Arsip Tag: Pemuda Penggerak Desa

Kolaborasi Pengelolaan Kebun Toga Antara Kelompok Perempuan & Pemuda Desa Tegal Arum

“Ketika pohon terakhir ditebang, Ketika sungai terakhir dikosongkan, Ketika ikan terakhir ditangkap, Barulah manusia akan menyadari bahwa dia tidak dapat memakan uang.”

― Eric Weiner, The Geography of Bliss: One Grump’s Search for the Happiest Places in the World

Kalimat inspiratif yang popular dikutip sejumlah aktivis peduli lingkungan hidup ini, terus terngiang di ruang pikir. Di setiap perjalanan menuju sebuah desa, saya tak henti memerhatikan suasana di kanan kiri jalan dusun. Hadir di sebuah desa berarti tidak sekadar mengenal sumber daya manusia (SDM) penghuni desa, lebih dari itu, ada kekuatan sumber daya alam (SDA) desanya yang juga memiliki peran sentral terhadap keberlangsungan hidup mereka. Belum lagi kekuatan lainnya seperti kekuatan social, kelembagaan, keuangan, infrastruktur, juga spiritual-budaya yang terkadang luput dari perhatian kita.

Ketika datang di sebuah desa yang baru saya kunjungi, hal pertama yang selalu membuat saya penasaran adalah bagaimana aktifitas perempuannya. Saya selalu berkeyakinan, ketika saya mampu menguak kondisi perempuan di sebuah wilayah, maka semua hal penting lainnya akan terkuak dengan mudah. Karena para perempuan biasanya akan bicara tentang banyak hal. Mereka tidak sekadar memikirkan persoalan pribadinya, kebutuhan dasarnya, namun juga anak-anaknya serta lingkungan sosial di sekitarnya. Ia akan bicara mengenai anak-anaknya, usahanya, lingkungannya, dan banyak hal lagi. Namun ini hanya cara saya saja yang paling memungkinkan sesuai kapasitas saya saat berada di desa. Sekilas memang terkesan agak bias sebenarnya, seakan hanya melulu bicara perempuan. Karena sebenarnya, “perempuan” di sini bukan sekadar jenis kelamin, namun juga bisa sebagai “perspektif” dan kunci menguak kehidupan di sebuah tempat atau wilayah.

Nah kali ini, saya ingin berbagi pengalaman saya bersama para perempuan di desa-desa yang pernah saya kunjungi. Dari sejumlah desa tersebut, yang cukup menarik perhatian saya adalah Desa Transmigran Jawa di Propinsi Jambi, tepatnya di Desa Tegal Arum, Kecamatan Rimbo Bujang, Kabupaten Tebo. Tapi di cerita saya kali ini saya akan focus bercerita tentang kebun Toga yang dikelola para perempuan dan pemudanya.

Tegal Arum: Sebuah Nama dan Pengharapan

Desa Tegal Arum adalah salah satu desa transmigran Jawa di Kecamatan Rimbo Bujang, Kabupaten Tebo, Propinsi Jambi. Sebelum cerita tentang kebun tanaman obat keluarga (Toga) di Desa Tegal Arum, sayang sekali jika kita luput mengenal Desa Tegal Arum sendiri. Jadi di bagian ini, mari saya hantarkan untuk sekilas mengenal desanya dulu. Apa yang saya ceritakan di sini berdasarkan pengamatan dan cerita yang digali oleh para pemuda, perempuan, dan perangkat desanya tentang sejarah desa mereka.

Munculnya desa-desa transmigran termasuk Desa Tegal Arum, ini tidak terlepas dari program pemerintah Indonesia yang menginisiasi program transmigrasi di masa Orde Baru (Orba). Program ini dicanangkan oleh Persiden Suharto pada tahun 1977. Animo masyarakat yang ingin mengadu nasib di tanah seberang saat itu begitu banyak untuk ikut dalam program transmigrasi. Menurut hasil penggalian data sejarah Desa Tegal Arum, para warga yang akhirnya tiba di Desa Tegal Arum yang saat itu masih bernama “Unit 5”, mulai berangkat pada Kamis Pon 24 Maret 1977. Rombongan ini berangkat dari berbagai daerah rata-rata naik bus menuju kota Semarang, setelah menginap semalam, esok harinya mereka naik kereta api bertolak menuju Pelabuhan Tanjung Priuk Jakarta. Dari Tanjung Priuk, rombongan transmigrasi kemudian diberangkatkan dengan menggunakan Kapal Vande Bori menuju pelabuhan Teluk Bayur (Padang) dan singgah di Pelabuhan Panjang, Teluk Keceng, Tanjung Karang. Setelah menginap di Padang selama satu malam, kemudian rombongan transmigrasi diberangkatkan kembali menggunakan bus menuju Rimbo Bujang. Setibanya di Rimbo Bujang, rombongan transmigrasi ditampung beberapa waktu untuk menunggu jemputan yang menuju ke arah unit lima dan proses penjemputan menggunakan mobil truk dan setibanya di unit lima pada Selasa Kliwon 5 April 1977 jam 3 sore.

Di antara transmigran yang datang dari Jawa, mereka tersebar di beberapa desa, salah satunya adalah “Unit Lima”, atau yang kini bernama Desa Tegal Arum. Nama Tegal Arum sendiri dihasilkan berdasarkan kesepakatan Musyawarah Desa (Musdes), sebuah forum tertinggi di tingkat Desa. Proses menyepakati nama pun tak hanya sekali dua kali pertemuan kemudian muncullah sebuah nama desa. Tidak, tidak demikian, karena ternyata haru melalui musyawarah panjang dan berkali-kali, belum lagi perdebatan-perdebatan yang cukup kencang tentang nama yang cocok untuk desa mereka. Hingga akhirnya, disepakatilah nama desa yang di “unit lima” ini dengan nama “Tegal Arum”. Makna “Tegal” berarti hutan yang mana pada saat itu masih hutan belantara, sementara “Arum” berarti wangi. Ada banyak beragam mimpi warganya dalam sebuah nama yang tak sekadar nama, namun juga inspirasi dan harapan bagi penghuni desa dan anak cucunya kelak.

Siapa Warga Tegal Arum?

Dalam sejarah munculnya Desa Tegal Arum, saya hanya membahas munculnya nama dan maknanya. Namun sebelum ada kesadaran menyepakati sebuah nama, ada sejarah panjang munculnya desa ini. Menurut para tokoh sejarah maupun tokoh adat yang saat ini masih hidup dan mampu digali informasinya, warga Desa Tegal Arum awalnya adalah sebuah rombongan transmigran. Mereka, para transmigran ini datang ke unit lima (5) yang berasal dari beberapa daerah di Pulau Jawa seperti daerah Pati, Jepara, Tegal, Kebumen, Klaten, Wonogiri, Solo, Yogja, Magelang, Salatiga, dan Purwodadi.

Para transmigran dari sejumlah daerah di Jawa itu terus bekerja keras. Di antara mereka ada yang kembali lagi ke daerah asalnya, namun banyak juga yang tetap bekerja keras dan bertahan hingga sukses sampai sekarang. Kepala Desa sementara yang ditetapkan saat itu adalah bapak Soehadi. Dia adalah pejabat sementara Kepala Desa yang ditunjuk oleh tokoh-tokoh masyarakat pada saat itu. Para tokoh masyarakat itu kemudian berkumpul lagi dan bermusyawarah untuk membahas pemberian nama desa di unit lima, yaitu Desa Tegal Arum seperti yang sudah saya bahas di paragraph sebelumnya.

Mata pencarian warga Desa Tegal Arum pada umumnya adalah petani, tapi itu dulu sebelum PTP masuk dan mengajak masyarakat  untuk menanam karet. Saat ini masih ada beberapa petani di Desa ini, meskipun tidak banyak petani di desa ini, namun pembinaan pertanian di desa ini cukup baik. Artinya tidak mustahil jika jika kelak mereka memproduksi sayuran dan bahan pangan yang baik dan berkualitas.

Dari sekian peristiwa penting lainnya, kini tahun 2017, Desa Tegal Arum yang kini dipimpin oleh Bapak Rohmad Annas sebagai Kepala Desa (Kades), telah mendapatkan penghargaan sebagai Desa Terbaik dalam Lomba Desa mulai dari Tingkat Kecamatan, Kabupaten, hingga Provinsi Jambi. Banyak factor yang membuat Desa ini menjadi Juara dalam Lomba tersebut, namun factor yang cukup penting dari semua factor itu adalah partisipasi wargannya, atau kekompakan warganya dalam membangun desa, serta transparansi dan akuntabilitas pemerintah desanya.

Kolaborasi Pemuda Penggerak Desa dan Kelompok Perempuan.

Di desa Tegal Arum, 80% warganya berkebun, biasanya warga mengelola perkebunan karet dan kelapa sawit. Perkebunan karet ada atau ditaman sejak zaman masuknya transmigrasi kedesa Tegal Arum yang pembibitanya bekerja sama dengan PTP dengan sistem pinjam dengan sertifikat tanah, dan dekaran utang itu udah lunas dan sertifikat sudah dikembalikan. Hampir semua perkebunan karet yang ditanam sudah dalam kondisi rusak, dan sebagian perkebunan sudah ditanami ulang oleh pemiliknya. Ada beberapa hal yang membuat perkebunan rusak, di antaranya terkena jamur akar putih yang terus menyebar tanpa ada pengendalian. Selain itu dikarenakan ketidaktahuan cara pembasmian dan pencegahanya. Sebenarnya hal ini bisa di siasati dengan sosialisasi atau penyuluhan dari PPL melalui kelompok tani, baik itu pemilihan bibit unggul, cara penanaman, cara perawatan dan cara pengendalian hama atau pun jamur yang merusak pohon karet. Sedangkan untuk kelapa sawit permasalahanya pada pemupukan, karena mahalnya pupuk dan kelangkaan pupuk. Untuk mengatasi ini, desa biasanya meminta bantuan pupuk kepada dinas pertanian maupun itansi terkait. Selain itu permasalahanya adalah rendahnya harga jual getah karet, seharusnya hal ini bisa di kendalikan dengan cara membentuk kelompok lelang untuk penjualanya. Karena Perkebunan adalah penghasilan pokok warga Desa Tegal Arum, hasil perkebunan sangat mempengaruhi kebutuhan warga Tegal Arum. Jadi jika perkebunan di desa Tegal Arum ini baik, maka akan meningkat pula penghasilan warganya.

Selain berkebun karet, warga Tegal Arum juga beternak, berkebun singkong, buah naga, dan sejumlah tanaman obat keluarga (Toga). Toga pada umumnya dikerjakan secara berkelompok. Toga adalah tanaman hasil budidaya rumahan yang berkhasiat sebagai obat. Taman obat keluarga pada hakekatnya adalah sebidang tanah, baik di halaman rumah, kebun ataupun ladang yang digunakan untuk membudidayakan tanaman yang berkhasiat sebagai obat dalam rangka memenuhi keperluan keluarga akan obat-obatan. Kebun tanaman obat atau bahan obat dan selanjutnya dapat disalurkan kepada masyarakat, khususnya obat yang berasal dari tumbuh-tumbuhan. Budidaya tanaman obat untuk keluarga (Toga) dapat memacu usaha kecil dan menengah di bidang obat-obatan herbal sekalipun dilakukan secara individual. Setiap keluarga dapat membudidayakan tanaman obat secara mandiri dan memanfaatkannya, sehingga akan terwujud prinsip kemandirian dalam pengobatan keluarga.

Di sejumlah desa pada umumnya, kebun Toga biasanya dikelola oleh kelompok perempuan di desa. Namun kebun di desa ini dikelola secara kolaboratif oleh Pemdes dan warga, khususnya para Pemuda Pemudi Penggerak Desa dan Kelompok Perempuan di Desa ini. Tentang Pemuda Desa Tegal Arum, saya sudah pernah menuliskan kiprah mereka dalam pembangunan desa di laman ini yang berjudul Pemuda Penggerak Desa, Bertani dan Mengabdi . Sementara para perempuan di desa ini, pada umumnya aktif di kegiatan social di desa, di antaranya melalui kegiatan rutin di PKK. Mereka juga sudah menyadari tentang pentingnya kesehatan, serta tentang persalinan yang harus dilakukan di Puskesmas. Selebihnya, mereka aktif dalam kegiatan organisasi keagamaan serta mengembangkan ketrampilan mereka membuat barang-barang yang dimanfaatkan dari bahan-bahan yang ada di desa. Profesi mereka beragam, ada yang sebagai buruh tani, pegawai negeri, pedagang, dan ada juga yang mempunyai keteampilan sebagai penjahit dan makanan ringan. Home Industries  di Desa ini juga sangat membantu pendapatan para perempuan yang bekerja secara penuh di rumahnya, hal ini juga sangat membantu untuk mengurangi angka pengangguran di desa.

Di luar aktifitas rutin mereka terlibat aktif dalam kegiatan yang diinisiasi Pemdes, para perempuan di setiap dusun maupun di tingkat RT pada umumnya mengelola kebun tanaman obat keluarga (Toga). Tahun 2017, kebun Toga di desa ini tidak hanya terdapat di lingkungan RT maupun Dusun, namun kini sudah ada di tingkat Desa. Pengelolaannya Toga pun dilakukan secara partisipatif antara Pemdes dan warganya, terutama kolaborasi yang dilakukan oleh kelompok perempuan dan para pemuda pemudinya. Mereka membentuk kepengurusan, termasuk mengatur siapa yang bertanggung jawab untuk menyiram tanaman tiap pagi dan sore dan seterusnya. Tidak heran, meskipun usia Kebun Toga ini masih tergolong muda, namun tanaman obat di kebun ini cepat sekali tumbuh dan menghijau.

Toga di kebun ini juga sudah mulai dimanfaatkan masyarakat di desa. Kebun yang dibangun di atas Tanah Kas Desa (TKD) ini tidak sekadar kebun Toga, namun juga tempat yang asyik untuk bersantai, selain luas juga ada fasilitas yang asyik, misalnya untuk berdiskusi merencanakan kegiatan dan sejumlah rencana pemanfaatan kebun Toga untuk beragam momen. Kebun Desa Tegal Arum ini terletak tepat di samping Kantor Desa Tegal Arum dan beberapa fasilitas umum lainnya. Kekompakan warga dan pemerintah desa ini cukup mendapat banyak perhatian dan inspirasi dari desa-desa lainnya. Termasuk perhatian dari pemerintah daerah. Tidak heran, Desa Tegal Arum tahun ini menjadi Juara I dalam Lomba Desa mulai dari tingkat Kecamatan, Kabupaten, hingga se-Provinsi Jambi. Desa yang kompak antara Pemdes dan warganya, desa dengan semangat belajar untuk perubahan yang lebih baik lagi, desa yang tidak sekadar kaya data, namun juga partisipatif dan transparan. Saat main ke desa-desa adalah saatnya belajar dari para warganya, termasuk belajar dari Desa Tegal Arum dengan segala kreativitas warganya, produk-produk kreasi warganya, serta beragam aset sosial dan spiritual budayanya.

====

*Tulisan ini berdasarkan pengalaman Alimah Fauzan,  gender specialist di Institute of Education Development, Social, Religious and Cultural Studies (Infest Yogyakarta ) selama melakukan pengorganisasian Perencaaan Apresiative Desa (PAD) di 3 Desa di Kabupaten Tebo, yaitu Desa Tegal Arum, Desa Tirta Kencana, dan Desa Teluk SIngkawang. PAD ini merupakan salah satu tahapan kegiatan yang diselenggarakan Infest Yogyakarta atas kerjasama Pemkab Tebo dan Pemdes Teluk Singkawang, Tegal Arum, dan Tirta Kencana. Program ini didukung oleh Making All Voices Count (MAVC) HIVOS. Keterangan dalam tulisan ini juga berdasarkan informasi dari penuturan dan data sejarah desa yang tertuang dalam dokumen rencana pembangunan jangka menengah desa (RPJMDesa) Tegal Arum. 

Pemuda Penggerak Desa: Bertani dan Mengabdi

“Bekerja sebagai petani, mungkin sebagian orang berpikir bahwa pekerjaan yang rendah, pekerjaan orang desa, kotor dan lain sebagainya. Tapi bagi saya bekerja sebagai petani itu luar biasa. Jika dilihat dari segi penghasilan, sebenarnya petani dengan PNS tidak beda jauh. Hanya saja seragam yang membedakannya. Petani adalah pahlawan bangsa. Ya, ungkapan itu cukup tepat meskipun terkesan berlebihan. Bagaimana tidak, jika semua orang tidak mau menjadi petani khususnya orang Tebo, terus dari mana material pembuatan ban motor, mobil mau dari mana? Apakah kita mau impor lagi? Ini hanya contoh kecil saja.”
(Ari Rudiyanto, Pemuda Penggerak Desa Tegal Arum)

Suatu hari saya merasa takjub dengan semangat para pemuda dan pemudi di beberapa desa di kabupaten Tebo, Jambi. Semangat mereka untuk membangun desanya dan menggerakkan warga di desa. Semangat mereka untuk belajar tentang bagaimana membangun desa bersama Pemdes dan warga. Semangat yang jarang saya temukan sebelumnya di desa-desa yang pernah saya kunjungi, bahkan termasuk desa kelahiran saya. Tulisan ini juga bukan untuk membahas soal desa saya yang ditinggalkan para pemuda dan pemudinya untuk keluar kota atau bermigrasi. Namun tentang para pemuda yang terus semangat, peduli dan rendah hati mengabdi dan membangun desanya. Mereka adalah para pemuda di beberapa desa di kabupaten Tebo, Jambi.

Mengajar, Bertani, dan Mengabdi untuk Desa

15079077_10202654984973945_8071131794197070112_n

Ari bersama beberapa pemuda penggerak desa. Ari berdiri paling belakang dengan syal di lehernya. Kades Tegal Arum yang membawa kertas bertuliskan “I Love Tegal Arum”. (Sumber foto: Facebook Ari)

Dalam sejumlah kunjungan ke beberapa desa, saya pernah bertanya pada pemuda desa di daerah transmigran. Saya hanya sekadar ingin tahu, maka pertanyaan saya pun sederhana, “Apa saja aktifitasmu di desa?”. Dari sekian jawaban mereka, yang sama adalah aktifitas mereka membantu orang tua mereka di kebun. Ada beberapa di antaranya adalah bekerja sebagai guru. Rutinitas hariannya, setiap pagi sebelum berangkat mengajar, mereka menyempatkan diri dulu ke kebun membantu kedua orang tua mereka bertani atau berkebun. Begitu pun pemuda yang bekerja sebagai perangkat desa, maka pagi buta sebelum ke kantor desa, mereka biasanya akan ke kebun terlebih dahulu, atau usai bekerja dari kantor desa atau mengajar, maka mereka akan menyempatkan diri ke kebun. Waktu luang selain mengajar dan bertani adalah berkumpul bersama komunitas pemuda dan komunitas lain di desanya. Mereka berkumpul bukan sekadar ketika ada kegiatan yang bersifat seremonial, lebih dari itu mereka berbagi gagasan dan merancang perubahan yang lebih baik untuk desanya.

Dari sekian pemuda itu, ada salah satu pemuda desa bernama Ari Rudiyanto (23 tahun). Aktifitas rutinnya di desa sama seperti yang sudah saya paparkan, yaitu berkebun, mengajar di salah satu sekolah, dan mengabdi di desanya sebagai pemuda penggerak desa. Dia lahir di Desa Tegal Arum, Kecamatan Rimbo Bujang, Kabupaten Tebo, Provinsi Jambi. Sebagai pemuda desa, jika dia mau, maka sebenarnya dia memiliki banyak pilihan untuk ke luar dari desanya dan mengepakkan ‘sayap’-nya sejauh yang dia inginkan. Karena sebenarnya dia memiliki kapasitas lebih dari apa yang dia lakukan saat ini di desanya. Dia lulusan sarjana strata 1 (S1) Kimia dari salah satu perguruan tinggi swasta, Universitas Islam Indonesia (UII) di Kota Yogyakarta. Dia juga tidak kurang mendapatkan tawaran pekerjaan. Namun, dia memilih tetap di desa, mengajar, bertani, dan mengabdi menggerakkan desanya. Bertani dan Mengabdi, karena mengajar juga bagian dari pengabdian.

Kembali ke Desa dan Membangun Desa

Ari hanya satu dari sekian pemuda di desa yang masih memiliki semangat mengabdi dan memberdayakan warga desanya. Di desanya, pemuda-pemudi seusianya begitu bersemangat belajar tentang desanya, termasuk kepala desanya sendiri adalah seorang pemuda desa yang penuh semangat belajar dan melakukan perubahan. Mereka begitu antusias belajar tentang perencanaan apresiatif desa, salah satu tahap kegiatan dari program yang diselenggarakan oleh Institute of Education Development, Social, Religious and Cultural Studies (Infest) Yogyakarta, atas kerjasama Pemkab Tebo dan Pemdes Tegal Arum. Di Rimbo Bujang, selain Tegal Arum, desa dampingan lainnya adalah desa Tirta Kencana, sementara desa lainnya adalah desa Teluk Singkawang, kecamatan Sumay.

Di masing-masing tiga desa tersebut, yang membuat saya takjub adalah semangat para pemuda-pemudi dan para ibu di desa. Sebagai pemuda yang memiliki gelar dari perguruan tinggi, Ari mengaku pernah memiliki pemikiran untuk bekerja dengan gaji di atas rata-rata. Namun di akhir studinya, dia sempat merenungkan pemikirannya sendiri untuk kembali lagi ke desa.

“Saya memutuskan untuk pulang meskipun sebenarnya ada beberapa lowongan di beberapa daerah seperti di Tangerang dan Kalimantan. Ketika saya memutuskan untuk pulang, saya sebelumnya memang tak punya pandangan mau kerja apa di desa nanti. Karena di desa tidak ada pekerjaan yang sesuai dengan latar belakang pendidikan saya,” ungkap Ari pelahan.

“Saya hanya punya tekad ingin ikut membantu membangun desa. Akan tetapi waktu itu saya belum paham mau memulainya dari mana? Tapi saya tetap bergerak membantu sebisa saya. Ketertarikan saya ikut terjun dalam kegaitan di desa berawal ketika saya kuliah kerja nyata (KKN). Waktu itu program saya adalah membuat pupuk cair organik. Ketika saya sedang sosialisasi program, saya dibuat bengong oleh kelompok tani di desa tersebut. Ternyata mereka lebih paham dari pada saya. Dari situ saya berpikir, kenapa desa saya tidak bisa seperti ini?”.

Wong Isin Kui Bakal Ngeleh

Berawal dari pengalaman tersebut, Ari pun memilih kembali ke desanya dan bertekad untuk turun tangan membangun desanya melalui Pemuda Penggerak Desa. Kendati demikian, dia sadar belum memiliki pengalaman bagaimana membangun desanya, maka “memulai” bergerak dan belajar dari nol adalah jawaban paling tepat saat itu. Sampai akhirnya dia secara resmi menjadi seorang guru, dia sadar tantangan berikutnya adalah membagi waktu ketiga jenis aktifitas di tempat yang berbeda.

“Jam 06.00 pagi sampai jam 07.30, saya membantu orang tua di kebun, jam 08.00 sampai jam 2 saya mengajar, jam 03.00 sampai jam 10.00 saya mulai membantu kegiatan di desa. Setiap hari ya seperti itu. Kenapa saya masih mau berkebun? Karena di pagi hari saya masih memiliki waktu cukup luang, dari pada bangun tidur siang, lebih baik saya membantu orang tua saya sekaligus sebagai balas budi saya dan wujud bakti saya kepada orang tua. Meskipun tidak banyak yang bisa saya lakukan setidaknya bisa sedikit meringankan. Kata orang jawa “wong isin kui bakal ngeleh” (orang yang malu/gengsi itu bakal lapar),” papar Ari.

Sambil bercerita, Ari sesekali berhenti sejenak merenungkan kalimatnya sendiri. “Meskipun”, lanjutnya, “Setelah dari kebun, harus ekstra dalam bersih-bersih tangan agar tidak bau getah saat salaman sama murid-murid,” kata Ari sambil menertawakan dirinya sendiri.

Di desanya, masyarakat mayoritas adalah petani karet, termasuk orang tuanya. Setiap orang memiliki maknanya sendiri tentang bekerja. Meskipun sama-sama bekerja, namun bisa jadi memiliki makna yang berbeda. Apakah dia bekerja sekadar untuk mengejar finansial seperti uang, kedudukan, dan lain sesuatu yang bersifat materi, ataukah dia bekerja untuk berkarya, bekerja untuk mengabdi dan lain sebagainya. Bagi Ari sendiri, bekerja haruslah menuruti atau sesuai dengan kata hati atau nurani, dan pastikan bahwa kita merasa nyaman. Karena kenyamanan membuat kita bekerja dengan tulus dan ikhlas, bukan sebagai robot.

“Bekerja sebagai petani, mungkin sebagian orang berpikir bahwa pekerjaan yang rendah, pekerjaan orang desa, kotor dan lain sebagainya. Tapi bagi saya bekerja sebagai petani itu luar biasa. Jika dilihat dari segi penghasilan, sebenarnya petani dengan PNS tidak beda jauh. Hanya saja seragam yang membedakannya. Petani adalah pahlawan bangsa. Ya, ungkapan itu cukup tepat meskipun terkesan berlebihan. Bagaimana tidak, jika semua orang tidak mau menjadi petani khususnya orang Tebo, terus dari mana material pembuatan ban motor, mobil mau dari mana? Apakah kita mau impor lagi? Ini hanya contoh kecil saja.”

Peran Pemuda dalam Pembangunan Desa

14449942_1567093909983745_9119931549890291945_nMengenal sosok pemuda seperti Ari yang sudah berpanjang lebar menceritakan tentang kiprahnya di desa, rasanya sayang sekali jika tidak bertanya tentang peran pemuda dalam pembangunan desa. Maka dengan lancar, Ari pun menjawab berdasarkan sudut pandangnya sebagai pemuda desa Tegal Arum.

“Sebenarnya, peran pemuda dalam pembangunan desa tidak terlepas dari peran pemerintah desa, khususnya seorang Kades. Apa yang terjadi di desa Tegal Arum mungkin berbeda dengan desa lainnya, tapi saya ingin sedikit bercerita bahwa apa yang saya alami bersama teman-teman pemuda penggerak desa tidak terlepas dari kecerdasan Kades kami.”

Kades yang dia maksud adalah Rohmad Annas, usianya tergolong masih muda, namun pengabdiannya di desa cukup konsisten, mulai dari Kadus hingga Kades.

“Walaupun beliau hanya lulusan SMP, tapi semua mengakui pola pikir beliau. Ketika banyak orang berpikir bahwa pemuda identik dengan masalah, namun Kades tidak seperti itu, pemuda adalah solusi jika diberi wadah dan kesempatan, karena banyak yang tidak percaya sama pemuda, sehingga peran aktif pemuda sangat terbatas sekali. Baginya, pemuda adalah harapan. Dalam 1 tahun, ada begitu banyak kegiatan, termasuk acara-acara besar yang selalu diselenggarakan di desa. Semua itu adalah wadah bagi kami para pemuda untuk mengabdi dan berkarya bagi desa. Jadi peran pemuda bagi saya adalah mengabdi dan berkarya bagi desa.”

Di desa Tegal Arum, Pemuda Penggerak Desa berdiri sejak masa pemerintahan Rohmad Annas, Kades yang dimaksud Ari sebagai Kades yang berperan penting dalam memberdayakan pemuda di desa. Tepatnya April 2016 bersamaan dengan acara Hari Ulang Tahun (HUT) Desa.

“Saya memang tidak bergabung dari awal. Karena pada waktu itu saya baru saja kembali dari Yogyakarta, jadi sekitar 8 bulanan pemuda ini terbentuk, meskipun baru seumur rambut jagung, gebrakan yang dilakukan cukup luar biasa dan sangat membantu pihak Desa.”

Sebagai pemuda desa, Ari berharap agar pemerintah desa tetap memberdayakan para pemuda di desa. Ari juga punya pesan tersendiri kepada semua Kades di Indonesia. Pemdes bukan sekadar pelayan desa, bukan juga sekadar pekerja untuk desa. Menjadi Pemdes khususnya Kades seharusnya bukan sekadar pemerintah yang puas bekerja di dalam ruangan kantor desa. Namun lebih dari itu, Kades adalah pemimpin bagi warganya, guru bagi warganya, orang tua bagi warganya, sahabat bagi warganya yang mampu membuat nyaman warganya, betah di desa, sedih dan gembira bersama.

Bagaimana Pemuda di Desamu?

Ari hanyalah salah satu contoh dari sekian pemuda yang masih memiliki harapan yang kuat akan desanya. Juga pemuda yang masih memiliki mimpi untuk terus membangun desanya. Iya, tentu saja semangat yang saya maksud bukanlah semangat para pemuda yang bermimpi dan berlomba meninggalkan desanya untuk ke kota bahkan ke luar negeri. Cerita Ari mengingatkan saya akan pemuda di desa kelahiran saya. Sebuah desa di mana para pemudanya berlomba menjadi pekerja migran di Taiwan dan Korea, tepatnya setelah mereka lulus SMA. Jika tahun 1990-an para orang tuanya khususnya ibu mereka menjadi pekerja migran di Timur Tengah, kini anak-anaknya memimpikan bekerja di Taiwan, Korea, dan Hongkong, lalu mereka pun akan menikah muda, lalu meninggalkan istrinya yang juga masih sama-sama mudanya. Kendati demikian perjalanannya tetap dipenuhi kekhawatiran, tentang apa yang harus mereka lakukan ketika kembali lagi ke desanya. Kekhawatiran itulah yang pada akhirnya membawa mereka kembali menjadi pekerja migran, entah sampai kapan.

Sungguh tidak ada yang salah bagi mereka para pemuda dan pemudi yang berlomba menjadi pekerja migran. Karena bahkan, pada kondisi tertentu sangatlah mulia bekerja menghasilkan uang dan membiayai hidup keluarganya. Tapi, sampai kapan mimpi pemuda-pemudi Indonesia hanya sebatas menjadi pekerja migran? Khususnya di bidang pekerjaan yang membuat mereka tidak bisa berkembang. Berapa jumlah pemuda-pemudi yang tersisa di desa jika yang mereka pikirkan sejak kecil hanyalah menjadi pekerja migran? Meskipun saya melontarkan pertanyaan-pertanyaan tersebut, nyatanya sampai saat ini saya tidak mampu menjawabnya. Kalaupun saya mampu menjawabnya, bisa jadi saya belum mampu mewujudkannya. Karena pertanyaan tersebut memang bukan hanya ditujukan pada para pemuda-pemudi, namun juga pemerintah dan sistem yang membuat mereka tidak memiliki pilihan lain selain bermigrasi. Harapan saya, kelak pemuda di desa kelahiran saya atau di manapun memiliki mimpi lebih tinggi lagi, memiliki pilihan karir yang lebih banyak, juga sistem yang memberi kesempatan dan memudahkan mereka mewujudkan mimpinya. Dan semoga orang-orang seperti saya tidak sekadar berharap, tapi juga turut bergerak mewujudkannya.

Keterangan Penulis:

*Alimah Fauzan adalah gender specialist di Institute of Education Development, Social, Religious and Cultural Studies (Infest) Yogyakarta. Pengalaman tentang pemuda desa ini merupakan salah satu pembelajaran penting dari proses pengorganisasian komunitas yang dilakukan Infest Yogyakarta di sejumlah desa, khususnya komunitas pemuda desa dan perempuan sebagai salah satu kekuatan sumber daya manusia (SDM).