Arsip Tag: Tebo

Pemuda Desa Tegal Arum Kelola Kebun Hingga BUMDesa

“Satu tahun lalu, tanah ini ditemukan oleh Tim Pembaharu Desa (TPD) yang memetakan aset dan potensi desanya. Saat itu tanah seluas 1 Ha ini hanya berupa semak belukar. Kemudian terbentuklah sekelompok pemuda yang ingin mewujudkan “go green” di desa dengan mengelola aset ini. Sekarang tanaman cabenya sudah berbunga, dan tinggal menunggu panen.”

(Rohmad Annas, Kades Tegal Arum)

Masih ingat tim pembaharu desa (TPD) Tegal Arum, Kecamatan Rimbo Bujang, Kabupaten Tebo, Propinsi Jambi? Di laman ini saya beberapa kali menuliskan kisah mereka serta kolaborasi mereka bersama kelompok perempuan dalam mengelola kebun tanaman obat keluarga (Toga) di desanya. Pemuda penggerak desa (PPD) ini sangat kreatif, kritis dan terlibat aktif dalam kegiatan-kegiatan pembangunan di desanya. TPD sendiri merupakan tim yang dibentuk secara partisipatif dalam mewujudkan perencanaan apresiatif desa (PAD).

Tahun 2016-2017, TPD dibentuk dan menghasilkan data-data partisipatif yang sangat dibutuhkan dalam proses perencanaan pembangunan desanya. Mereka terdiri dari berbagai kelompok di desa, termasuk kelompok pemuda dan perempuan di desanya. TPD terbagi dalam 5 tim, yaitu tim aset dan potensi desa yang telah menghasilkan data aset dan potensi desanya. Lalu, ada tim kewenangan desa yang menghasilkan data dan Perdes Kewenangan Desa. Selain itu ada tim kesejahteraan lokal yang telah menghasilkan data kesejahteraan lokal desanya, serta tim penggali usulan kelompok marjinal dan tim survei perbaikan layanan publik. Kedua tim tersebut telah menghasilkan data usulan kelompok marjinal dan data prioritas layanan publik.

Memasuki tahun 2018, mereka pun tetap aktif dan produktif menginisiasi beragam kegiatan di desa. Kabar terbaru, mereka telah menginisiasi sebuah kebun sayur mayur yang awalnya hanya lahan yang dipenuhi semak belukar.

Lahan yang kini dimanfaatkan pemuda desa untuk menanam cabe dan tanaman sayur mayur lainnya (foto: Kades Tegal Arum)

Menurut Kepala Desa (Kades) Tegal Arum, Rohmad Annas, lahan yang dipenuhi semak belukar itu ditemukan oleh TPD yang memetakan aset dan potensi desanya pada tahun 2016. Saat itu tanah seluas 1 Ha ini hanya berupa semak belukar. Kemudian terbentuklah sekelompok pemuda yang yang memiliki misi untuk mewujudkan “go green” di desanya. Hingga lahan tersebut kini dikelola oleh pemuda desa sebagai salah satu aset desa yang sangat berpotensi.

Di awal pengelolaannya, para pemuda itu menanam cabai, yang kini sudah mulai berbunga dan tinggal menunggu panen. Menurut Rohmad Annas, apa yang dilakukan para pemuda ini tidak hanya menanam, namun juga mengelola, bagaimana mendapatkan bibit, pupuk dan sekian kebutuhan lainnya.

Wujudkan BUMDesa di Bidang Konveksi, Jasa Transfer Uang, dan Bidang Lainnya

Selain inisiasi pemuda desa dalam mengelola kebun. Tim Pembaharu Desa yang tergabung dalam tim Survei Pelayanan Publik juga memiliki data warga yang kurang mampu. Dari data hasil survei partisipatif tersebut, di antaranya telah mendorong perbaikan layanan publik di desa. Kabar terbaru, warga miskin khususnya dari kelompok perempuan, kini telah mendapatkan pelatihan menjahit.

Setelah kurang lebih 5 bulan mereka telah dibekali ketrampilan, salah satunya melalui pelatihan menjahit. Pemdes dalam hal ini bekerjasama dengan semua lembaga pendidikan di Desa Tegal Arum, serta merangkul semua kelompok di desa. Kekompakan warga ini rencananya akan mendirikan sebuah usaha bersama dalam bidang konveksi. Sehingga kebutuhan warga di desa dalam pembuatan baju, kaos, dan lain-lain dapat dipenuhi oleh desanya sendiri di bawah naungan Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa).

Meskipun banyak warga yang tidak mengenyam pendidikan menengah atas maupun bangku kuliah, namun mereka semakin semangat dan percaya diri mampu mendapatkan penghsilan dengan keringat mereka sendiri.

BUMDesa di Desa Tegal Arum berdiri tahun 2017. Kini telah mengelola beberapa cabang, termasuk mengelola jasa bagi orang tua di desa yang mau mengirimkan uang ke anaknya di luar kota. Mereka kini tidak perlu lagi berjalan puluhan kilometer, karena BUMDesa kini telah membantu kebutuhan mereka.

Rohmad Annas juga menceritakan aset desanya bukan hanya dari lahan, BUMDesa, namun juga pasar yang telah lama berdiri. Menurutnya, aset yang terdata sudah ratusan juta lebih, dan belum lagi aset-aset lainnya. Tentu itu menjadi sabuah peluang ke depan dan mudah-mudahan kami bisa mengelola dengan baik.

BUMDesa berperan dalam mendukung 60 usaha kecil. Pengelolaannya melalui pendampingan sesuai dengan kebutuhan masyarakat sekitar dan kemudian pelaku usaha dibantu dalam pemasaran produk. Satu di antara produk unggulannya adalah beras ubi yang merupakan hasil dari pertanian masyarakat kemudian dipasarkan dalam lingkup desa setempat.

Dengan mengadopsi kreasi dari Jawa ubi diolah sedemikian rupa sehingga menjadi beras yang layak konsumsi. Dari alokasi Rp 161 juta ini pun mampu memenuhi kebutuhan tupoksi BUMDesa. Kepala desa Desa Tegal Arum, Rahmat menjelaskan jika pemerintah desa turut serta memantau dan membimbing agar pengelolaannya tepat sasaran. Pengelolaan BUMDesa yang baik akan memberikan banyak faedah dan manfaat bagi masyarakat yang ada di desa tersebut. Sejumlah manfaat ini diperoleh melalui berbagai kreatifitas azas manfaat yang dirumuskan dalam pengelolaan BUMDesa. [Alimah]

 

 

Desa Transmigran dan Masa Depan Kaum Marjinal

Apa yang harus dilakukan oleh Pemerintahan Desa (Pemdes) saat mengetahui bahwa ada warganya yang berkebutuhan khusus (difabel) dan sejumlah kelompok marjinal lain yang ada di desanya? Apalagi jika dalam perencanaan pembangunan desanya, belum ada program yang menyasar pada kelompok difabel, selain bantuan langsung tunai dan serangkaian kegiatan seremonial belaka.

Seorang Kepala Desa (Kades) di Desa transmigran pernah mengalami kondisi dimana dia harus bertindak cepat mengatasi persoalan yang menimpa warganya. Desa tersebut bernama Desa Tegal Arum, salah satu Desa transmigran Jawa di Kecamatan Rimbo Bujang, Kabupaten Tebo, Provinsi Jambi.

Tahun 2016, Pemdes Tegal Arum bersama warganya berupaya menggali usulan kelompok kelompok marjinal di desanya. Mendatangi warga dan melakukan wawancara langsung merupakan salah satu tahap dalam menggali usulan kelompok marjinal. Saat itulah, dia bersama timnya menemukan bahwa selama ini ada warganya yang berkebutuhan khusus.

Kondisi mereka beragam, termasuk mereka yang kondisinya masih bisa disembuhkan jika ditangani secara cepat dan intensif oleh dokter spesialis. Karena berasal dari keluarga miskin, maka Pemdes pun segera konsultasi ke dokter Puskesmas. Esok harinya, warga difabel tersebut segera diantar ke Dinas Sosial di Kota Jambi. Satu bulan kemudian, warga tersebut dijemput karena dinyatakan sudah sehat secara fisik dan psikis. Langkah selanjutnya, warga tersebut mempekerjakan dan memberdayakan warga tersebut sebagai upaya memastikan masa depannya cerah.

Pengalaman tersebut membuat Pemdes semakin peka memahami kondisi warganya. Bahkan bukan sekadar paham, namun juga tanggap menghadapi situasi semacam ini, serta bagaimana membangun kerjasama dengan dinas sosial dan beberapa lembaga. Termasuk saat menghadapi seorang remaja difabel dari keluarga miskin yang kembali pulih.
Perencanaan apresiatif desa

Perencanaan Apresiatif Desa

Di sejumlah desa, keberadaan warga berkebutuhan khusus mungkin tidak benar-benar diperhatikan. Kalau pun diberikan bantuan, pada umumnya hanya bantuan tunai dan pemberian alat bantu. Termasuk ketika ada warga dari keluarga miskin yang mengalami gangguan jiwa, mereka biasanya dibiarkan mengatasi persoalannya sendiri dengan cara-cara yang tak wajar.

Jarang sekali Pemdes yang benar-benar peka pada kondisi kaum difabel, memastikan kesembuhannya jika dia bisa disembuhkan, serta memberdayakan difabel untuk memastikan masa depannya. Kalaupun ada komunitas difabel di desa, biasanya mereka didukung lembaga masyarakat sipil yang peduli pada persoalan difabel. Seperti salah satu Desa Inklusi di Yogyakarta yang dijadikan percontohan desa inklusi.

Desa inklusi ini digagas oleh Sasana Integrasi dan Advokasi Difabel (Sigab). Desa inklusi merupakan layanan berbasis masyarakat yang ramah bagi penyandang disabilitas. Melalui desa inklusi, masyarakat desa diharapkan mulai ramah dengan penyandang disabilitas. Di Desa ini, semua disabilitas terdata.

Konsep tersebut dibin bukan hanya untuk beberapa orang, melainkan karena setiap orang kebutuhannya berbeda. Sayangnya, jarang sekali program-program semacam ini kemudian dipahami dan didukung Pemdes. Mendukung pun bukan sekadar mendukung, namun menganggarkan untuk proses pemberdayaan mereka.

Tidak banyak Pemdes yang benar-benar terbuka dan peka pada persoalan sosial di desanya sendiri. Bahkan merangkul warganya untuk berpartisipasi dalam pembangunan di desanya, pun masih menjadi tantangan. Ini baru persoalan pembangunan yang adil bagi semua golongan. Belum lagi persoalan sensitif seperti kekerasan terhadap perempuan, pernikahan anak, dan persoalan sosial lainnya.

Dalam rencana pembangunan jangka menengah desa (RPJM Desa), Tegal Arum bukan hanya menganggarkan sejumlah program inovasi, namun juga program-program yang menyasar kelompok marjinal, perempuan dan pemuda, kelompok adat, serta menganggarkan biaya hidup seluruh kaum Lansia miskin di desanya. Pertengahan tahun 2017, Desa Tegal Arum mendapat juara pada “Lomba Desa” se-Provinsi Jambi.

Banyak hal penting dan inspiratif dari pembelajaran dari sejumlah desa yang tidak sekadar sejahtera, namun juga peka pada persoalan sosial-kemanusiaan di desanya. Apa yang dilakukan Pemdes Tegal Arum juga tidak terjadi secara tiba-tiba. Ada serangkaian proses penguatan perspektif keberpihakan dan penguatan kapasitas pada Pemdes dan warganya.

Perencanaan apresiatif desa (PAD) merupakan salah satu upaya meningkatkan partisipasi masyarakat desa dalam pembangunan di desanya. Hal paling mendasar dari proses perencanaan apresiatif desa ini adalah bagaimana warga dan Pemdes mengenal desanya sendiri, terlibat dalam pembangunan desa, menggerakkan dan merangkul masyarakat, serta mengkaji kondisi desanya dari sisi kewenangan, aset dan potensi desa, kesejahteraan desa, penggalian gagasan kelompok marginal, dan perbaikan pelayanan publik.

Semua proses tersebut dilakukan secara partisipatif. Data-data partisipatif yang dihasilkan warga benar-benar dimanfaatkan oleh desa dalam proses perumusan RPJM Desa, RKP Desa, dan APB Desa berbasis aset dan data usulan kelompok marjinal. Setiap tahapan perencanaan apresiatif desa telah mendorong pemerintah desa semakin partisipatif, transparan, dan akuntabel.

=========

Keterangan Penulis: Alimah Fauzan adalah staf gender Infest Yogyakarta . Artikel ini telah dipublikasikan di GeoTime.

Kolaborasi Pengelolaan Kebun Toga Antara Kelompok Perempuan & Pemuda Desa Tegal Arum

“Ketika pohon terakhir ditebang, Ketika sungai terakhir dikosongkan, Ketika ikan terakhir ditangkap, Barulah manusia akan menyadari bahwa dia tidak dapat memakan uang.”

― Eric Weiner, The Geography of Bliss: One Grump’s Search for the Happiest Places in the World

Kalimat inspiratif yang popular dikutip sejumlah aktivis peduli lingkungan hidup ini, terus terngiang di ruang pikir. Di setiap perjalanan menuju sebuah desa, saya tak henti memerhatikan suasana di kanan kiri jalan dusun. Hadir di sebuah desa berarti tidak sekadar mengenal sumber daya manusia (SDM) penghuni desa, lebih dari itu, ada kekuatan sumber daya alam (SDA) desanya yang juga memiliki peran sentral terhadap keberlangsungan hidup mereka. Belum lagi kekuatan lainnya seperti kekuatan social, kelembagaan, keuangan, infrastruktur, juga spiritual-budaya yang terkadang luput dari perhatian kita.

Ketika datang di sebuah desa yang baru saya kunjungi, hal pertama yang selalu membuat saya penasaran adalah bagaimana aktifitas perempuannya. Saya selalu berkeyakinan, ketika saya mampu menguak kondisi perempuan di sebuah wilayah, maka semua hal penting lainnya akan terkuak dengan mudah. Karena para perempuan biasanya akan bicara tentang banyak hal. Mereka tidak sekadar memikirkan persoalan pribadinya, kebutuhan dasarnya, namun juga anak-anaknya serta lingkungan sosial di sekitarnya. Ia akan bicara mengenai anak-anaknya, usahanya, lingkungannya, dan banyak hal lagi. Namun ini hanya cara saya saja yang paling memungkinkan sesuai kapasitas saya saat berada di desa. Sekilas memang terkesan agak bias sebenarnya, seakan hanya melulu bicara perempuan. Karena sebenarnya, “perempuan” di sini bukan sekadar jenis kelamin, namun juga bisa sebagai “perspektif” dan kunci menguak kehidupan di sebuah tempat atau wilayah.

Nah kali ini, saya ingin berbagi pengalaman saya bersama para perempuan di desa-desa yang pernah saya kunjungi. Dari sejumlah desa tersebut, yang cukup menarik perhatian saya adalah Desa Transmigran Jawa di Propinsi Jambi, tepatnya di Desa Tegal Arum, Kecamatan Rimbo Bujang, Kabupaten Tebo. Tapi di cerita saya kali ini saya akan focus bercerita tentang kebun Toga yang dikelola para perempuan dan pemudanya.

Tegal Arum: Sebuah Nama dan Pengharapan

Desa Tegal Arum adalah salah satu desa transmigran Jawa di Kecamatan Rimbo Bujang, Kabupaten Tebo, Propinsi Jambi. Sebelum cerita tentang kebun tanaman obat keluarga (Toga) di Desa Tegal Arum, sayang sekali jika kita luput mengenal Desa Tegal Arum sendiri. Jadi di bagian ini, mari saya hantarkan untuk sekilas mengenal desanya dulu. Apa yang saya ceritakan di sini berdasarkan pengamatan dan cerita yang digali oleh para pemuda, perempuan, dan perangkat desanya tentang sejarah desa mereka.

Munculnya desa-desa transmigran termasuk Desa Tegal Arum, ini tidak terlepas dari program pemerintah Indonesia yang menginisiasi program transmigrasi di masa Orde Baru (Orba). Program ini dicanangkan oleh Persiden Suharto pada tahun 1977. Animo masyarakat yang ingin mengadu nasib di tanah seberang saat itu begitu banyak untuk ikut dalam program transmigrasi. Menurut hasil penggalian data sejarah Desa Tegal Arum, para warga yang akhirnya tiba di Desa Tegal Arum yang saat itu masih bernama “Unit 5”, mulai berangkat pada Kamis Pon 24 Maret 1977. Rombongan ini berangkat dari berbagai daerah rata-rata naik bus menuju kota Semarang, setelah menginap semalam, esok harinya mereka naik kereta api bertolak menuju Pelabuhan Tanjung Priuk Jakarta. Dari Tanjung Priuk, rombongan transmigrasi kemudian diberangkatkan dengan menggunakan Kapal Vande Bori menuju pelabuhan Teluk Bayur (Padang) dan singgah di Pelabuhan Panjang, Teluk Keceng, Tanjung Karang. Setelah menginap di Padang selama satu malam, kemudian rombongan transmigrasi diberangkatkan kembali menggunakan bus menuju Rimbo Bujang. Setibanya di Rimbo Bujang, rombongan transmigrasi ditampung beberapa waktu untuk menunggu jemputan yang menuju ke arah unit lima dan proses penjemputan menggunakan mobil truk dan setibanya di unit lima pada Selasa Kliwon 5 April 1977 jam 3 sore.

Di antara transmigran yang datang dari Jawa, mereka tersebar di beberapa desa, salah satunya adalah “Unit Lima”, atau yang kini bernama Desa Tegal Arum. Nama Tegal Arum sendiri dihasilkan berdasarkan kesepakatan Musyawarah Desa (Musdes), sebuah forum tertinggi di tingkat Desa. Proses menyepakati nama pun tak hanya sekali dua kali pertemuan kemudian muncullah sebuah nama desa. Tidak, tidak demikian, karena ternyata haru melalui musyawarah panjang dan berkali-kali, belum lagi perdebatan-perdebatan yang cukup kencang tentang nama yang cocok untuk desa mereka. Hingga akhirnya, disepakatilah nama desa yang di “unit lima” ini dengan nama “Tegal Arum”. Makna “Tegal” berarti hutan yang mana pada saat itu masih hutan belantara, sementara “Arum” berarti wangi. Ada banyak beragam mimpi warganya dalam sebuah nama yang tak sekadar nama, namun juga inspirasi dan harapan bagi penghuni desa dan anak cucunya kelak.

Siapa Warga Tegal Arum?

Dalam sejarah munculnya Desa Tegal Arum, saya hanya membahas munculnya nama dan maknanya. Namun sebelum ada kesadaran menyepakati sebuah nama, ada sejarah panjang munculnya desa ini. Menurut para tokoh sejarah maupun tokoh adat yang saat ini masih hidup dan mampu digali informasinya, warga Desa Tegal Arum awalnya adalah sebuah rombongan transmigran. Mereka, para transmigran ini datang ke unit lima (5) yang berasal dari beberapa daerah di Pulau Jawa seperti daerah Pati, Jepara, Tegal, Kebumen, Klaten, Wonogiri, Solo, Yogja, Magelang, Salatiga, dan Purwodadi.

Para transmigran dari sejumlah daerah di Jawa itu terus bekerja keras. Di antara mereka ada yang kembali lagi ke daerah asalnya, namun banyak juga yang tetap bekerja keras dan bertahan hingga sukses sampai sekarang. Kepala Desa sementara yang ditetapkan saat itu adalah bapak Soehadi. Dia adalah pejabat sementara Kepala Desa yang ditunjuk oleh tokoh-tokoh masyarakat pada saat itu. Para tokoh masyarakat itu kemudian berkumpul lagi dan bermusyawarah untuk membahas pemberian nama desa di unit lima, yaitu Desa Tegal Arum seperti yang sudah saya bahas di paragraph sebelumnya.

Mata pencarian warga Desa Tegal Arum pada umumnya adalah petani, tapi itu dulu sebelum PTP masuk dan mengajak masyarakat  untuk menanam karet. Saat ini masih ada beberapa petani di Desa ini, meskipun tidak banyak petani di desa ini, namun pembinaan pertanian di desa ini cukup baik. Artinya tidak mustahil jika jika kelak mereka memproduksi sayuran dan bahan pangan yang baik dan berkualitas.

Dari sekian peristiwa penting lainnya, kini tahun 2017, Desa Tegal Arum yang kini dipimpin oleh Bapak Rohmad Annas sebagai Kepala Desa (Kades), telah mendapatkan penghargaan sebagai Desa Terbaik dalam Lomba Desa mulai dari Tingkat Kecamatan, Kabupaten, hingga Provinsi Jambi. Banyak factor yang membuat Desa ini menjadi Juara dalam Lomba tersebut, namun factor yang cukup penting dari semua factor itu adalah partisipasi wargannya, atau kekompakan warganya dalam membangun desa, serta transparansi dan akuntabilitas pemerintah desanya.

Kolaborasi Pemuda Penggerak Desa dan Kelompok Perempuan.

Di desa Tegal Arum, 80% warganya berkebun, biasanya warga mengelola perkebunan karet dan kelapa sawit. Perkebunan karet ada atau ditaman sejak zaman masuknya transmigrasi kedesa Tegal Arum yang pembibitanya bekerja sama dengan PTP dengan sistem pinjam dengan sertifikat tanah, dan dekaran utang itu udah lunas dan sertifikat sudah dikembalikan. Hampir semua perkebunan karet yang ditanam sudah dalam kondisi rusak, dan sebagian perkebunan sudah ditanami ulang oleh pemiliknya. Ada beberapa hal yang membuat perkebunan rusak, di antaranya terkena jamur akar putih yang terus menyebar tanpa ada pengendalian. Selain itu dikarenakan ketidaktahuan cara pembasmian dan pencegahanya. Sebenarnya hal ini bisa di siasati dengan sosialisasi atau penyuluhan dari PPL melalui kelompok tani, baik itu pemilihan bibit unggul, cara penanaman, cara perawatan dan cara pengendalian hama atau pun jamur yang merusak pohon karet. Sedangkan untuk kelapa sawit permasalahanya pada pemupukan, karena mahalnya pupuk dan kelangkaan pupuk. Untuk mengatasi ini, desa biasanya meminta bantuan pupuk kepada dinas pertanian maupun itansi terkait. Selain itu permasalahanya adalah rendahnya harga jual getah karet, seharusnya hal ini bisa di kendalikan dengan cara membentuk kelompok lelang untuk penjualanya. Karena Perkebunan adalah penghasilan pokok warga Desa Tegal Arum, hasil perkebunan sangat mempengaruhi kebutuhan warga Tegal Arum. Jadi jika perkebunan di desa Tegal Arum ini baik, maka akan meningkat pula penghasilan warganya.

Selain berkebun karet, warga Tegal Arum juga beternak, berkebun singkong, buah naga, dan sejumlah tanaman obat keluarga (Toga). Toga pada umumnya dikerjakan secara berkelompok. Toga adalah tanaman hasil budidaya rumahan yang berkhasiat sebagai obat. Taman obat keluarga pada hakekatnya adalah sebidang tanah, baik di halaman rumah, kebun ataupun ladang yang digunakan untuk membudidayakan tanaman yang berkhasiat sebagai obat dalam rangka memenuhi keperluan keluarga akan obat-obatan. Kebun tanaman obat atau bahan obat dan selanjutnya dapat disalurkan kepada masyarakat, khususnya obat yang berasal dari tumbuh-tumbuhan. Budidaya tanaman obat untuk keluarga (Toga) dapat memacu usaha kecil dan menengah di bidang obat-obatan herbal sekalipun dilakukan secara individual. Setiap keluarga dapat membudidayakan tanaman obat secara mandiri dan memanfaatkannya, sehingga akan terwujud prinsip kemandirian dalam pengobatan keluarga.

Di sejumlah desa pada umumnya, kebun Toga biasanya dikelola oleh kelompok perempuan di desa. Namun kebun di desa ini dikelola secara kolaboratif oleh Pemdes dan warga, khususnya para Pemuda Pemudi Penggerak Desa dan Kelompok Perempuan di Desa ini. Tentang Pemuda Desa Tegal Arum, saya sudah pernah menuliskan kiprah mereka dalam pembangunan desa di laman ini yang berjudul Pemuda Penggerak Desa, Bertani dan Mengabdi . Sementara para perempuan di desa ini, pada umumnya aktif di kegiatan social di desa, di antaranya melalui kegiatan rutin di PKK. Mereka juga sudah menyadari tentang pentingnya kesehatan, serta tentang persalinan yang harus dilakukan di Puskesmas. Selebihnya, mereka aktif dalam kegiatan organisasi keagamaan serta mengembangkan ketrampilan mereka membuat barang-barang yang dimanfaatkan dari bahan-bahan yang ada di desa. Profesi mereka beragam, ada yang sebagai buruh tani, pegawai negeri, pedagang, dan ada juga yang mempunyai keteampilan sebagai penjahit dan makanan ringan. Home Industries  di Desa ini juga sangat membantu pendapatan para perempuan yang bekerja secara penuh di rumahnya, hal ini juga sangat membantu untuk mengurangi angka pengangguran di desa.

Di luar aktifitas rutin mereka terlibat aktif dalam kegiatan yang diinisiasi Pemdes, para perempuan di setiap dusun maupun di tingkat RT pada umumnya mengelola kebun tanaman obat keluarga (Toga). Tahun 2017, kebun Toga di desa ini tidak hanya terdapat di lingkungan RT maupun Dusun, namun kini sudah ada di tingkat Desa. Pengelolaannya Toga pun dilakukan secara partisipatif antara Pemdes dan warganya, terutama kolaborasi yang dilakukan oleh kelompok perempuan dan para pemuda pemudinya. Mereka membentuk kepengurusan, termasuk mengatur siapa yang bertanggung jawab untuk menyiram tanaman tiap pagi dan sore dan seterusnya. Tidak heran, meskipun usia Kebun Toga ini masih tergolong muda, namun tanaman obat di kebun ini cepat sekali tumbuh dan menghijau.

Toga di kebun ini juga sudah mulai dimanfaatkan masyarakat di desa. Kebun yang dibangun di atas Tanah Kas Desa (TKD) ini tidak sekadar kebun Toga, namun juga tempat yang asyik untuk bersantai, selain luas juga ada fasilitas yang asyik, misalnya untuk berdiskusi merencanakan kegiatan dan sejumlah rencana pemanfaatan kebun Toga untuk beragam momen. Kebun Desa Tegal Arum ini terletak tepat di samping Kantor Desa Tegal Arum dan beberapa fasilitas umum lainnya. Kekompakan warga dan pemerintah desa ini cukup mendapat banyak perhatian dan inspirasi dari desa-desa lainnya. Termasuk perhatian dari pemerintah daerah. Tidak heran, Desa Tegal Arum tahun ini menjadi Juara I dalam Lomba Desa mulai dari tingkat Kecamatan, Kabupaten, hingga se-Provinsi Jambi. Desa yang kompak antara Pemdes dan warganya, desa dengan semangat belajar untuk perubahan yang lebih baik lagi, desa yang tidak sekadar kaya data, namun juga partisipatif dan transparan. Saat main ke desa-desa adalah saatnya belajar dari para warganya, termasuk belajar dari Desa Tegal Arum dengan segala kreativitas warganya, produk-produk kreasi warganya, serta beragam aset sosial dan spiritual budayanya.

====

*Tulisan ini berdasarkan pengalaman Alimah Fauzan,  gender specialist di Institute of Education Development, Social, Religious and Cultural Studies (Infest Yogyakarta ) selama melakukan pengorganisasian Perencaaan Apresiative Desa (PAD) di 3 Desa di Kabupaten Tebo, yaitu Desa Tegal Arum, Desa Tirta Kencana, dan Desa Teluk SIngkawang. PAD ini merupakan salah satu tahapan kegiatan yang diselenggarakan Infest Yogyakarta atas kerjasama Pemkab Tebo dan Pemdes Teluk Singkawang, Tegal Arum, dan Tirta Kencana. Program ini didukung oleh Making All Voices Count (MAVC) HIVOS. Keterangan dalam tulisan ini juga berdasarkan informasi dari penuturan dan data sejarah desa yang tertuang dalam dokumen rencana pembangunan jangka menengah desa (RPJMDesa) Tegal Arum. 

Cerita Semangat Pembaharuan Desa dari Kabupaten Tebo

Cerita Semangat Pembaharuan Desa dari Kabupaten Tebo

Cerita Semangat Pembaharuan Desa dari Kabupaten Tebo

 

“Sebelumnya kami itu tidak pernah dilibatkan dalam hal apa pun terkait pembangunan desa”.

Ungkapan ini diucapkan oleh Toyyibah, perempuan Desa Teluk Singkawang Kecamatan Sumay Kabupaten Tebo. Toyyibah menceritakan tentang perencanaan pembangunan di desanya yang tidak pernah mengakomodir usulan-usulan dari perempuan.

Menurut Toyyibah, perencanaan pembangunan desa sebelumnya selalu didominasi oleh laki-laki dan hanya dibahas oleh pemerintah desa dan BPD. Perempuan baru mulai dilibatkan setelah desanya melakukan perencanaan apresiatif desa.

“Sekarang, aspirasi dari kami sebagai perempuan sudah diterima, kegiatan kami untuk melakukan daur ulang sampah juga sudah didanai oleh desa,”

kata Toyyibah, saat kegiatan refleksi perencanaan apresiatif desa, Rabu (14/6).

Cerita lain tentang Desa Teluk Singkawang juga diungkapkan oleh Sari Yudillah, pemudi Desa Teluk Singkawang. Sari yang sebelumnya tidak tahu apa-apa tentang desa, kini dengan mudah bisa mengakses informasi tentang pembangunan yang dilakukan oleh desanya.

“Saya jadi tahu kalau pembangunan desa itu meliputi empat bidang, sekarang ini jadi lebih banyak masyarakat yang terlibat aktif,” ungkapnya.

Kemudahan dalam akses informasi menjadi jembatan bagi masyarakat untuk berpartisipasi dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunan desa. Ari Rudiyanto, pemuda Desa Tegal Arum Kecamatan Rimbo Bujang, bahkan kini lebih memilih mendedikasikan hidupnya untuk desa dan meminggirkan keinginannya untuk bekerja di luar daerah, setelah tahu desanya memiliki potensi yang besar.

“Awalnya itu saya tidak tahu apa-apa tentang desa, saya tidak mengenali dan bahkan saya tidak tertarik dengan desa saya sendiri. Tapi setelah ikut dalam perencanaan apresiatif desa, saya menjadi tahu kalau desa ini memiliki potensi yang sangat besar. Ini menjadikan saya cinta dengan desa saya sendiri dan saya merasa peduli untuk terlibat dalam pembangunan desa,” ungkap pemuda yang baru setahun lulus kuliah ini, Kamis (15/6).

Desa Tegal Arum bahkan dikagetkan dengan satu fakta yang mereka temukan dalam kegiatan pemetaan aset dan potensi desa. Mereka tidak pernah menyangka kalau ternyata desanya memiliki aset tanah desa seluas 40 Hektare.

“Kami itu baru tahu kalau ternyata Desa Tegal Arum punya tanah aset desa seluas 40 Hektar. Dari dulu belum pernah tercatat, padahal kan bisa dimanfaatkan untuk pendapatan asli desa,” kata Rahmat Annas, Kepala Desa Tegal Arum.

Keterlibatan aktif masyarakat tidak hanya terbatas pada perencanaan dan pelaksanaan pembangunan, pengawasan pun mereka lakukan untuk memastikan pembangunan dan program yang dikerjakan tepat sasaran dan bermanfaat bagi masyarakat.

Sofiyanti, perempuan Desa Tirta Kencana Kecamatan Rimbo Bujang mengungkapkan, saat ini masyarakat di desanya menjadi lebih kritis pada pembangunan yang dilakukan desa. “Masyarakat, terutama perempuan di Tirta Kencana sekarang jadi lebih kritis. Waktu ada pembangunan jembatan itu mereka nanya-nanya tentang pelaksanaannya, besaran anggaran dan sumbernya dari mana,” kata Sofi, ketika melakukan kegiatan refleksi perencanaan apresiatif desa, Kamis (15/6).

Pengalaman-pengalaman dari tiga desa di Kabupaten Tebo ini juga dipaparkan di hadapan Pemerintah Kabupaten Tebo, dalam kegiatan Workshop Refleksi Pembelajaran “Sekolah Pembaharuan Desa”, pada Jumat (16/6) di Komplek Perkantoran Kabupaten Tebo.

Syahlan Arpan, Wakil Bupati Tebo yang hadir dalam acara ini, mengungkapkan harapannya agar tiga desa yang telah melakukan perencanaan apresiatif desa bisa dijadikan model untuk diaplikasikan oleh desa-desa lain di Kabupaten Tebo.

“Paling tidak kita mulai dulu dari satu desa untuk setiap kecamatan menjadi desa percontohan, ke depannya jadi bisa secara keseluruhan. Kalau perlu ya kita anggarkan,” ungkapnya.

Menurut Syahlan, perencanaan apresiatif desa yang disampaikan juga menjadi hal penting bagi Pemerintah Kabupaten dalam menyusun Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten (RPJMK).

“Masukan-masukan seperti ini nanti dari masing-masing OPD (Organisasi Pemerintahan Daerah) terkait, tolong untuk bisa membahasnya, karena ini penting juga dalam penyusunan RPJMK,” pungkasnya.

 

Penulis: Yudi H

Sungaiku Sayang, Sungaiku Malang

Penambangan emas secara membabi buta menghancurkan semuanya, sungai dikeruk pasirnya sehingga terjadi pendangkalan, tempat bertelur bagi ikan rusak, yang ada hanya gurun pasir di mana-mana. Orang kami menyebut tempat ikan sebagai Lubuk, sudah tidak ada. Belum lagi saat kemarau, tangan-tangan jahil dari warga kami meracuni ikan, yang hampir tiap kemarau tiba selalu hal yang sama mereka lakukan, lalu kapan ikan akan berkembang. Namun setelah pemetaan aset dan potensi desa, kami mulai berbenah, salah satunya dengan pelibatan dan penguatan lembaga adat di desa kami.

Ditulis oleh Agus Hariyanto*

Sungai adalah sumber kehudipan bagi berbagai jenis biota air tawar yang ada di dalamnya, kelestarian ekosistem air akan sangat berpengaruh bagi kehidupan hewan air dan masyarakat pemanfaat hasil dari air. Desa kami dilintasi sungai terbesar dan terpanjang di Kecamatan Rimbo Bujang, yang menurut para pendahulu kami diberi Nama “Sungai Alai”. Sungai ini berhulu diperbatasan Provinsi Sumatera Barat membelah kecamatan Rimbo Ulu, Kecamatan Rimbo Bujang, Kecamatan Rimbo Ilir dan berhilir di Kecamatan Tebo Tengah (yang merupakan Ibu Kota kabupaten Tebo).

17362678_1386549034700731_574373894546531228_n

Kondisi sungai Alai (foto oleh David)

Dahulunya sungai ini dijadikan sebagai sarana transportasi bagi PT. ALAS, perusahan HPH yang memanfaatkan hasil hutan sebelum dijadikan sebagai tempat transmigrasi bagi orang tua kami. Sungai ini dijadikan oleh perusahan tersebut untuk mengangkut kayu alam dari hulu sungai alai kehilir dengan cara menyatukan kayu LOG menjadi sebuah perahu. Selain itu juga sebagai rumah bagi para pekerja sebelum sampai kesungai besar (Batang Tebo) kemudian ke Sungai Batang Hari hingga sampai ke Soumel pengolah kayu.

“Jangan ditanya soal ikan sungai ini, dahulunya sangat berlimpah,” ungkap Sriyanto, salah seorang eks pekerja PT. ALAS.

“Ketika membawa kayu melalui sungai alai, ikan sering melompat keatas kayu rakitan yang mereka kendarai, tinggal ambil dan dijadikan santapan sehari-hari selama berada diatas kayu rakitan tersebut,” paparnya pelahan.

Bahkan, lanjutnya, masyarakat adat setempat (Suku Anak Dalam) jika mencari ikan tidak menggunakan kail, tetapi hanya menggunakan sebuah rotan yang diberi umpan dengan seekor katak, tinggal tunggu sebentar saat ikan kelihatan akan memakan umpan kemudian mereka menggunakan sebuah tumbak sebagai penangkapnya. “Mudah sekali bukan?”.

Pelibatan dan Pengatan Lembaga Adat

20170214gdfgfg

Kondisi sungai alai

Kini, apa daya, akibat Peti dan ilegal Fishing membuat semuanya hanya menjadi cerita menjelang tidur bagi anak cucu nanti. Penambangan Emas secara membabi buta menghancurkan semuanya, sungai dikeruk pasirnya sehingga terjadi pendangkalan, tempat bertelur bagi ikan rusak, yang ada hanya gurun pasir dimana-mana. Orang kami menyebut tempat ikan sebagai Lubuk, sudah tidak ada. Belum lagi saat kemarau, tangan-tangan jahil dari warga kami meracuni ikan, yang hampir tiap kemarau tiba selalu hal yang sama mereka lakukan, lalu kapan ikan akan berkembang.

Tahun 2016, semenjak ada Tim Pembaharu Desa (TPD) yang memetakan aset dan potensi desa, kami mulai bergerak menyusun strategi pelestarian sungai dengan berbagai cara. Salah satunya adalah dengan pelibatan dan penguatan Lembaga Adat. Kami mulai pelajari potensi dan tantangan-tantangannya, berbagai pihak kami ajak musyawarah demi penyelamatan sungai. Maka, kami bentuk lembaga adat yang mengurusi khusus tentang sungai, yang anggotanya adalah para penambang emas tanpa ijin (PETI) dan para Pelaku Ilegal Fishing. Setiap pelanggaran akan dikenakan sanksi adat dan sanksi pidana. Mulai dari sungai-sungai kecil di desa Tirta Kencana untuk tahun 2017, yang diharapkan kedepannya dapat berkembang sampai kepada pelestaraian sungai Alai yang kondisinya sudah cukup parah.

Strateginya adalah pembuatan keramba apung di sepanjang sungai desa Tirta Kencana. Pengawasan dilakukan oleh Pemdes dan Masyarakat, pelaksanaan kegiatan ini dilakukan oleh Lembaga Adat yang membidangi sungai. Berhasilkah program ini, kami sangat optimis jika program ini dilaksanakan dan diawasi secara benar, maka bukan tidak mungkin pasti tercapai.

==========

Keterangan Penulis:

*Catatan pembelajaran ini ditulis oleh Agus Hariyanto, salah satu warga sekaligus Koordinator Tim Pembaharu Desa (TPD) Tirta Kencana, Kecamatan Rimbo Bujang, Kabupaten Tebo, Jambi. Agus juga menjadi pendamping lokal Desa Tirta Kencana dalam proses perencanaan apresiatif desa, salah satu kegiatan dari program kerjasama antara Institute for Education Development, Social, and Religious Studies (Infest), Pemdes dan Pemda Tebo. Selain Desa Tirta Kencana juga ada Desa Tegal Arum dan Teluk Singkawang yang didampingi Infest Yogyakarta yang telah membentuk tim pembaharu desa (TPD) untuk Perencanaan Apresiatif Desa (PAD). Program ini didukung oleh Making All Voices Count (MAVC) HIVOS.

Sumber gambar: sungai alai,

 

Ketika Warga Transmigran Mulai Menggali dan Menulis Sejarah Desanya

Sekarang kami mulai paham bahwa dulunya kami (warga transmigran) ini hanya ada 496 kepala keluarga (KK) dari semua pelosok penjuru Jawa. Kami juga kini mengetahui jika dulu para orang tua kami sangat prihatin selama dua tahun. Mereka hanya makan beras dan teri jatah dari pemerintah. Kami juga tahu, dulu ada masalah kelapran pada tahun 1979 karena jatah sudah habis dan tanaman padi puso. Kami juga kini mengetahuai jika dulu para orang tua kami dulu hanya berjalan kaki berpuluh-puluh kilo meter hanya untuk mencari bibit singkong. Kami juga tahu bahwa tidak sedikit para leluhur yang meninggal karena tertimpa pohon, ada juga yang dimakan harimau, dan digigit ular. Dan kini, kami sangat sadar bahwa kami harus lebih menghormati mereka, karena semua yang terbangun saat ini adalah buat kerja keras mereka, para pendahulu kami.

(Rohmad Annas, Kades Tegal Arum, Kec. Rimbo Bujang, Kab. Tebo, Provinsi Jambi, 24/02/17)

Kalimat terahir Kades Tegal Arum, Rohmad Annas secara jelas mengingatkan dirinya, warganya, bahkan semua orang untuk jangan sekali-kali melupakan sejarah. Kalimat yang sangat akrab bagi masyarakat Indonesia, karena pernah didengungkan oleh Presiden Pertama Indonesia, Soekarno. Kini, kalimat tersebut terus menerus dikutip di banyak pernyataan seseorang untuk mengingatkan betapa pentingnya sejarah. Termasuk bagi warga transmigran yang kini bisa dikatakan telah sukses atau berhasil menaklukan tempat yang awalnya sangat asing bagi mereka. Lalu mengapa masyarakat di desa perlu menelusuri, menggali, hingga menulis sejarah desanya? Karena sejarah adalah aset yang berharga bagi desa dan masyarakatnya. Lebih dari itu, menulis sejarah tidak sekadar mengingat kembali detail waktu kejadian di masa lalu, namun berusaha mencoba menulis sejarah baru.

Apa yang sudah diungkapkan Kades Tegal Arum hanyalah cerita singkat dari sekian banyaknya fakta tentang desanya. Saat saya menyebut mereka telah sukses, bagi saya memang benar mereka telah sukses. Kekuatan memelihara ketekunan mereka tidak hanya berhenti pada satu dua generasi, namun secara terus menerus diwariskan pada anak-anaknya. Mereka adalah para pemuda desa yang tidak mengenal rasa malu atau sungkan untuk berperan di ranah publik maupun domestik. Bahkan peran-peran sosial dapat secara bersamaan mereka lakukan dengan peran-peran lainnya. Seperti yang pernah saya tulis di laman ini tentang Pemuda Penggerak Desa Tegal Arum.

Desa Tegal Arum adalah salah satu desa dampingan Infest Yogyakarta di Kabupaten Tebo yang tengah berupaya mewujudkan perencanaan apresiatif desa dalam proses pembangunan di desanya. Selain Desa Tegal Arum, ada juga Tirta Kencana, dan Desa Teluk Singkawang yang juga tengah menelusuri dan terus menggali potensi desanya. Salah satunya dengan menulis tentang sejarah desanya. Ketiga desa ini sama-sama memiliki aset dan potensi yang bisa jadi baru mereka sadari betapa kayanya mereka. Di Teluk Singkawang misalnya, di sana ada sebuah candi dan sejumlah warisan nenek moyangnya.

Menggali Informasi Langsung dari Pelaku Sejarah

Dalam suatu wawancara yang bertujuan memetakan aset dan potensi desa, salah seorang tim pembaharu desa (TPD) Tegal Arum pernah merasakan kesulitan menjawab pertanyaan warga. Saat itu pertanyaannya adalah tentang batas wilayah. Ini hanya salah satu hal yang kemudian membuat TPD bersama pemerintah desa merasa penting untuk lebih mengenal tentang desanya dengan menelusuri sejarah desanya. Selain kisah dari TPD ini, cerita lain juga muncul dari Kades Tegal Arum, tentang kali pertama dia menyadari tentang pentingnya menggali sejarah desa dan menuliskannya.

“Awalnya, pada suatu sore saat saya silaturrahmi ke tempat mbah Makmur. Di sana saya lihat ada papan berukuran 30 cm persegi dengan tulisan huruf Jawa Aseli. Karena pensaran, akhirnya saya bertanya apa arti dan tujuannya. Beliau menjawab, ini adalah prasati bukti pertma kali kami serombongan setelah 2 minggu di perjalanan akhirnya sampai di sini (di Tebo, Jambi). Dan sore itu, ibarat petunjuk bagi saya sendiri. Malam harinya, seperti biasa kami berkumpul bersama pemuda dan menyampaikan kepada mereka bahwa kita perlu mencari tahu sejarah desa kita, sebelum para pelaku sejarah semuanya tiada,” papar Rohmad Annas pada Kamis (24/02/17).

Para pelaku sejarah Desa Tegal Arum

Para pelaku sejarah Desa Tegal Arum

Gayung bersambut, para pemuda desa pun sepakat dengan gagasan Kadesnya. Sejak itu, mereka pun berbagi peran dan segera menyebar menelusuri, menggali, dan mulai menghimpun data-data tentang desanya. Setelah data terkumpul, Pemdes mulai mengumpulkan para pelaku sejarah dengan mengundang mereka untuk menggali lebih jelas lagi kebenaran informasi yang mereka dapatkan. Semacam melakukan verifikasi data-data dari yang telah mereka dapatkan kepada pelaku sejarahnya langsung.

“Hal ini penting kami lakukan agar informasi yang kami terima tidak hanya dari individu-individu tertentu dengan kebenaran sepihak saja. Ini penting bagi kami untuk diwariskan pada generasi berikutnya,” tandasnya.

Hal serupa juga diungkapkan tim pembaharu desa (TPD) Tirta Kencana, Agus Putra Mandala. Pada waktu yang hampir bersamaan, Desa Tirta Kencana juga tengah menggali sejarah desanya. Mengetahui sejarah desa juga menjadi sangat penting karena dalam dokumen RPJMDesa mereka harus memberikan informasi tentang profil desanya.

“Kami undang salah satu tokoh pendiri desa yang waktu itu sebagai pegawai UPT (Transmigrasi) Kemudian kami minta beliau bercerita tentang Desa Tirta Kencana. Dari mulai berdiri sampai luasan tanah “R”, serta rencana apa dari para pendiri yang bisa kami lakukan terhadap mimpi mereka. Dan ternyata, tanah “R” kami sangat luas yg menurut mimpinya pendiri desa akan dijadikan sebagai kantor Kabupaten pemekaran atau setidaknya Bandara,” demikian Agus yang secara pribadi mengaku kaget dengan informasi yang baru diketahuinya.

Tantangan dan Manfaat Menggali Sejarah Desa

Kendati warga baru menyadari tentang betapa pentingnya sejarah desa mereka, namun selama proses penggalian informasi, mereka mengaku tidak mengalami banyak kendala. Seperti yang diungkapkan oleh Ari Rudiyanto, salah satu TPD Tegal Arum.

“Tidak begitu banyak kendala, hanya saja dalam menggali sejarah desa, hanya saja dari mereka (pelaku sejarah) bercerita berdasarkan dari ingatan mereka. Karena faktor usia, maka terkadang ada beberapa peristiwa yang mereka lupa. Sehingga kita kemarin juga harus membuat pertanyaan-pertanyaan untuk memancing daya ingat mereka tentang peristiwa-peristiwa penting yang mereka alami dan saksikan,” ungkap Ari.

Kendala lainnya kemudian adalah bagaimana mereka melalui tahap penulisan dan analisa hasil penggalian data tentang sejarah desanya. Dalam hal ini, bisa jadi mereka membutuhkan penguatan kapasitas tersendisi khusus penulisan sejarah desa. Sehingga data sejarah desa juga akan sangat bermanfaat dalam proses penyusunan dokumen rencana pembangunan jangka menengah desa (RPJMDesa). RPJMDesa merupakan  dokumen perencanaan pembangunan yang  berfungsi acuan utama pelaksanaan  pembangunan desa untuk kurun waktu 6 (enam)  tahun. Di mana salah satu langkah dari penyusunan RPJMDesa adalah penggalian databese desa meliputi profile desa, penelusuran sejarah desa, memetakan aset  desa, membangun mimpi desa, strategi  pengembangan aset dan menganalisa,  menyusun program dan kegiatan RPJMDesa.  Selebihnya, sejarah desa akan lebih baik jika ditulis dan dibukukan dan menjadi dokumen penting bagi desa.

=========

Catatan pembelajaran ini ditulis oleh Alimah, Gender Specialist Institute for Education Development, Social, and Religious Studies (Infest).  Desa Tegal Arum, Tirta Kencana dan Teluk Singkawang adalah desa dampingan Infest Yogyakarta yang telah membentuk tim pembaharu desa (TPD) untuk Perencanaan Apresiatif Desa (PAD), salah satu tahapan kegiatan yang diselenggarakan Infest Yogyakarta atas kerjasama Pemkab Tebo dan Pemdes Teluk Singkawang, Tegal Arum, dan Tirta Kencana. Program ini didukung oleh Making All Voices Count (MAVC) HIVOS.

 

 

Tiga Desa di Kabupaten Tebo Rumuskan RPJMDesa Berbasis Potensi dan Aset

“Sebenarnya kami berharap warga tidak hanya mengusulkan pembangunan fisik. Tapi lagi-lagi warga lebih banyak yang mengusulkan pembangunan fisik dari pada pelatihan-pelatihan misalnya.”

“Dalam penyusunan RPJMDesa, kami sebelumnya memang kopi paste dari desa lain dan hanya dikerjakan beberapa orang saja yang ada di desa. Tim 11 juga selama ini tidak semuanya memahami bagaimana menyusun RPJMDesa”

“Kami bingung bagaimana memasukkan data-data yang sudah ada ini dalam menyusun RPJMDesa”

Pernyataan-pernyaatan tersebut hanya beberapa dari sekian kegelisahan warga dan pemerintah desa, khususnya mereka yang masuk dalam tim penyusun Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDesa). Di pertengahan tahun 2016, tiga desa di Kabupaten Tebo, Provinsi Jambi, yaitu Desa Tegal Arum, Tirta Kencana, dan Teluk Singkawang, telah melakukan tahapan kegiatan tindak lanjut untuk penrencanaan apresiatif desa. Hasilnya, kini mereka telah menghasilkan data-data yang sangat bermanfaat bagi proses pembangunan di desanya, khususnya sebagai bahan rujukan penyusunan dokumen RPJMDesa secara partisipatif.

Dalam proses perencanaan pembangunan, saat ini desa pada umumnya masih menggunakan dalam cara pandang lama selalu menitikberatkan pada  analisa masalah sebagai cara awal merumuskan  program/kegiatan desa. Ada yang menyebut  analisa masalah dengan metode teknikalisasi  masalah. Teknikalisasi masalah kurang lebih  diartikan sebagai cara mencari dan merumuskan  masalah-masalah yang muncul di desa sebagai dasar pengambilan keputusan atas perencanaan  program/kegiatan prioritas pembangunan desa  untuk satu periode tertentu. Teknik ini sering  diterapkan dalam kegiatan-kegiatan seperti  musyawarah pembangunan desa  (Musrenbangdes) penyusunan Rencana  Pembangunan Jangka Menengah Desa  (RPJMDesa) dan Rencana Kerja Pemerintah  Desa (RKP Desa).

Analisa masalah juga yang selama ini digunakan oleh desa-desa di Kabupaten Tebo. Namun tahun ini Infest Yogyakarta bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Tebo dan Pemdes Teluk Singkawang, Tegal Arum, dan Tirta Kencana, mulai merumuskan perencanaan pembangunan berbasis aset dan potensi. Proses perumusan tersebut pada dasarnya telah dimulai di pertengahan tahun 2016 melalui tahapan kegiatan perencanaan apresiatif desa sekitar Mei-Desember 2016. Dalam tahapan kegiatan tersebut, warga, Pemdes, dan semua perwakilan stakeholder di desa terlibat dalam pemetaan aset dan potensi desa, kewenangan desa, kesejahteraan desa, survei layanan publik, dan penggalian usulan atau gagasan kelompok marginal.

Jpeg

Peserta Workshop Penyusunan RPJMDesa sedang memetakan tantangan-tantangn mereka dalam proses penyusunan RPJMDesa

Data-data yang dihasilkan warga secara partisipatif selanjutnya dimanfaatkan sebagai bahan rujukan perumusan RPJMDesa berbasis aset dan potensi. Proses pembelajaran ini dilakukan oleh tiga desa dalam Workshop Penyusunan RPJMDesa Berbasis Aset dan Potensi yang diselenggarakan oleh Infest Yogyakarta, pada Sabtu-Minggu (11-12/02/2017) . Kegiatan yang dilaksanakan di Desa Tegal Arum tersebut diikuti oleh perwakilan dari 3 Desa baik Tegal Arum, Tirta Kencana, maupun Teluk Singkawang. Peserta di antaranya adalah tim penyusun RPJMDesa (Tim 11), perwakilan Pemdes, dan Pemkab dari Dispermasdes Kabupaten Tebo.

Dalam workshop penyusunan RPJMDesa berbasis aset dan potensi, peserta lebih banyak melakukan simulasi penyusunan RPJMDesa. Kendati demikian tidak lagi mulai menyusun dari awal, namun hanya melakukan perbaikan sehingga menghasilkan RPJMDesa Perubahan yang berbasis aset. Dalam prosesnya memang tidak mudah mengubah pemahaman peserta yang terbiasa dengan proses penyusunan RPJMDesa. Termasuk pengalaman tim penyusun RPJMDesa dari Desa Teluk Singkawang, Habibi Kamil, proses perbaikan RPJMDesa ini tidak bisa diselesaikan secara singkat. Apalagi selama ini di desa terbiasa merumuskan RPJMDesa oleh beberapa orang saja. Sementara untuk menggali usulan biasanya hanya berbasis usulan hasil Musdus. Sehingga butuh waktu lama menganalisa data-data yang telah dihasilkan warga secara partisipatif.

Dari proses workshop penyusunan RPJMDesa, masing-masing desa merumuskan rencana kegiatan tindak lanjut untuk menyelesaikan penyusunan RPJMDesa, Musdes perumusan prioritas program, sampai Penetapan RPJMDesa. Selanjutnya, jika RPJMDesa telah ditetapkan, maka tim penyusun akan mulai menyusun RKPDesa dan APBDesa.

Perbedaan RPJMDesa Berbasis Masalah dan Berbasis Aset?

Jpeg

Peserta workshop mendiskusikan rencana penyusunan RPJMDesa

Di awal proses pembelajaran, warga dan Pemdes memang belum sepenuhnya memahami apa itu perbedaan RPJMDesa berbasis masalah yang selama ini mereka terapkan dengan berbasis aset. RPJMDesa berbasis aset dan potensi desa merupakan sebuah pendekatan yang ditawarkan Infest Yogyakarta. Pendekatan ini juga yang telah diterapkan di sejumlah desa dampingan Infest Yogyakarta baik di Jawa maupun luar Jawa. Pendekatan berbasis aset ini juga yang digunakan dalam modul panduan perencanaan apresiatif desa yang disusun dan diterbitkan oleh Infest Yogyakarta.

Latar belakang munculnya pendekatan apresitif salah satunya karena pendekatan masalah yang selama ini diterapkan di desa, hanya sekadar menampung banyak keluhan permasalahan desa. Tapi di sisi  lain melupakan bahwa di balik permasalahan ada  kekuatan, bahkan ada peluang kemudahan.  Kita lebih sering melihat sisi kelemahan tapi lupa  bahwa di sisi yang lain kita memiliki kekuatan,  mempunyai aset berharga yang apabila  dioptimalkan maka aset terbut akan berubah jadi  energi perubahan. Di sinilah arti penting  mengimbangi analisa masalah dalam  perencanaan pembangunan desa dengan  pendekatan aset. Dengan pendekatan aset kita  dilatih untuk lebih menghargai kondisi dan  prestasi desa secara positif.

Borni Kuriniawan, dalam Modul Perencanaan Apresiatif Desa, Infest Yogyakarta.

Borni Kuriniawan, dalam Modul Perencanaan Apresiatif Desa, Infest Yogyakarta.

Jadi, pendekatan berbasis aset ini mengapresiasi bahwasananya di tengah sejumlah masalah, sejatinya masih ada aset baik dalam  bentuk fisik maupun non fisik yang perlu  diapresiasi, hingga baik untuk dijadikan motivasi  untuk mendorong perubahan desa menjadi lebih  baik. Maka, Infest Yogyakarta menawarkan pendekatan apresiatif ini sebagai model perencanaan pembangunan desa yang tidak hanya mengumpulkan  masalah tapi juga menghimpun aset dan potensi yang desa miliki. Dengan kata lain pendekatan  pesimistis harus diimbangi dengan pendekatan optimistik. Jadi, prioritas program  pembangunan desa yang direncanakan dalam RPJMDesa dan RKPDesa tidak hanya  mencerminkan permasalahan desa semata, tapi proyeksi rencana pembangunan yang  didasarkan pada perhitungan dan analisa kekuatan yang ada di desa (strength based approach).  Kekuatan-kekuatan tersebut bisa berasal dari aset tangible seperti sumber daya alam dan  sumber daya fisik dan berasal dari aset intangible seperti aset sosial, budaya, dan ekonomi  desa.[]

Pemuda Penggerak Desa: Bertani dan Mengabdi

“Bekerja sebagai petani, mungkin sebagian orang berpikir bahwa pekerjaan yang rendah, pekerjaan orang desa, kotor dan lain sebagainya. Tapi bagi saya bekerja sebagai petani itu luar biasa. Jika dilihat dari segi penghasilan, sebenarnya petani dengan PNS tidak beda jauh. Hanya saja seragam yang membedakannya. Petani adalah pahlawan bangsa. Ya, ungkapan itu cukup tepat meskipun terkesan berlebihan. Bagaimana tidak, jika semua orang tidak mau menjadi petani khususnya orang Tebo, terus dari mana material pembuatan ban motor, mobil mau dari mana? Apakah kita mau impor lagi? Ini hanya contoh kecil saja.”
(Ari Rudiyanto, Pemuda Penggerak Desa Tegal Arum)

Suatu hari saya merasa takjub dengan semangat para pemuda dan pemudi di beberapa desa di kabupaten Tebo, Jambi. Semangat mereka untuk membangun desanya dan menggerakkan warga di desa. Semangat mereka untuk belajar tentang bagaimana membangun desa bersama Pemdes dan warga. Semangat yang jarang saya temukan sebelumnya di desa-desa yang pernah saya kunjungi, bahkan termasuk desa kelahiran saya. Tulisan ini juga bukan untuk membahas soal desa saya yang ditinggalkan para pemuda dan pemudinya untuk keluar kota atau bermigrasi. Namun tentang para pemuda yang terus semangat, peduli dan rendah hati mengabdi dan membangun desanya. Mereka adalah para pemuda di beberapa desa di kabupaten Tebo, Jambi.

Mengajar, Bertani, dan Mengabdi untuk Desa

15079077_10202654984973945_8071131794197070112_n

Ari bersama beberapa pemuda penggerak desa. Ari berdiri paling belakang dengan syal di lehernya. Kades Tegal Arum yang membawa kertas bertuliskan “I Love Tegal Arum”. (Sumber foto: Facebook Ari)

Dalam sejumlah kunjungan ke beberapa desa, saya pernah bertanya pada pemuda desa di daerah transmigran. Saya hanya sekadar ingin tahu, maka pertanyaan saya pun sederhana, “Apa saja aktifitasmu di desa?”. Dari sekian jawaban mereka, yang sama adalah aktifitas mereka membantu orang tua mereka di kebun. Ada beberapa di antaranya adalah bekerja sebagai guru. Rutinitas hariannya, setiap pagi sebelum berangkat mengajar, mereka menyempatkan diri dulu ke kebun membantu kedua orang tua mereka bertani atau berkebun. Begitu pun pemuda yang bekerja sebagai perangkat desa, maka pagi buta sebelum ke kantor desa, mereka biasanya akan ke kebun terlebih dahulu, atau usai bekerja dari kantor desa atau mengajar, maka mereka akan menyempatkan diri ke kebun. Waktu luang selain mengajar dan bertani adalah berkumpul bersama komunitas pemuda dan komunitas lain di desanya. Mereka berkumpul bukan sekadar ketika ada kegiatan yang bersifat seremonial, lebih dari itu mereka berbagi gagasan dan merancang perubahan yang lebih baik untuk desanya.

Dari sekian pemuda itu, ada salah satu pemuda desa bernama Ari Rudiyanto (23 tahun). Aktifitas rutinnya di desa sama seperti yang sudah saya paparkan, yaitu berkebun, mengajar di salah satu sekolah, dan mengabdi di desanya sebagai pemuda penggerak desa. Dia lahir di Desa Tegal Arum, Kecamatan Rimbo Bujang, Kabupaten Tebo, Provinsi Jambi. Sebagai pemuda desa, jika dia mau, maka sebenarnya dia memiliki banyak pilihan untuk ke luar dari desanya dan mengepakkan ‘sayap’-nya sejauh yang dia inginkan. Karena sebenarnya dia memiliki kapasitas lebih dari apa yang dia lakukan saat ini di desanya. Dia lulusan sarjana strata 1 (S1) Kimia dari salah satu perguruan tinggi swasta, Universitas Islam Indonesia (UII) di Kota Yogyakarta. Dia juga tidak kurang mendapatkan tawaran pekerjaan. Namun, dia memilih tetap di desa, mengajar, bertani, dan mengabdi menggerakkan desanya. Bertani dan Mengabdi, karena mengajar juga bagian dari pengabdian.

Kembali ke Desa dan Membangun Desa

Ari hanya satu dari sekian pemuda di desa yang masih memiliki semangat mengabdi dan memberdayakan warga desanya. Di desanya, pemuda-pemudi seusianya begitu bersemangat belajar tentang desanya, termasuk kepala desanya sendiri adalah seorang pemuda desa yang penuh semangat belajar dan melakukan perubahan. Mereka begitu antusias belajar tentang perencanaan apresiatif desa, salah satu tahap kegiatan dari program yang diselenggarakan oleh Institute of Education Development, Social, Religious and Cultural Studies (Infest) Yogyakarta, atas kerjasama Pemkab Tebo dan Pemdes Tegal Arum. Di Rimbo Bujang, selain Tegal Arum, desa dampingan lainnya adalah desa Tirta Kencana, sementara desa lainnya adalah desa Teluk Singkawang, kecamatan Sumay.

Di masing-masing tiga desa tersebut, yang membuat saya takjub adalah semangat para pemuda-pemudi dan para ibu di desa. Sebagai pemuda yang memiliki gelar dari perguruan tinggi, Ari mengaku pernah memiliki pemikiran untuk bekerja dengan gaji di atas rata-rata. Namun di akhir studinya, dia sempat merenungkan pemikirannya sendiri untuk kembali lagi ke desa.

“Saya memutuskan untuk pulang meskipun sebenarnya ada beberapa lowongan di beberapa daerah seperti di Tangerang dan Kalimantan. Ketika saya memutuskan untuk pulang, saya sebelumnya memang tak punya pandangan mau kerja apa di desa nanti. Karena di desa tidak ada pekerjaan yang sesuai dengan latar belakang pendidikan saya,” ungkap Ari pelahan.

“Saya hanya punya tekad ingin ikut membantu membangun desa. Akan tetapi waktu itu saya belum paham mau memulainya dari mana? Tapi saya tetap bergerak membantu sebisa saya. Ketertarikan saya ikut terjun dalam kegaitan di desa berawal ketika saya kuliah kerja nyata (KKN). Waktu itu program saya adalah membuat pupuk cair organik. Ketika saya sedang sosialisasi program, saya dibuat bengong oleh kelompok tani di desa tersebut. Ternyata mereka lebih paham dari pada saya. Dari situ saya berpikir, kenapa desa saya tidak bisa seperti ini?”.

Wong Isin Kui Bakal Ngeleh

Berawal dari pengalaman tersebut, Ari pun memilih kembali ke desanya dan bertekad untuk turun tangan membangun desanya melalui Pemuda Penggerak Desa. Kendati demikian, dia sadar belum memiliki pengalaman bagaimana membangun desanya, maka “memulai” bergerak dan belajar dari nol adalah jawaban paling tepat saat itu. Sampai akhirnya dia secara resmi menjadi seorang guru, dia sadar tantangan berikutnya adalah membagi waktu ketiga jenis aktifitas di tempat yang berbeda.

“Jam 06.00 pagi sampai jam 07.30, saya membantu orang tua di kebun, jam 08.00 sampai jam 2 saya mengajar, jam 03.00 sampai jam 10.00 saya mulai membantu kegiatan di desa. Setiap hari ya seperti itu. Kenapa saya masih mau berkebun? Karena di pagi hari saya masih memiliki waktu cukup luang, dari pada bangun tidur siang, lebih baik saya membantu orang tua saya sekaligus sebagai balas budi saya dan wujud bakti saya kepada orang tua. Meskipun tidak banyak yang bisa saya lakukan setidaknya bisa sedikit meringankan. Kata orang jawa “wong isin kui bakal ngeleh” (orang yang malu/gengsi itu bakal lapar),” papar Ari.

Sambil bercerita, Ari sesekali berhenti sejenak merenungkan kalimatnya sendiri. “Meskipun”, lanjutnya, “Setelah dari kebun, harus ekstra dalam bersih-bersih tangan agar tidak bau getah saat salaman sama murid-murid,” kata Ari sambil menertawakan dirinya sendiri.

Di desanya, masyarakat mayoritas adalah petani karet, termasuk orang tuanya. Setiap orang memiliki maknanya sendiri tentang bekerja. Meskipun sama-sama bekerja, namun bisa jadi memiliki makna yang berbeda. Apakah dia bekerja sekadar untuk mengejar finansial seperti uang, kedudukan, dan lain sesuatu yang bersifat materi, ataukah dia bekerja untuk berkarya, bekerja untuk mengabdi dan lain sebagainya. Bagi Ari sendiri, bekerja haruslah menuruti atau sesuai dengan kata hati atau nurani, dan pastikan bahwa kita merasa nyaman. Karena kenyamanan membuat kita bekerja dengan tulus dan ikhlas, bukan sebagai robot.

“Bekerja sebagai petani, mungkin sebagian orang berpikir bahwa pekerjaan yang rendah, pekerjaan orang desa, kotor dan lain sebagainya. Tapi bagi saya bekerja sebagai petani itu luar biasa. Jika dilihat dari segi penghasilan, sebenarnya petani dengan PNS tidak beda jauh. Hanya saja seragam yang membedakannya. Petani adalah pahlawan bangsa. Ya, ungkapan itu cukup tepat meskipun terkesan berlebihan. Bagaimana tidak, jika semua orang tidak mau menjadi petani khususnya orang Tebo, terus dari mana material pembuatan ban motor, mobil mau dari mana? Apakah kita mau impor lagi? Ini hanya contoh kecil saja.”

Peran Pemuda dalam Pembangunan Desa

14449942_1567093909983745_9119931549890291945_nMengenal sosok pemuda seperti Ari yang sudah berpanjang lebar menceritakan tentang kiprahnya di desa, rasanya sayang sekali jika tidak bertanya tentang peran pemuda dalam pembangunan desa. Maka dengan lancar, Ari pun menjawab berdasarkan sudut pandangnya sebagai pemuda desa Tegal Arum.

“Sebenarnya, peran pemuda dalam pembangunan desa tidak terlepas dari peran pemerintah desa, khususnya seorang Kades. Apa yang terjadi di desa Tegal Arum mungkin berbeda dengan desa lainnya, tapi saya ingin sedikit bercerita bahwa apa yang saya alami bersama teman-teman pemuda penggerak desa tidak terlepas dari kecerdasan Kades kami.”

Kades yang dia maksud adalah Rohmad Annas, usianya tergolong masih muda, namun pengabdiannya di desa cukup konsisten, mulai dari Kadus hingga Kades.

“Walaupun beliau hanya lulusan SMP, tapi semua mengakui pola pikir beliau. Ketika banyak orang berpikir bahwa pemuda identik dengan masalah, namun Kades tidak seperti itu, pemuda adalah solusi jika diberi wadah dan kesempatan, karena banyak yang tidak percaya sama pemuda, sehingga peran aktif pemuda sangat terbatas sekali. Baginya, pemuda adalah harapan. Dalam 1 tahun, ada begitu banyak kegiatan, termasuk acara-acara besar yang selalu diselenggarakan di desa. Semua itu adalah wadah bagi kami para pemuda untuk mengabdi dan berkarya bagi desa. Jadi peran pemuda bagi saya adalah mengabdi dan berkarya bagi desa.”

Di desa Tegal Arum, Pemuda Penggerak Desa berdiri sejak masa pemerintahan Rohmad Annas, Kades yang dimaksud Ari sebagai Kades yang berperan penting dalam memberdayakan pemuda di desa. Tepatnya April 2016 bersamaan dengan acara Hari Ulang Tahun (HUT) Desa.

“Saya memang tidak bergabung dari awal. Karena pada waktu itu saya baru saja kembali dari Yogyakarta, jadi sekitar 8 bulanan pemuda ini terbentuk, meskipun baru seumur rambut jagung, gebrakan yang dilakukan cukup luar biasa dan sangat membantu pihak Desa.”

Sebagai pemuda desa, Ari berharap agar pemerintah desa tetap memberdayakan para pemuda di desa. Ari juga punya pesan tersendiri kepada semua Kades di Indonesia. Pemdes bukan sekadar pelayan desa, bukan juga sekadar pekerja untuk desa. Menjadi Pemdes khususnya Kades seharusnya bukan sekadar pemerintah yang puas bekerja di dalam ruangan kantor desa. Namun lebih dari itu, Kades adalah pemimpin bagi warganya, guru bagi warganya, orang tua bagi warganya, sahabat bagi warganya yang mampu membuat nyaman warganya, betah di desa, sedih dan gembira bersama.

Bagaimana Pemuda di Desamu?

Ari hanyalah salah satu contoh dari sekian pemuda yang masih memiliki harapan yang kuat akan desanya. Juga pemuda yang masih memiliki mimpi untuk terus membangun desanya. Iya, tentu saja semangat yang saya maksud bukanlah semangat para pemuda yang bermimpi dan berlomba meninggalkan desanya untuk ke kota bahkan ke luar negeri. Cerita Ari mengingatkan saya akan pemuda di desa kelahiran saya. Sebuah desa di mana para pemudanya berlomba menjadi pekerja migran di Taiwan dan Korea, tepatnya setelah mereka lulus SMA. Jika tahun 1990-an para orang tuanya khususnya ibu mereka menjadi pekerja migran di Timur Tengah, kini anak-anaknya memimpikan bekerja di Taiwan, Korea, dan Hongkong, lalu mereka pun akan menikah muda, lalu meninggalkan istrinya yang juga masih sama-sama mudanya. Kendati demikian perjalanannya tetap dipenuhi kekhawatiran, tentang apa yang harus mereka lakukan ketika kembali lagi ke desanya. Kekhawatiran itulah yang pada akhirnya membawa mereka kembali menjadi pekerja migran, entah sampai kapan.

Sungguh tidak ada yang salah bagi mereka para pemuda dan pemudi yang berlomba menjadi pekerja migran. Karena bahkan, pada kondisi tertentu sangatlah mulia bekerja menghasilkan uang dan membiayai hidup keluarganya. Tapi, sampai kapan mimpi pemuda-pemudi Indonesia hanya sebatas menjadi pekerja migran? Khususnya di bidang pekerjaan yang membuat mereka tidak bisa berkembang. Berapa jumlah pemuda-pemudi yang tersisa di desa jika yang mereka pikirkan sejak kecil hanyalah menjadi pekerja migran? Meskipun saya melontarkan pertanyaan-pertanyaan tersebut, nyatanya sampai saat ini saya tidak mampu menjawabnya. Kalaupun saya mampu menjawabnya, bisa jadi saya belum mampu mewujudkannya. Karena pertanyaan tersebut memang bukan hanya ditujukan pada para pemuda-pemudi, namun juga pemerintah dan sistem yang membuat mereka tidak memiliki pilihan lain selain bermigrasi. Harapan saya, kelak pemuda di desa kelahiran saya atau di manapun memiliki mimpi lebih tinggi lagi, memiliki pilihan karir yang lebih banyak, juga sistem yang memberi kesempatan dan memudahkan mereka mewujudkan mimpinya. Dan semoga orang-orang seperti saya tidak sekadar berharap, tapi juga turut bergerak mewujudkannya.

Keterangan Penulis:

*Alimah Fauzan adalah gender specialist di Institute of Education Development, Social, Religious and Cultural Studies (Infest) Yogyakarta. Pengalaman tentang pemuda desa ini merupakan salah satu pembelajaran penting dari proses pengorganisasian komunitas yang dilakukan Infest Yogyakarta di sejumlah desa, khususnya komunitas pemuda desa dan perempuan sebagai salah satu kekuatan sumber daya manusia (SDM).

“Betino Lah Beguno dalam Pemerintahan Desa Ko”

Perempuan Desa Teluk Singkawang Mengungkapkan Usulannya dalam Musrenbangdes

Kalimat berbahasa Melayu itu diungkapkan oleh ibu Toyibah, salah satu perempuan di desa Teluk Singkawang, kecamatan Sumay, kabupaten Tebo, Jambi. Pernyataan tersebut, meskipun singkat, namun secara tidak langsung melukiskan bagaimana kondisi dan posisi perempuan dalam proses pembangunan di desa Teluk Singkawang.

Menurut Yuni Wati, salah satu perempuan pembaharu desa Teluk Singkawang, perempuan di desa sekarang benar-benar merasakan adanya perubahan pemerintah desa sejak adanya pelaksanaan sekolah pembaharuan desa.

“Sekarang kami mempunyai bekal dan dibentuk dalam sebuah tim yaitu Tim Pembaharuan Desa (TPD). Sejak adanya TPD di desa kami, apa dibutuhkan masyarakat dari kelompok marginal sampai kalangan elit, kini mulai diperhatikan dalam proses pembangunan desa,” jelas Yuni.

Meningkatnya Partisipasi dan Menguatnya Daya Tawar Perempuan

Yuni juga menambahkan bahwa selama ini masyarakat biasa sangat awam dengan tahapan pembangunan di desa mulai dari perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, pengawalan, evaluasi, dan pertanggungjawaban. Masyarakat selama ini hanya mengetahui persoalan terkait administrasi di desa, serta sebagai penerima program di desa. Sementara untuk akses, partisipasi, dan kontrol pelaksanaan pembangunan desa belum sepenuhnya diketahui perempuan. Hal ini berdampak pada penerima manfaat dari pembangunan itu sendiri.

Betino lah beguno dalam pemerintahan desa ko, itulah kata-kata dari kaum perempuan yang ikut dalam Sekolah Desa. Khususnya kami kaum perempuan sangat merasakan perubahan itu, yang awalnya kami hanya seorang ibu rumah tangga biasa kini mempunyai peran keikutsertaan kami dalam pembangunan di desa tercinta kami ini,” ungkap Yuni.

O..macam tu ruponyo” tambah Yuni, karena sejak adanya Sekolah Desa, kaum perempuan sudah mulai berani bicara, mempunyai motivasi untuk maju, dan mulai mengetahui betapa pentingnya kaum perempuan dalam pembangunan di desa ini. Kini, lanjut Yuni, mereka mulai memahami bagaimana cara melaksanakan pembangunan di desa, apa saja aset da potensi desa yang dimiliki desanya, dan siapa saja masyarakat yang termarginalkan dan sangat penting diperhatikan.

“Intinya sejak ada Sekolah Desa, kami merasakan pemerintahan yang TRANSPARAN, ADIL DAN BIJAKSANA!” tandasnya.

Keterlibatan perempuan serta kelompok marginal lainnya di desa, berawal dari program “Penguatan Partispasi Kelompok Masyarakat Dalam Perencanaan, Pelaksanaan dan Pengawasan Pembangunan di Tingkat Desa Melalui Pendekatan Perencanaan Apresiatif Desa” melalui Sekolah Pembaharuan Desa. Program ini diselenggarakan oleh Infest Yogyakarta dengan kerjasama Pemerintah Kabupaten (Pemda) Tebo melalui Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintah Desa (BPMPD) Tebo.

“Kami, khususnya dari kelompok perempuan juga mengungkapkan rasa terimakasih kami kepada Infest Yogyakarta, Pemerintah Kabupaten dalam hal ini BPMPD, serta Pemerintah Desa (Pemdes) yang telah memberi kesempatan, dan membuka wawasan warga di desanya tentang betapa pentingnya peran masyarakat dalam pembangunan di desa kami tercinta ini.” [Alimah]

Perencanaan Apresiatif Desa Mendorong Kepekaan Sosial Pemdes dan Warganya

“Saya mendapat informasi dari tim pembaharu desa (TPD) yang khusus menggali usulan kelompok marginal dan survei layanan publik, bahwa saat mereka melakukan wawancara kepada warga yang berkebutuhan khusus maupun kepada kluarganya, di antara mereka masih ada yang bisa disembuhkan jika ditangani secara intensif oleh ahli di bidangnya. Namun mereka dari kalangan keluarga miskin, akhirnya saya minta pendapat dari pihak Puskesmas. Esok harinya, kami pun mulai mengantar warga tersebut ke Dinas Sosial di Jambi.” (Rohmad Annas, Kades Tegal Arum, 5/11/16)

Oleh Alimah Fauzan*

Pernyataan Rohmad Annas, Kades Tegal Arum, Kecamatan Rimbo Bujang, Kabupaten Tebo, Propinsi Jambi, sekilas terkesan biasa saja. Biasa dalam arti bahwa memang demikianlah seharusnya sikap seorang Kepala Desa (Kades), apalagi ketika ada warganya yang membutuhkan pertolongan pemerintahnya. Namun kenyataannya, dari ribuan pemerintah desa (Pemdes) berapa banyak yang pemikirannya benar-benar terbuka dan peka pada persoalan sosial di desanya sendiri. Berapa banyak desa dengan warga yang benar-benar peduli dan berpartisipasi pada pembangunan di desanya? ini baru persoalan pembangunan yang adil bagi kebutuhan semua golongan di desa. Belum lagi persoalan sensitif seperti kekerasan terhadap perempuan, pernikahan anak, dan persoalan sosial lainnya.

Berdasarkan pengalaman Infest Yogyakarta, salah satu lembaga yang turut mengawal implementasi UU Desa, mendampingi sejumlah desa di beberapa daerah Jawa maupun luar Jawa, belum banyak menemukan Pemdes yang benar-benar peka pada kebutuhan warganya. Apalagi dalam kondisi tertentu harus mengambil keputusan cepat ketika warganya benar-benar membutuhkan pertolongan. Kendati demikian, pengalaman yang terjadi pada Pemdes Tegal Arum juga bukan berarti terjadi secara tiba-tiba. Ada proses tertentu yang kemudian mengantarkan Pemdes semakin peka pada persoalan sosial di desanya. Desa Tegal Arum adalah salah satu desa yang tengah bergerak mewujudkan perencanaan apresiatif desa bersama Infest Yogyakarta dan dukungan dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tebo, Jambi.

Perbaikan Layanan Melalui Jasa Publik “Polisi Sekolah Tegal Arum”

Perencanaan apresiatif desa tidak hanya mendorong kepekaan sosial Pemdes, namun juga kesadaran Pemdes bersama warga untuk secara partisipatif memperbaiki layanan publik. Menurut Kades Tegal Arum, berdasarkan data hasil survei partisipatif yang dilakukan tim pembaharu desa (TPD), salah satu prioritas perbaikan layanannya adalah perlindungan di jalan raya khususnya bagi anak-anak sekolah. Hasil survei tersebut kemudian menginspirasi Pemdes mengambil langkah perbaikan layanan secara langsung. Salah satunya dengan menyediakan jasa layanan “Polisi Sekolah Tegal Arum”, dimana tidak hanya melibatkan petuugas dari kepolisian, namun juga melibatkan peran warga khususnya pemuda di desa.

Jalann raya yang mulus dan tidak terlalu ramai, membuat pengguna jalan bisa seenaknya berkendara tanpa memperhatikan posisi pejalan kaki maupun pengendara lainnya. Bahkan menurut warga sekitar Tegal Arum, kecelakaan akibat pengguna yang ngebut di jalan raya seakan menjadi hal biasa. Di sini, kesadaran dalam berkendara yang baik sangat kurang. Salah satunya jalan lintas depan kantor desa dan beberapa gedung sekolah. Berdasarkan fakta tersebut, maka warga melakukan survei layanan publik secara partisipatif, dan salah satu prioritas layananya adalah terkait perlindungan di jalan raya khususnya anak-anak sekolah.

Salah satu tahapan perencanaan apresiatif desa adalah perbaikan layanan publik secara partisipatif melalui survei layanan publik. Survei dilakukan secara partisipatif oleh warga bersama Pemdes yang tergabung dalam tim pembaharu desa (TPD). Hasil survei tersebut salah satunya adalah terkait jasa layanan yang diselenggarakan Pemdes untuk melindungi warganya khususnya anak sekolah di jalan raya melalui program “Polisi Sekolah Tegal Arum”. Ya, ini hanyalah salah satu prioritas layanan publik berdasar survei. Survei layanan publik partisipatif telah mendorong Pemdes memperbaiki pelayanannya baik dalam layanan administratif, barang publik, maupun jasa publik. Warga merumuskan sendiri prioritasnya, instrumennya, serta pelaksanaan surveinya, hingga menghasilkan rekomendasi perbaikan layanan publik dan janji layanan atau maklumat layanan.

Lalu, Apa Itu Perencanaan Apresiatif Desa?

Perencanaan apresiatif desa merupakan salah satu upaya meningkatkan partisipasi masyarakat desa dalam pembangunan di desanya, sehingga tidak semata bertujuan untuk meninjau ulang (review) dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDesa). Karena hal yang paling mendasar dari proses perencanaan apresiativ desa adalah mengenal desanya, terlibat dalam pembangunan desa, menggerakkan masyarakat mengenal desa, serta mengkaji kondisi desanya dari sisi kewenangan, aset dan potensi desa, kesejahteraan desa, penggalian gagasan kelompok marginal, dan perbaikan pelayanan publik.

Di kecamatan Rimbo Bujang, kabupaten Tebo, selain Tegal Arum ada desa Tirta Kencana yang tengah mewujudkan perencanaan apresiatif desanya. Selain itu di kecamatan Sumay, ada desa Teluk Singkawang. Di tiga desa tersebut telah terbentuk Tim Pembaharu Desa (TPD). TPD juga telah mendapatkan penguatan perencanaan apresiatif desa melalui “Pelatihan Perencanaan Apresiatif Desa (PAD)” yang diselenggarakan Infest Yogyakarta atas kerjasama Pemkab Tebo dan Pemdes Teluk Singkawang, Tegal Arum, dan Tirta Kencana. Program ini didukung oleh Making All Voices Count (MAVC) HIVOS.

TPD di setiap desa terbagi dalam 5 kelompok, yaitu (1) kelompok kewenangan desa; (2) kelompok pemetaan aset dan potensi desa; (3) kelompok pemetaan kesejahteraan berdasarkan indikator lokal; (4) kelompok penggalian usulan kelompok marginal; (5) kelompok survei perbaikan layanan publik. Kelima tim tersebut masing-masing menghasilkan data-data yang telah dihasilkan secara partisipatif, hingga menjadi rujukan dalam proses review dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDesa) perubahan. Sehingga RPJMDesa mereka berbasis data partisipatif dan usulan kelompok marginal.

Dalam proses perencanaan apresiatif desa, Tegal Arum melibatkan lebih dari 80 warganya untuk terlibat dalam proses pemetaan kewenangan, aset dan potensi desa, pemetaan kesejahteraan berdasarkan indikator lokal desa, penggalian usulan maupun gagasan kelompok marginal khususnya perempuan, hingga survei layanan publik. Setiap tahapan perencanaan apresiatif desa telah mendorong pemerintah desa semakin partisipatif, transparan, dan akuntabel. Hal ini tentu saja sesuai dengan semangat UU Nomor 6 Tentang Desa Tahun 2014.

====

*Alimah Fauzan adalah gender specialist di Institute for Education Development, Social, Religious, and Cultural Studies (Infest Yogyakarta)