Arsip Tag: Sejarah Desa

Kolaborasi Pengelolaan Kebun Toga Antara Kelompok Perempuan & Pemuda Desa Tegal Arum

“Ketika pohon terakhir ditebang, Ketika sungai terakhir dikosongkan, Ketika ikan terakhir ditangkap, Barulah manusia akan menyadari bahwa dia tidak dapat memakan uang.”

― Eric Weiner, The Geography of Bliss: One Grump’s Search for the Happiest Places in the World

Kalimat inspiratif yang popular dikutip sejumlah aktivis peduli lingkungan hidup ini, terus terngiang di ruang pikir. Di setiap perjalanan menuju sebuah desa, saya tak henti memerhatikan suasana di kanan kiri jalan dusun. Hadir di sebuah desa berarti tidak sekadar mengenal sumber daya manusia (SDM) penghuni desa, lebih dari itu, ada kekuatan sumber daya alam (SDA) desanya yang juga memiliki peran sentral terhadap keberlangsungan hidup mereka. Belum lagi kekuatan lainnya seperti kekuatan social, kelembagaan, keuangan, infrastruktur, juga spiritual-budaya yang terkadang luput dari perhatian kita.

Ketika datang di sebuah desa yang baru saya kunjungi, hal pertama yang selalu membuat saya penasaran adalah bagaimana aktifitas perempuannya. Saya selalu berkeyakinan, ketika saya mampu menguak kondisi perempuan di sebuah wilayah, maka semua hal penting lainnya akan terkuak dengan mudah. Karena para perempuan biasanya akan bicara tentang banyak hal. Mereka tidak sekadar memikirkan persoalan pribadinya, kebutuhan dasarnya, namun juga anak-anaknya serta lingkungan sosial di sekitarnya. Ia akan bicara mengenai anak-anaknya, usahanya, lingkungannya, dan banyak hal lagi. Namun ini hanya cara saya saja yang paling memungkinkan sesuai kapasitas saya saat berada di desa. Sekilas memang terkesan agak bias sebenarnya, seakan hanya melulu bicara perempuan. Karena sebenarnya, “perempuan” di sini bukan sekadar jenis kelamin, namun juga bisa sebagai “perspektif” dan kunci menguak kehidupan di sebuah tempat atau wilayah.

Nah kali ini, saya ingin berbagi pengalaman saya bersama para perempuan di desa-desa yang pernah saya kunjungi. Dari sejumlah desa tersebut, yang cukup menarik perhatian saya adalah Desa Transmigran Jawa di Propinsi Jambi, tepatnya di Desa Tegal Arum, Kecamatan Rimbo Bujang, Kabupaten Tebo. Tapi di cerita saya kali ini saya akan focus bercerita tentang kebun Toga yang dikelola para perempuan dan pemudanya.

Tegal Arum: Sebuah Nama dan Pengharapan

Desa Tegal Arum adalah salah satu desa transmigran Jawa di Kecamatan Rimbo Bujang, Kabupaten Tebo, Propinsi Jambi. Sebelum cerita tentang kebun tanaman obat keluarga (Toga) di Desa Tegal Arum, sayang sekali jika kita luput mengenal Desa Tegal Arum sendiri. Jadi di bagian ini, mari saya hantarkan untuk sekilas mengenal desanya dulu. Apa yang saya ceritakan di sini berdasarkan pengamatan dan cerita yang digali oleh para pemuda, perempuan, dan perangkat desanya tentang sejarah desa mereka.

Munculnya desa-desa transmigran termasuk Desa Tegal Arum, ini tidak terlepas dari program pemerintah Indonesia yang menginisiasi program transmigrasi di masa Orde Baru (Orba). Program ini dicanangkan oleh Persiden Suharto pada tahun 1977. Animo masyarakat yang ingin mengadu nasib di tanah seberang saat itu begitu banyak untuk ikut dalam program transmigrasi. Menurut hasil penggalian data sejarah Desa Tegal Arum, para warga yang akhirnya tiba di Desa Tegal Arum yang saat itu masih bernama “Unit 5”, mulai berangkat pada Kamis Pon 24 Maret 1977. Rombongan ini berangkat dari berbagai daerah rata-rata naik bus menuju kota Semarang, setelah menginap semalam, esok harinya mereka naik kereta api bertolak menuju Pelabuhan Tanjung Priuk Jakarta. Dari Tanjung Priuk, rombongan transmigrasi kemudian diberangkatkan dengan menggunakan Kapal Vande Bori menuju pelabuhan Teluk Bayur (Padang) dan singgah di Pelabuhan Panjang, Teluk Keceng, Tanjung Karang. Setelah menginap di Padang selama satu malam, kemudian rombongan transmigrasi diberangkatkan kembali menggunakan bus menuju Rimbo Bujang. Setibanya di Rimbo Bujang, rombongan transmigrasi ditampung beberapa waktu untuk menunggu jemputan yang menuju ke arah unit lima dan proses penjemputan menggunakan mobil truk dan setibanya di unit lima pada Selasa Kliwon 5 April 1977 jam 3 sore.

Di antara transmigran yang datang dari Jawa, mereka tersebar di beberapa desa, salah satunya adalah “Unit Lima”, atau yang kini bernama Desa Tegal Arum. Nama Tegal Arum sendiri dihasilkan berdasarkan kesepakatan Musyawarah Desa (Musdes), sebuah forum tertinggi di tingkat Desa. Proses menyepakati nama pun tak hanya sekali dua kali pertemuan kemudian muncullah sebuah nama desa. Tidak, tidak demikian, karena ternyata haru melalui musyawarah panjang dan berkali-kali, belum lagi perdebatan-perdebatan yang cukup kencang tentang nama yang cocok untuk desa mereka. Hingga akhirnya, disepakatilah nama desa yang di “unit lima” ini dengan nama “Tegal Arum”. Makna “Tegal” berarti hutan yang mana pada saat itu masih hutan belantara, sementara “Arum” berarti wangi. Ada banyak beragam mimpi warganya dalam sebuah nama yang tak sekadar nama, namun juga inspirasi dan harapan bagi penghuni desa dan anak cucunya kelak.

Siapa Warga Tegal Arum?

Dalam sejarah munculnya Desa Tegal Arum, saya hanya membahas munculnya nama dan maknanya. Namun sebelum ada kesadaran menyepakati sebuah nama, ada sejarah panjang munculnya desa ini. Menurut para tokoh sejarah maupun tokoh adat yang saat ini masih hidup dan mampu digali informasinya, warga Desa Tegal Arum awalnya adalah sebuah rombongan transmigran. Mereka, para transmigran ini datang ke unit lima (5) yang berasal dari beberapa daerah di Pulau Jawa seperti daerah Pati, Jepara, Tegal, Kebumen, Klaten, Wonogiri, Solo, Yogja, Magelang, Salatiga, dan Purwodadi.

Para transmigran dari sejumlah daerah di Jawa itu terus bekerja keras. Di antara mereka ada yang kembali lagi ke daerah asalnya, namun banyak juga yang tetap bekerja keras dan bertahan hingga sukses sampai sekarang. Kepala Desa sementara yang ditetapkan saat itu adalah bapak Soehadi. Dia adalah pejabat sementara Kepala Desa yang ditunjuk oleh tokoh-tokoh masyarakat pada saat itu. Para tokoh masyarakat itu kemudian berkumpul lagi dan bermusyawarah untuk membahas pemberian nama desa di unit lima, yaitu Desa Tegal Arum seperti yang sudah saya bahas di paragraph sebelumnya.

Mata pencarian warga Desa Tegal Arum pada umumnya adalah petani, tapi itu dulu sebelum PTP masuk dan mengajak masyarakat  untuk menanam karet. Saat ini masih ada beberapa petani di Desa ini, meskipun tidak banyak petani di desa ini, namun pembinaan pertanian di desa ini cukup baik. Artinya tidak mustahil jika jika kelak mereka memproduksi sayuran dan bahan pangan yang baik dan berkualitas.

Dari sekian peristiwa penting lainnya, kini tahun 2017, Desa Tegal Arum yang kini dipimpin oleh Bapak Rohmad Annas sebagai Kepala Desa (Kades), telah mendapatkan penghargaan sebagai Desa Terbaik dalam Lomba Desa mulai dari Tingkat Kecamatan, Kabupaten, hingga Provinsi Jambi. Banyak factor yang membuat Desa ini menjadi Juara dalam Lomba tersebut, namun factor yang cukup penting dari semua factor itu adalah partisipasi wargannya, atau kekompakan warganya dalam membangun desa, serta transparansi dan akuntabilitas pemerintah desanya.

Kolaborasi Pemuda Penggerak Desa dan Kelompok Perempuan.

Di desa Tegal Arum, 80% warganya berkebun, biasanya warga mengelola perkebunan karet dan kelapa sawit. Perkebunan karet ada atau ditaman sejak zaman masuknya transmigrasi kedesa Tegal Arum yang pembibitanya bekerja sama dengan PTP dengan sistem pinjam dengan sertifikat tanah, dan dekaran utang itu udah lunas dan sertifikat sudah dikembalikan. Hampir semua perkebunan karet yang ditanam sudah dalam kondisi rusak, dan sebagian perkebunan sudah ditanami ulang oleh pemiliknya. Ada beberapa hal yang membuat perkebunan rusak, di antaranya terkena jamur akar putih yang terus menyebar tanpa ada pengendalian. Selain itu dikarenakan ketidaktahuan cara pembasmian dan pencegahanya. Sebenarnya hal ini bisa di siasati dengan sosialisasi atau penyuluhan dari PPL melalui kelompok tani, baik itu pemilihan bibit unggul, cara penanaman, cara perawatan dan cara pengendalian hama atau pun jamur yang merusak pohon karet. Sedangkan untuk kelapa sawit permasalahanya pada pemupukan, karena mahalnya pupuk dan kelangkaan pupuk. Untuk mengatasi ini, desa biasanya meminta bantuan pupuk kepada dinas pertanian maupun itansi terkait. Selain itu permasalahanya adalah rendahnya harga jual getah karet, seharusnya hal ini bisa di kendalikan dengan cara membentuk kelompok lelang untuk penjualanya. Karena Perkebunan adalah penghasilan pokok warga Desa Tegal Arum, hasil perkebunan sangat mempengaruhi kebutuhan warga Tegal Arum. Jadi jika perkebunan di desa Tegal Arum ini baik, maka akan meningkat pula penghasilan warganya.

Selain berkebun karet, warga Tegal Arum juga beternak, berkebun singkong, buah naga, dan sejumlah tanaman obat keluarga (Toga). Toga pada umumnya dikerjakan secara berkelompok. Toga adalah tanaman hasil budidaya rumahan yang berkhasiat sebagai obat. Taman obat keluarga pada hakekatnya adalah sebidang tanah, baik di halaman rumah, kebun ataupun ladang yang digunakan untuk membudidayakan tanaman yang berkhasiat sebagai obat dalam rangka memenuhi keperluan keluarga akan obat-obatan. Kebun tanaman obat atau bahan obat dan selanjutnya dapat disalurkan kepada masyarakat, khususnya obat yang berasal dari tumbuh-tumbuhan. Budidaya tanaman obat untuk keluarga (Toga) dapat memacu usaha kecil dan menengah di bidang obat-obatan herbal sekalipun dilakukan secara individual. Setiap keluarga dapat membudidayakan tanaman obat secara mandiri dan memanfaatkannya, sehingga akan terwujud prinsip kemandirian dalam pengobatan keluarga.

Di sejumlah desa pada umumnya, kebun Toga biasanya dikelola oleh kelompok perempuan di desa. Namun kebun di desa ini dikelola secara kolaboratif oleh Pemdes dan warga, khususnya para Pemuda Pemudi Penggerak Desa dan Kelompok Perempuan di Desa ini. Tentang Pemuda Desa Tegal Arum, saya sudah pernah menuliskan kiprah mereka dalam pembangunan desa di laman ini yang berjudul Pemuda Penggerak Desa, Bertani dan Mengabdi . Sementara para perempuan di desa ini, pada umumnya aktif di kegiatan social di desa, di antaranya melalui kegiatan rutin di PKK. Mereka juga sudah menyadari tentang pentingnya kesehatan, serta tentang persalinan yang harus dilakukan di Puskesmas. Selebihnya, mereka aktif dalam kegiatan organisasi keagamaan serta mengembangkan ketrampilan mereka membuat barang-barang yang dimanfaatkan dari bahan-bahan yang ada di desa. Profesi mereka beragam, ada yang sebagai buruh tani, pegawai negeri, pedagang, dan ada juga yang mempunyai keteampilan sebagai penjahit dan makanan ringan. Home Industries  di Desa ini juga sangat membantu pendapatan para perempuan yang bekerja secara penuh di rumahnya, hal ini juga sangat membantu untuk mengurangi angka pengangguran di desa.

Di luar aktifitas rutin mereka terlibat aktif dalam kegiatan yang diinisiasi Pemdes, para perempuan di setiap dusun maupun di tingkat RT pada umumnya mengelola kebun tanaman obat keluarga (Toga). Tahun 2017, kebun Toga di desa ini tidak hanya terdapat di lingkungan RT maupun Dusun, namun kini sudah ada di tingkat Desa. Pengelolaannya Toga pun dilakukan secara partisipatif antara Pemdes dan warganya, terutama kolaborasi yang dilakukan oleh kelompok perempuan dan para pemuda pemudinya. Mereka membentuk kepengurusan, termasuk mengatur siapa yang bertanggung jawab untuk menyiram tanaman tiap pagi dan sore dan seterusnya. Tidak heran, meskipun usia Kebun Toga ini masih tergolong muda, namun tanaman obat di kebun ini cepat sekali tumbuh dan menghijau.

Toga di kebun ini juga sudah mulai dimanfaatkan masyarakat di desa. Kebun yang dibangun di atas Tanah Kas Desa (TKD) ini tidak sekadar kebun Toga, namun juga tempat yang asyik untuk bersantai, selain luas juga ada fasilitas yang asyik, misalnya untuk berdiskusi merencanakan kegiatan dan sejumlah rencana pemanfaatan kebun Toga untuk beragam momen. Kebun Desa Tegal Arum ini terletak tepat di samping Kantor Desa Tegal Arum dan beberapa fasilitas umum lainnya. Kekompakan warga dan pemerintah desa ini cukup mendapat banyak perhatian dan inspirasi dari desa-desa lainnya. Termasuk perhatian dari pemerintah daerah. Tidak heran, Desa Tegal Arum tahun ini menjadi Juara I dalam Lomba Desa mulai dari tingkat Kecamatan, Kabupaten, hingga se-Provinsi Jambi. Desa yang kompak antara Pemdes dan warganya, desa dengan semangat belajar untuk perubahan yang lebih baik lagi, desa yang tidak sekadar kaya data, namun juga partisipatif dan transparan. Saat main ke desa-desa adalah saatnya belajar dari para warganya, termasuk belajar dari Desa Tegal Arum dengan segala kreativitas warganya, produk-produk kreasi warganya, serta beragam aset sosial dan spiritual budayanya.

====

*Tulisan ini berdasarkan pengalaman Alimah Fauzan,  gender specialist di Institute of Education Development, Social, Religious and Cultural Studies (Infest Yogyakarta ) selama melakukan pengorganisasian Perencaaan Apresiative Desa (PAD) di 3 Desa di Kabupaten Tebo, yaitu Desa Tegal Arum, Desa Tirta Kencana, dan Desa Teluk SIngkawang. PAD ini merupakan salah satu tahapan kegiatan yang diselenggarakan Infest Yogyakarta atas kerjasama Pemkab Tebo dan Pemdes Teluk Singkawang, Tegal Arum, dan Tirta Kencana. Program ini didukung oleh Making All Voices Count (MAVC) HIVOS. Keterangan dalam tulisan ini juga berdasarkan informasi dari penuturan dan data sejarah desa yang tertuang dalam dokumen rencana pembangunan jangka menengah desa (RPJMDesa) Tegal Arum. 

Ketika Warga Transmigran Mulai Menggali dan Menulis Sejarah Desanya

Sekarang kami mulai paham bahwa dulunya kami (warga transmigran) ini hanya ada 496 kepala keluarga (KK) dari semua pelosok penjuru Jawa. Kami juga kini mengetahui jika dulu para orang tua kami sangat prihatin selama dua tahun. Mereka hanya makan beras dan teri jatah dari pemerintah. Kami juga tahu, dulu ada masalah kelapran pada tahun 1979 karena jatah sudah habis dan tanaman padi puso. Kami juga kini mengetahuai jika dulu para orang tua kami dulu hanya berjalan kaki berpuluh-puluh kilo meter hanya untuk mencari bibit singkong. Kami juga tahu bahwa tidak sedikit para leluhur yang meninggal karena tertimpa pohon, ada juga yang dimakan harimau, dan digigit ular. Dan kini, kami sangat sadar bahwa kami harus lebih menghormati mereka, karena semua yang terbangun saat ini adalah buat kerja keras mereka, para pendahulu kami.

(Rohmad Annas, Kades Tegal Arum, Kec. Rimbo Bujang, Kab. Tebo, Provinsi Jambi, 24/02/17)

Kalimat terahir Kades Tegal Arum, Rohmad Annas secara jelas mengingatkan dirinya, warganya, bahkan semua orang untuk jangan sekali-kali melupakan sejarah. Kalimat yang sangat akrab bagi masyarakat Indonesia, karena pernah didengungkan oleh Presiden Pertama Indonesia, Soekarno. Kini, kalimat tersebut terus menerus dikutip di banyak pernyataan seseorang untuk mengingatkan betapa pentingnya sejarah. Termasuk bagi warga transmigran yang kini bisa dikatakan telah sukses atau berhasil menaklukan tempat yang awalnya sangat asing bagi mereka. Lalu mengapa masyarakat di desa perlu menelusuri, menggali, hingga menulis sejarah desanya? Karena sejarah adalah aset yang berharga bagi desa dan masyarakatnya. Lebih dari itu, menulis sejarah tidak sekadar mengingat kembali detail waktu kejadian di masa lalu, namun berusaha mencoba menulis sejarah baru.

Apa yang sudah diungkapkan Kades Tegal Arum hanyalah cerita singkat dari sekian banyaknya fakta tentang desanya. Saat saya menyebut mereka telah sukses, bagi saya memang benar mereka telah sukses. Kekuatan memelihara ketekunan mereka tidak hanya berhenti pada satu dua generasi, namun secara terus menerus diwariskan pada anak-anaknya. Mereka adalah para pemuda desa yang tidak mengenal rasa malu atau sungkan untuk berperan di ranah publik maupun domestik. Bahkan peran-peran sosial dapat secara bersamaan mereka lakukan dengan peran-peran lainnya. Seperti yang pernah saya tulis di laman ini tentang Pemuda Penggerak Desa Tegal Arum.

Desa Tegal Arum adalah salah satu desa dampingan Infest Yogyakarta di Kabupaten Tebo yang tengah berupaya mewujudkan perencanaan apresiatif desa dalam proses pembangunan di desanya. Selain Desa Tegal Arum, ada juga Tirta Kencana, dan Desa Teluk Singkawang yang juga tengah menelusuri dan terus menggali potensi desanya. Salah satunya dengan menulis tentang sejarah desanya. Ketiga desa ini sama-sama memiliki aset dan potensi yang bisa jadi baru mereka sadari betapa kayanya mereka. Di Teluk Singkawang misalnya, di sana ada sebuah candi dan sejumlah warisan nenek moyangnya.

Menggali Informasi Langsung dari Pelaku Sejarah

Dalam suatu wawancara yang bertujuan memetakan aset dan potensi desa, salah seorang tim pembaharu desa (TPD) Tegal Arum pernah merasakan kesulitan menjawab pertanyaan warga. Saat itu pertanyaannya adalah tentang batas wilayah. Ini hanya salah satu hal yang kemudian membuat TPD bersama pemerintah desa merasa penting untuk lebih mengenal tentang desanya dengan menelusuri sejarah desanya. Selain kisah dari TPD ini, cerita lain juga muncul dari Kades Tegal Arum, tentang kali pertama dia menyadari tentang pentingnya menggali sejarah desa dan menuliskannya.

“Awalnya, pada suatu sore saat saya silaturrahmi ke tempat mbah Makmur. Di sana saya lihat ada papan berukuran 30 cm persegi dengan tulisan huruf Jawa Aseli. Karena pensaran, akhirnya saya bertanya apa arti dan tujuannya. Beliau menjawab, ini adalah prasati bukti pertma kali kami serombongan setelah 2 minggu di perjalanan akhirnya sampai di sini (di Tebo, Jambi). Dan sore itu, ibarat petunjuk bagi saya sendiri. Malam harinya, seperti biasa kami berkumpul bersama pemuda dan menyampaikan kepada mereka bahwa kita perlu mencari tahu sejarah desa kita, sebelum para pelaku sejarah semuanya tiada,” papar Rohmad Annas pada Kamis (24/02/17).

Para pelaku sejarah Desa Tegal Arum

Para pelaku sejarah Desa Tegal Arum

Gayung bersambut, para pemuda desa pun sepakat dengan gagasan Kadesnya. Sejak itu, mereka pun berbagi peran dan segera menyebar menelusuri, menggali, dan mulai menghimpun data-data tentang desanya. Setelah data terkumpul, Pemdes mulai mengumpulkan para pelaku sejarah dengan mengundang mereka untuk menggali lebih jelas lagi kebenaran informasi yang mereka dapatkan. Semacam melakukan verifikasi data-data dari yang telah mereka dapatkan kepada pelaku sejarahnya langsung.

“Hal ini penting kami lakukan agar informasi yang kami terima tidak hanya dari individu-individu tertentu dengan kebenaran sepihak saja. Ini penting bagi kami untuk diwariskan pada generasi berikutnya,” tandasnya.

Hal serupa juga diungkapkan tim pembaharu desa (TPD) Tirta Kencana, Agus Putra Mandala. Pada waktu yang hampir bersamaan, Desa Tirta Kencana juga tengah menggali sejarah desanya. Mengetahui sejarah desa juga menjadi sangat penting karena dalam dokumen RPJMDesa mereka harus memberikan informasi tentang profil desanya.

“Kami undang salah satu tokoh pendiri desa yang waktu itu sebagai pegawai UPT (Transmigrasi) Kemudian kami minta beliau bercerita tentang Desa Tirta Kencana. Dari mulai berdiri sampai luasan tanah “R”, serta rencana apa dari para pendiri yang bisa kami lakukan terhadap mimpi mereka. Dan ternyata, tanah “R” kami sangat luas yg menurut mimpinya pendiri desa akan dijadikan sebagai kantor Kabupaten pemekaran atau setidaknya Bandara,” demikian Agus yang secara pribadi mengaku kaget dengan informasi yang baru diketahuinya.

Tantangan dan Manfaat Menggali Sejarah Desa

Kendati warga baru menyadari tentang betapa pentingnya sejarah desa mereka, namun selama proses penggalian informasi, mereka mengaku tidak mengalami banyak kendala. Seperti yang diungkapkan oleh Ari Rudiyanto, salah satu TPD Tegal Arum.

“Tidak begitu banyak kendala, hanya saja dalam menggali sejarah desa, hanya saja dari mereka (pelaku sejarah) bercerita berdasarkan dari ingatan mereka. Karena faktor usia, maka terkadang ada beberapa peristiwa yang mereka lupa. Sehingga kita kemarin juga harus membuat pertanyaan-pertanyaan untuk memancing daya ingat mereka tentang peristiwa-peristiwa penting yang mereka alami dan saksikan,” ungkap Ari.

Kendala lainnya kemudian adalah bagaimana mereka melalui tahap penulisan dan analisa hasil penggalian data tentang sejarah desanya. Dalam hal ini, bisa jadi mereka membutuhkan penguatan kapasitas tersendisi khusus penulisan sejarah desa. Sehingga data sejarah desa juga akan sangat bermanfaat dalam proses penyusunan dokumen rencana pembangunan jangka menengah desa (RPJMDesa). RPJMDesa merupakan  dokumen perencanaan pembangunan yang  berfungsi acuan utama pelaksanaan  pembangunan desa untuk kurun waktu 6 (enam)  tahun. Di mana salah satu langkah dari penyusunan RPJMDesa adalah penggalian databese desa meliputi profile desa, penelusuran sejarah desa, memetakan aset  desa, membangun mimpi desa, strategi  pengembangan aset dan menganalisa,  menyusun program dan kegiatan RPJMDesa.  Selebihnya, sejarah desa akan lebih baik jika ditulis dan dibukukan dan menjadi dokumen penting bagi desa.

=========

Catatan pembelajaran ini ditulis oleh Alimah, Gender Specialist Institute for Education Development, Social, and Religious Studies (Infest).  Desa Tegal Arum, Tirta Kencana dan Teluk Singkawang adalah desa dampingan Infest Yogyakarta yang telah membentuk tim pembaharu desa (TPD) untuk Perencanaan Apresiatif Desa (PAD), salah satu tahapan kegiatan yang diselenggarakan Infest Yogyakarta atas kerjasama Pemkab Tebo dan Pemdes Teluk Singkawang, Tegal Arum, dan Tirta Kencana. Program ini didukung oleh Making All Voices Count (MAVC) HIVOS.