Arsip Tag: Tirta Kencana

Ketika Warga Transmigran Mulai Menggali dan Menulis Sejarah Desanya

Sekarang kami mulai paham bahwa dulunya kami (warga transmigran) ini hanya ada 496 kepala keluarga (KK) dari semua pelosok penjuru Jawa. Kami juga kini mengetahui jika dulu para orang tua kami sangat prihatin selama dua tahun. Mereka hanya makan beras dan teri jatah dari pemerintah. Kami juga tahu, dulu ada masalah kelapran pada tahun 1979 karena jatah sudah habis dan tanaman padi puso. Kami juga kini mengetahuai jika dulu para orang tua kami dulu hanya berjalan kaki berpuluh-puluh kilo meter hanya untuk mencari bibit singkong. Kami juga tahu bahwa tidak sedikit para leluhur yang meninggal karena tertimpa pohon, ada juga yang dimakan harimau, dan digigit ular. Dan kini, kami sangat sadar bahwa kami harus lebih menghormati mereka, karena semua yang terbangun saat ini adalah buat kerja keras mereka, para pendahulu kami.

(Rohmad Annas, Kades Tegal Arum, Kec. Rimbo Bujang, Kab. Tebo, Provinsi Jambi, 24/02/17)

Kalimat terahir Kades Tegal Arum, Rohmad Annas secara jelas mengingatkan dirinya, warganya, bahkan semua orang untuk jangan sekali-kali melupakan sejarah. Kalimat yang sangat akrab bagi masyarakat Indonesia, karena pernah didengungkan oleh Presiden Pertama Indonesia, Soekarno. Kini, kalimat tersebut terus menerus dikutip di banyak pernyataan seseorang untuk mengingatkan betapa pentingnya sejarah. Termasuk bagi warga transmigran yang kini bisa dikatakan telah sukses atau berhasil menaklukan tempat yang awalnya sangat asing bagi mereka. Lalu mengapa masyarakat di desa perlu menelusuri, menggali, hingga menulis sejarah desanya? Karena sejarah adalah aset yang berharga bagi desa dan masyarakatnya. Lebih dari itu, menulis sejarah tidak sekadar mengingat kembali detail waktu kejadian di masa lalu, namun berusaha mencoba menulis sejarah baru.

Apa yang sudah diungkapkan Kades Tegal Arum hanyalah cerita singkat dari sekian banyaknya fakta tentang desanya. Saat saya menyebut mereka telah sukses, bagi saya memang benar mereka telah sukses. Kekuatan memelihara ketekunan mereka tidak hanya berhenti pada satu dua generasi, namun secara terus menerus diwariskan pada anak-anaknya. Mereka adalah para pemuda desa yang tidak mengenal rasa malu atau sungkan untuk berperan di ranah publik maupun domestik. Bahkan peran-peran sosial dapat secara bersamaan mereka lakukan dengan peran-peran lainnya. Seperti yang pernah saya tulis di laman ini tentang Pemuda Penggerak Desa Tegal Arum.

Desa Tegal Arum adalah salah satu desa dampingan Infest Yogyakarta di Kabupaten Tebo yang tengah berupaya mewujudkan perencanaan apresiatif desa dalam proses pembangunan di desanya. Selain Desa Tegal Arum, ada juga Tirta Kencana, dan Desa Teluk Singkawang yang juga tengah menelusuri dan terus menggali potensi desanya. Salah satunya dengan menulis tentang sejarah desanya. Ketiga desa ini sama-sama memiliki aset dan potensi yang bisa jadi baru mereka sadari betapa kayanya mereka. Di Teluk Singkawang misalnya, di sana ada sebuah candi dan sejumlah warisan nenek moyangnya.

Menggali Informasi Langsung dari Pelaku Sejarah

Dalam suatu wawancara yang bertujuan memetakan aset dan potensi desa, salah seorang tim pembaharu desa (TPD) Tegal Arum pernah merasakan kesulitan menjawab pertanyaan warga. Saat itu pertanyaannya adalah tentang batas wilayah. Ini hanya salah satu hal yang kemudian membuat TPD bersama pemerintah desa merasa penting untuk lebih mengenal tentang desanya dengan menelusuri sejarah desanya. Selain kisah dari TPD ini, cerita lain juga muncul dari Kades Tegal Arum, tentang kali pertama dia menyadari tentang pentingnya menggali sejarah desa dan menuliskannya.

“Awalnya, pada suatu sore saat saya silaturrahmi ke tempat mbah Makmur. Di sana saya lihat ada papan berukuran 30 cm persegi dengan tulisan huruf Jawa Aseli. Karena pensaran, akhirnya saya bertanya apa arti dan tujuannya. Beliau menjawab, ini adalah prasati bukti pertma kali kami serombongan setelah 2 minggu di perjalanan akhirnya sampai di sini (di Tebo, Jambi). Dan sore itu, ibarat petunjuk bagi saya sendiri. Malam harinya, seperti biasa kami berkumpul bersama pemuda dan menyampaikan kepada mereka bahwa kita perlu mencari tahu sejarah desa kita, sebelum para pelaku sejarah semuanya tiada,” papar Rohmad Annas pada Kamis (24/02/17).

Para pelaku sejarah Desa Tegal Arum

Para pelaku sejarah Desa Tegal Arum

Gayung bersambut, para pemuda desa pun sepakat dengan gagasan Kadesnya. Sejak itu, mereka pun berbagi peran dan segera menyebar menelusuri, menggali, dan mulai menghimpun data-data tentang desanya. Setelah data terkumpul, Pemdes mulai mengumpulkan para pelaku sejarah dengan mengundang mereka untuk menggali lebih jelas lagi kebenaran informasi yang mereka dapatkan. Semacam melakukan verifikasi data-data dari yang telah mereka dapatkan kepada pelaku sejarahnya langsung.

“Hal ini penting kami lakukan agar informasi yang kami terima tidak hanya dari individu-individu tertentu dengan kebenaran sepihak saja. Ini penting bagi kami untuk diwariskan pada generasi berikutnya,” tandasnya.

Hal serupa juga diungkapkan tim pembaharu desa (TPD) Tirta Kencana, Agus Putra Mandala. Pada waktu yang hampir bersamaan, Desa Tirta Kencana juga tengah menggali sejarah desanya. Mengetahui sejarah desa juga menjadi sangat penting karena dalam dokumen RPJMDesa mereka harus memberikan informasi tentang profil desanya.

“Kami undang salah satu tokoh pendiri desa yang waktu itu sebagai pegawai UPT (Transmigrasi) Kemudian kami minta beliau bercerita tentang Desa Tirta Kencana. Dari mulai berdiri sampai luasan tanah “R”, serta rencana apa dari para pendiri yang bisa kami lakukan terhadap mimpi mereka. Dan ternyata, tanah “R” kami sangat luas yg menurut mimpinya pendiri desa akan dijadikan sebagai kantor Kabupaten pemekaran atau setidaknya Bandara,” demikian Agus yang secara pribadi mengaku kaget dengan informasi yang baru diketahuinya.

Tantangan dan Manfaat Menggali Sejarah Desa

Kendati warga baru menyadari tentang betapa pentingnya sejarah desa mereka, namun selama proses penggalian informasi, mereka mengaku tidak mengalami banyak kendala. Seperti yang diungkapkan oleh Ari Rudiyanto, salah satu TPD Tegal Arum.

“Tidak begitu banyak kendala, hanya saja dalam menggali sejarah desa, hanya saja dari mereka (pelaku sejarah) bercerita berdasarkan dari ingatan mereka. Karena faktor usia, maka terkadang ada beberapa peristiwa yang mereka lupa. Sehingga kita kemarin juga harus membuat pertanyaan-pertanyaan untuk memancing daya ingat mereka tentang peristiwa-peristiwa penting yang mereka alami dan saksikan,” ungkap Ari.

Kendala lainnya kemudian adalah bagaimana mereka melalui tahap penulisan dan analisa hasil penggalian data tentang sejarah desanya. Dalam hal ini, bisa jadi mereka membutuhkan penguatan kapasitas tersendisi khusus penulisan sejarah desa. Sehingga data sejarah desa juga akan sangat bermanfaat dalam proses penyusunan dokumen rencana pembangunan jangka menengah desa (RPJMDesa). RPJMDesa merupakan  dokumen perencanaan pembangunan yang  berfungsi acuan utama pelaksanaan  pembangunan desa untuk kurun waktu 6 (enam)  tahun. Di mana salah satu langkah dari penyusunan RPJMDesa adalah penggalian databese desa meliputi profile desa, penelusuran sejarah desa, memetakan aset  desa, membangun mimpi desa, strategi  pengembangan aset dan menganalisa,  menyusun program dan kegiatan RPJMDesa.  Selebihnya, sejarah desa akan lebih baik jika ditulis dan dibukukan dan menjadi dokumen penting bagi desa.

=========

Catatan pembelajaran ini ditulis oleh Alimah, Gender Specialist Institute for Education Development, Social, and Religious Studies (Infest).  Desa Tegal Arum, Tirta Kencana dan Teluk Singkawang adalah desa dampingan Infest Yogyakarta yang telah membentuk tim pembaharu desa (TPD) untuk Perencanaan Apresiatif Desa (PAD), salah satu tahapan kegiatan yang diselenggarakan Infest Yogyakarta atas kerjasama Pemkab Tebo dan Pemdes Teluk Singkawang, Tegal Arum, dan Tirta Kencana. Program ini didukung oleh Making All Voices Count (MAVC) HIVOS.

 

 

Tiga Desa di Kabupaten Tebo Rumuskan RPJMDesa Berbasis Potensi dan Aset

“Sebenarnya kami berharap warga tidak hanya mengusulkan pembangunan fisik. Tapi lagi-lagi warga lebih banyak yang mengusulkan pembangunan fisik dari pada pelatihan-pelatihan misalnya.”

“Dalam penyusunan RPJMDesa, kami sebelumnya memang kopi paste dari desa lain dan hanya dikerjakan beberapa orang saja yang ada di desa. Tim 11 juga selama ini tidak semuanya memahami bagaimana menyusun RPJMDesa”

“Kami bingung bagaimana memasukkan data-data yang sudah ada ini dalam menyusun RPJMDesa”

Pernyataan-pernyaatan tersebut hanya beberapa dari sekian kegelisahan warga dan pemerintah desa, khususnya mereka yang masuk dalam tim penyusun Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDesa). Di pertengahan tahun 2016, tiga desa di Kabupaten Tebo, Provinsi Jambi, yaitu Desa Tegal Arum, Tirta Kencana, dan Teluk Singkawang, telah melakukan tahapan kegiatan tindak lanjut untuk penrencanaan apresiatif desa. Hasilnya, kini mereka telah menghasilkan data-data yang sangat bermanfaat bagi proses pembangunan di desanya, khususnya sebagai bahan rujukan penyusunan dokumen RPJMDesa secara partisipatif.

Dalam proses perencanaan pembangunan, saat ini desa pada umumnya masih menggunakan dalam cara pandang lama selalu menitikberatkan pada  analisa masalah sebagai cara awal merumuskan  program/kegiatan desa. Ada yang menyebut  analisa masalah dengan metode teknikalisasi  masalah. Teknikalisasi masalah kurang lebih  diartikan sebagai cara mencari dan merumuskan  masalah-masalah yang muncul di desa sebagai dasar pengambilan keputusan atas perencanaan  program/kegiatan prioritas pembangunan desa  untuk satu periode tertentu. Teknik ini sering  diterapkan dalam kegiatan-kegiatan seperti  musyawarah pembangunan desa  (Musrenbangdes) penyusunan Rencana  Pembangunan Jangka Menengah Desa  (RPJMDesa) dan Rencana Kerja Pemerintah  Desa (RKP Desa).

Analisa masalah juga yang selama ini digunakan oleh desa-desa di Kabupaten Tebo. Namun tahun ini Infest Yogyakarta bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Tebo dan Pemdes Teluk Singkawang, Tegal Arum, dan Tirta Kencana, mulai merumuskan perencanaan pembangunan berbasis aset dan potensi. Proses perumusan tersebut pada dasarnya telah dimulai di pertengahan tahun 2016 melalui tahapan kegiatan perencanaan apresiatif desa sekitar Mei-Desember 2016. Dalam tahapan kegiatan tersebut, warga, Pemdes, dan semua perwakilan stakeholder di desa terlibat dalam pemetaan aset dan potensi desa, kewenangan desa, kesejahteraan desa, survei layanan publik, dan penggalian usulan atau gagasan kelompok marginal.

Jpeg

Peserta Workshop Penyusunan RPJMDesa sedang memetakan tantangan-tantangn mereka dalam proses penyusunan RPJMDesa

Data-data yang dihasilkan warga secara partisipatif selanjutnya dimanfaatkan sebagai bahan rujukan perumusan RPJMDesa berbasis aset dan potensi. Proses pembelajaran ini dilakukan oleh tiga desa dalam Workshop Penyusunan RPJMDesa Berbasis Aset dan Potensi yang diselenggarakan oleh Infest Yogyakarta, pada Sabtu-Minggu (11-12/02/2017) . Kegiatan yang dilaksanakan di Desa Tegal Arum tersebut diikuti oleh perwakilan dari 3 Desa baik Tegal Arum, Tirta Kencana, maupun Teluk Singkawang. Peserta di antaranya adalah tim penyusun RPJMDesa (Tim 11), perwakilan Pemdes, dan Pemkab dari Dispermasdes Kabupaten Tebo.

Dalam workshop penyusunan RPJMDesa berbasis aset dan potensi, peserta lebih banyak melakukan simulasi penyusunan RPJMDesa. Kendati demikian tidak lagi mulai menyusun dari awal, namun hanya melakukan perbaikan sehingga menghasilkan RPJMDesa Perubahan yang berbasis aset. Dalam prosesnya memang tidak mudah mengubah pemahaman peserta yang terbiasa dengan proses penyusunan RPJMDesa. Termasuk pengalaman tim penyusun RPJMDesa dari Desa Teluk Singkawang, Habibi Kamil, proses perbaikan RPJMDesa ini tidak bisa diselesaikan secara singkat. Apalagi selama ini di desa terbiasa merumuskan RPJMDesa oleh beberapa orang saja. Sementara untuk menggali usulan biasanya hanya berbasis usulan hasil Musdus. Sehingga butuh waktu lama menganalisa data-data yang telah dihasilkan warga secara partisipatif.

Dari proses workshop penyusunan RPJMDesa, masing-masing desa merumuskan rencana kegiatan tindak lanjut untuk menyelesaikan penyusunan RPJMDesa, Musdes perumusan prioritas program, sampai Penetapan RPJMDesa. Selanjutnya, jika RPJMDesa telah ditetapkan, maka tim penyusun akan mulai menyusun RKPDesa dan APBDesa.

Perbedaan RPJMDesa Berbasis Masalah dan Berbasis Aset?

Jpeg

Peserta workshop mendiskusikan rencana penyusunan RPJMDesa

Di awal proses pembelajaran, warga dan Pemdes memang belum sepenuhnya memahami apa itu perbedaan RPJMDesa berbasis masalah yang selama ini mereka terapkan dengan berbasis aset. RPJMDesa berbasis aset dan potensi desa merupakan sebuah pendekatan yang ditawarkan Infest Yogyakarta. Pendekatan ini juga yang telah diterapkan di sejumlah desa dampingan Infest Yogyakarta baik di Jawa maupun luar Jawa. Pendekatan berbasis aset ini juga yang digunakan dalam modul panduan perencanaan apresiatif desa yang disusun dan diterbitkan oleh Infest Yogyakarta.

Latar belakang munculnya pendekatan apresitif salah satunya karena pendekatan masalah yang selama ini diterapkan di desa, hanya sekadar menampung banyak keluhan permasalahan desa. Tapi di sisi  lain melupakan bahwa di balik permasalahan ada  kekuatan, bahkan ada peluang kemudahan.  Kita lebih sering melihat sisi kelemahan tapi lupa  bahwa di sisi yang lain kita memiliki kekuatan,  mempunyai aset berharga yang apabila  dioptimalkan maka aset terbut akan berubah jadi  energi perubahan. Di sinilah arti penting  mengimbangi analisa masalah dalam  perencanaan pembangunan desa dengan  pendekatan aset. Dengan pendekatan aset kita  dilatih untuk lebih menghargai kondisi dan  prestasi desa secara positif.

Borni Kuriniawan, dalam Modul Perencanaan Apresiatif Desa, Infest Yogyakarta.

Borni Kuriniawan, dalam Modul Perencanaan Apresiatif Desa, Infest Yogyakarta.

Jadi, pendekatan berbasis aset ini mengapresiasi bahwasananya di tengah sejumlah masalah, sejatinya masih ada aset baik dalam  bentuk fisik maupun non fisik yang perlu  diapresiasi, hingga baik untuk dijadikan motivasi  untuk mendorong perubahan desa menjadi lebih  baik. Maka, Infest Yogyakarta menawarkan pendekatan apresiatif ini sebagai model perencanaan pembangunan desa yang tidak hanya mengumpulkan  masalah tapi juga menghimpun aset dan potensi yang desa miliki. Dengan kata lain pendekatan  pesimistis harus diimbangi dengan pendekatan optimistik. Jadi, prioritas program  pembangunan desa yang direncanakan dalam RPJMDesa dan RKPDesa tidak hanya  mencerminkan permasalahan desa semata, tapi proyeksi rencana pembangunan yang  didasarkan pada perhitungan dan analisa kekuatan yang ada di desa (strength based approach).  Kekuatan-kekuatan tersebut bisa berasal dari aset tangible seperti sumber daya alam dan  sumber daya fisik dan berasal dari aset intangible seperti aset sosial, budaya, dan ekonomi  desa.[]