesa telah ditetapkan, maka tim penyusun akan mulai menyusun RKPDesa dan APBDesa.

Perbedaan RPJMDesa Berbasis Masalah dan Berbasis Aset?

Jpeg

Peserta workshop mendiskusikan rencana penyusunan RPJMDesa

Di awal proses pembelajaran, warga dan Pemdes memang belum sepenuhnya memahami apa itu perbedaan RPJMDesa berbasis masalah yang selama ini mereka terapkan dengan berbasis aset. RPJMDesa berbasis aset dan potensi desa merupakan sebuah pendekatan yang ditawarkan Infest Yogyakarta. Pendekatan ini juga yang telah diterapkan di sejumlah desa dampingan Infest Yogyakarta baik di Jawa maupun luar Jawa. Pendekatan berbasis aset ini juga yang digunakan dalam modul panduan perencanaan apresiatif desa yang disusun dan diterbitkan oleh Infest Yogyakarta.

Latar belakang munculnya pendekatan apresitif salah satunya karena pendekatan masalah yang selama ini diterapkan di desa, hanya sekadar menampung banyak keluhan permasalahan desa. Tapi di sisi  lain melupakan bahwa di balik permasalahan ada  kekuatan, bahkan ada peluang kemudahan.  Kita lebih sering melihat sisi kelemahan tapi lupa  bahwa di sisi yang lain kita memiliki kekuatan,  mempunyai aset berharga yang apabila  dioptimalkan maka aset terbut akan berubah jadi  energi perubahan. Di sinilah arti penting  mengimbangi analisa masalah dalam  perencanaan pembangunan desa dengan  pendekatan aset. Dengan pendekatan aset kita  dilatih untuk lebih menghargai kondisi dan  prestasi desa secara positif.

Borni Kuriniawan, dalam Modul Perencanaan Apresiatif Desa, Infest Yogyakarta.

Borni Kuriniawan, dalam Modul Perencanaan Apresiatif Desa, Infest Yogyakarta.

Jadi, pendekatan berbasis aset ini mengapresiasi bahwasananya di tengah sejumlah masalah, sejatinya masih ada aset baik dalam  bentuk fisik maupun non fisik yang perlu  diapresiasi, hingga baik untuk dijadikan motivasi  untuk mendorong perubahan desa menjadi lebih  baik. Maka, Infest Yogyakarta menawarkan pendekatan apresiatif ini sebagai model perencanaan pembangunan desa yang tidak hanya mengumpulkan  masalah tapi juga menghimpun aset dan potensi yang desa miliki. Dengan kata lain pendekatan  pesimistis harus diimbangi dengan pendekatan optimistik. Jadi, prioritas program  pembangunan desa yang direncanakan dalam RPJMDesa dan RKPDesa tidak hanya  mencerminkan permasalahan desa semata, tapi proyeksi rencana pembangunan yang  didasarkan pada perhitungan dan analisa kekuatan yang ada di desa (strength based approach).  Kekuatan-kekuatan tersebut bisa berasal dari aset tangible seperti sumber daya alam dan  sumber daya fisik dan berasal dari aset intangible seperti aset sosial, budaya, dan ekonomi  desa.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *