Arsip Tag: Pemetaan sosial

Menulis Hal Sederhana hingga Kompleksnya Persoalan Desa

Oleh Alimah

Sejumlah orang bertanya, bagaimana perempuan di Sekolah Perempuan mampu menuliskan tentang desanya dalam waktu singkat? Pertanyaan tersebut muncul setelah laman ini mengangkat berita berjudul “Kala Perempuan Menulis Desanya”. Mungkin dalam pikiran mereka ada yang meragukan ibu-ibu di desa begitu cepat mengungkapkan isi pikiran mereka tentang desa melalui tulisan. Apalagi ibu-ibu dan bapak-bapak di desa itu rata-rata lulusan Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan yang lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) bisa dihitung jari. Apalagi yang lulusan perguruan tinggi. Di salah satu desa, lulusan perguruan tinggi hanya bidan desa yang juga menjadi peserta Sekolah Perempuan. Ada beberapa guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan pengampu di Pos PAUD. Mereka pun paling banyak lulusan SD dan SMP.

Lalu, apa yang membuat mereka bisa menulis dalam waktu singkat? Tulisan yang dimaksud di sini bukan sekadar tulisan ala kadarnya. Lebih dari itu, kumpulan kalimat mereka mengandung kepentingan untuk sebuah perubahan yang lebih baik bagi desanya terutama keberpihakan mereka pada kelompok perempuan, anak, dan kelompok yang selama ini terpinggirkan dalam proses pembangunan di desanya.

Tidak Singkat, Ada Tahapannya

Dalam prosesnya, tulisan yang mereka goreskan sebenarnya tidak bisa disebut singkat. Membangkitkan tentang pentingnya menulis bagi mereka serta teknik menulisnya mungkin bisa disebut singkat, namun bagaimana kemudian mereka mampu menuliskan gagasan tentang desanya itulah yang saya sebut tidak singkat. Apalagi menulis dengan perspektif dan keberpihakan tertentu.

Begini, saya ingin cerita bahwa sebelum mereka berada dalam satu ruangan selama beberapa jam belajar teknik menulis, mereka juga telah mengikuti serangkaian kegiatan di kelas maupun di luar kelas Sekolah Perempuan yang telah diselenggarakan oleh Infest Yogyakarta sejak awal Maret 2015.

Rangkaian kegiatan Sekolah Perempuan baik di kelas maupun di luar kelas tersebut di antaranya adalah: Belajar bersama tentang gender Dasar bersama Mukhotib MD. Selain itu, peserta Sekolah Perempuan juga belajar dan membedah bersama Undang-undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, khususnya posisi perempuan dalam pembangunan desa. Mereka juga diajak untuk mengidentifikasi mimpi perubahan di desanya, tahapan apa yang harus dilakukan, peluang dan tantangannya.

Dilanjutkan dengan belajar pemetaan aset dan potensi desa. Peserta Sekolah Perempuan yang sebagian besar ibu-ibu ini berkolaborasi dengan pemerintah desa (Pemdes)  mengidentifikasi aset dan potensi desanya. Mereka melakukan wawancara mendalam berdasarkan instrumen yang sudah disepakati. Dari proses tersebut, mereka mulai mengetahui betapa kaya dan beragam aset di desanya, baik itu aset sumber daya alam (SDA), sumber daya manusia (SDM), kelembagaan, keuangan, sosial, fisik/infrastruktur, dan spiritual-budaya.

Dalam proses pemetaan tersebut, mereka tidak hanya mengetahui aset dan potensi yang ada di desanya. Ada pembelajaran penting saat mereka berkeliling desa. Melihat setiap sudut dan perubahan-perubahannya. Atau, saat mereka mendapatkan informasi dari para narasumber yang mereka wawancarai. Secara pelahan, pikiran mereka menangkap beragam informasi dan pengalaman dari beberapa pihak.

Hingga tiba pada tahap dimana mereka harus mulai menarasikan data aset dan potensi yang telah mereka miliki. Pengetahuan dan informasi tentang aset dan potensi desa sudah didapat dan dicatat dalam tabel, berikut keterangan dari narasumber. Mereka pun telah membuat peta aset dan potensi desa. Namun dokumen tersebut belum mengungkap secara detail tentang kondisi, perubahan, sejarah, harapan dan kebutuhan warga. Untuk mengungkap informasi, pengetahuan serta pengalaman, maka pada  7-8 Agustus 2015, peserta Sekolah Perempuan mulai belajar penulisan naratif bersama Yudi Setiyadi, pegiat jurnalisme warga dari Komunitas Pena Desa.

Tahapan Menulis Aset dan Potensi Desa

1) Memberikan Motivasi Pentingnya Menulis

Dalam prosesnya, mungkin benar jika ada yang berpikir bahwa tidak mudah membuat para ibu di desa itu agar mau menulis tentang aset dan potensi desanya. Namun kita juga tidak bisa berpikir bahwa itu sulit. Selalu ada strategi. Salah satu yang dilakukan dalam proses menulis ini ialah bagaimana agar peserta memiliki pemahaman bahwa menulis itu penting lalu termotivasi.

Sang fasilitator yang memang memiliki latar belakang sebagai jurnalis warga dengan pengalaman menulis dari nol, pun mulai bercerita bagaimana dia mampu menulis di Komunitas Pena Desa sebagai salah satu komunitas dari desa yang tergabung untuk belajar menulis dan berbagi tentang kesulitan-kesulitan yang dihadapi.  Termasuk menjawab pertanyaan yang sering muncul dari peserta ketika akan membahas “menulis” adalah untuk apa kita menulis?

2) Memulai “mengatakan” dan “melukiskan” sesuatu yang sederhana dan dekat

Tahapan berikutnya adalah peserta mulai diajak “mengatakan” dan “melukiskan” sesuatu yang sederhana dan dekat dengan kehidupan mereka dalam bentuk tulisan. Contohnya ketika mereka mengatakan “panci” maka bisa dilukiskan “ibu-ibu akan membawa sayur, masak, api dan lain-lain.” Itu merupakan penggambaran dari sebuah panci. Setelah menemukan gambaran besar, maka dari situ bisa melukiskan lebih detail tentang panci.

Dari proses ini, peserta pun mulai diajak menuliskan tentang sesuatu yang sederhana dan dekat dengan mereka. Contohnya hasil tulisan Tri Hariyani, salah satuu peserta Sekolah Perempuan dari desa Jatilawang yang telah “mengatakan” dan “melukiskan” tentang Pasar di desanya dalam bentuk tulisan yang bisa dilihat berikut ini:

MENGATAKAN   

  • Los-los Kios
  • Penjual
  • Pembeli
  • Jual Beli
  • Penjual pakaian, sayuran, bumbu dapur, perabotan dapur, ikan, berbagai macam lauk lauk.
  • Petani menjual sayur
  • Jatilawang memiliki 2 pasar yang berdekatan:
    1) Pasar induk
    2) Pasar Sayur

MELUKISKAN

  • Pasar Induk memiliki lokasi yang lebih luas. Berisi los-los kios. Diisi oleh berbagai macam penjual, ada penjual pakaian, sayuran, bumbu dapur.
  • Pasar sayur lebih banyak digunakan oleh petani yang menjual dagangannya pada pedagang.
  • Pasar ini terletak di desa Sibebek, Jatilawang.
  • Pasar ini setiap hari ada kegiatan jual beli, tetapi perdagangan yang besar terjadi setiap hari Pon dan Paing. Di desa ini masih menggunakan Kalender Jawa, terdiri dari 5 hari, Paing, Pon, Wage, Kliwon, dan Manis.
  • Jika hari Pon, maka warga dari berbagai desa di sekitar pasar akan datang berbelanja, begitu juga pedagang datang dari berbagai desa, bahkan dari lain kota.
  • Ketika hari pasaran (Pon) aktifitas sudah terjadi sejak jam 5 pagi, dan jam 10 pagi biasanya aktifitas sudah sepi dan berkurang.
  • Kondisi pasar untuk saat ini masih cukup baik. Tetapi tidak ada fasilitas WC, hanya ada bangunan WC yang tidak difungsikan, sudah rusak dan tidak terawat.

3) Mengembangkan paragraf narasi dengan menjawab pertanyaan “5 W + 1 H”

Berangkat dari data yang sudah dimiliki, maka sang fasilitator pun mengajak peserta untuk menarasikan data aset dan potensi mulai dari pertanyaan-pertanyaan kunci yang telah mereka miliki. Dari sini, peserta pun mulai diperkenalkan dengan teknis dasar jurnalistik, yaitu 5 W dan 1 H, atau singkatan dari What (Apa), When (Kapan), Where (Dimana), Who (Siapa), Why (Mengapa) dan How (Bagaimana). Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut akan muncul dalam sebuah cerita karena menulis hampir sama dengan menceritakan.

4) Lengkapi tulisan dengan menarasikan tentang “Peluang”dan “Strategi”

Selanjutnya, melengkapi data dengan tulisan tentang “Peluang” dan “Strategi”. Maka peserta pun diberi pemahaman bahwa sebuah aset bisa menjadi sebuah potensi atau malah menjadi masalah bagi desa. Aset yang ada di desa merupakan aset milik masyarakat yang semuanya tidak hanya miliki pemerintah desa saja. Pasar Desa dan Gunung Tampomas misalnya, merupakan contoh aset yang bisa menjadi potensi/peluang atau malah bisa jadi masalah. Bagaimana cara menekan aset yang mungkin bisa menjadi masalah maka dibutuhkan strategi yang bijak dan tepat, sehingga aset itu akan bermanfaat dan memberi keuntungan untuk desanya. Dari ide dari gagasan atau usulan dari masyarakat tentang aset desa ini bisa juga menjadi strategi dalam penanganan masalah yang ada di desa.

Sehingga, dalam tahapan menarasikan aset dan potensi desa, penting juga peserta Sekolah Perempuan memahami pentingnya menulis tentang aset dan pontensi desanya dengan menjelaskan tentang peluang dan strateginya.

5) Praktik Menarasikan Aset dan Potensi Desa secara lengkap

Setelah melalui tahapan 1 sampai 4, tahapan yang paling penting adalah praktik menarasikan aset dan potensi desa secara lengkap. Salah satu contoh tulisan peserta Sekolah Perempuan dari desa Jatilawang adalah ibu Tri Haryani, telah melalui tahapan 1 dan 4 tentang pasar di desanya. Berikut adalah contoh lengkap hasil tulisan ibu Tri Haryani yang menulis tentang desanya. Dalam aset dan potensi desa, pasar bisa masuk dalam kategori aset “fisik/infrastruktur” yang dimiliki desa, bisa juga masuk dalam aset “keuangan” desa karena di dalamnya terjadi sirkulasi keuangan desa. Dalam tulisannya, dia memberi judul “Pasar Sibebek”.


 

PASAR SIBEBEK

Jatilawang merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Wanayasa Kabupaten Banjarnegara. Merupakan daerah dataran tinggi pegunungan sehingga bersuhu dingin. Letaknya berada di sebelah utara Kota Banjarnegara kurang lebih berjarak 42 Km dari pusat kota. UPTD Wilayah 3 Memiliki 5 Pasar, yaitu Karangkobar, Kalibening, Batur, Pagentan dan Jatilawang termasuk di dalamnya.

Jatilawang memiliki 2 pasar yaitu pasar sayur dan pasar induk. Jarak kedua pasar tersebut berdekatan, Pasar sayur terletak di sebelah utara pasar induk kurang lebih berjarak 50 M. Bisa dibilang pasar ini merupakan pusat perekonomian desa Jatilawang dan desa sekitarnya. Karena di sinilah pusat terjalinya transaksi jual beli antara petani dan pedagang serta pedagang dan pembeli eceran dan bisa dijadikan barometer perekonomian serta pertanian karena ramai dan sepinya pasar dipengaruhi juga oleh perekonomian masyarakat serta baik buruknya hasil dan harga pertanian.

Pasar sayur Jatilawang memiliki luas 2.500 M2 dan dibangun sekitar tahun 2007 berupa dua los pasar. Aktifitas yang ramai terjadi ketika hari pahing dan pon. Karena di desa ini masih menggunakan Kalender Jawa yang terdiri dari 5 hari, yaitu Manis, Pahing, Pon, Wage dan Kliwon. Selain hari Pahing dan Pon pasar ini sepi bahkan sama sekali tidak terjadi transaksi jual beli. Di pasar ini hanya menjual hasil pertanian. Harga pasar cenderung lebih murah dari pada harga di Pasar Induk karena barang dibawa oleh petani dan langsung bisa dibilang menjadi pusat grosir sayur mayor.

Harga antara satu jenis sayur antara pedagang yang satu dengan yang lainnya berbeda-beda bergantung kemampuan menawarkan barang dagangannya dan kemampuan si pembeli dalam menawar barang. Dari jam 4 pagi, Pasar ini sudah mulai ramai dan biasanya jam 10.00 pasar ini mulai sepi. Saat ini pasar sayur belum memiliki fasilitas WC ataupun air bersih dan masih memerlukan pembangunan pagar pasar tendon sebelah timur dan perbaikan selokan pasar.

Pasar induk Jatilawang memiliki luas 1.604 M2. Pasar ini pernah mengalami kebakaran sekitar tahun 198. Pasar ini sudah mengalami 4 kali tahap pembangunan. Pertama dibangun sekitar tahun 1996, kemudian tahun 1998 tahun 2000 dan terakhir sekitar tahun 2003. Saat ini pasar induk memiliki sekitar 20 Kios, 7 Los, 206 Lapak. Pedagang yang menempati los hanya 158 pedagang yang lainnya berjualan di luar pasar.

Seperti halnya pasar sayur, pasar induk juga ramai ketika hari Paing dan Pon, tetapi yang terbesar ketka pon. Jumlah pedagang bisa mencapai 200 lebih. Pedagang yang dating mayoritas dari lain daerah seperti Karangkobar, Kalibening, Batur, bahkan dari Pekalongan hanya sebagian kecil yang berasal dari desa Jatilawang. Aktifitas di pasar ini sudah mulai ramai sekitar jam 04.30. Pembeli yang datang tidak hanya dari desa Jatilawang tetapi juga dari desa-desa di sekitar. Di sini barang yang diperjualbelikan lebih bermacam-macam. Hampir semua kebutuhan sembako ada di sini. Sekitar pukul 10.00 aktifitas dipasar ini sudah mulai berkurang.

Saat ini pasar induk belum memiliki fasilitas WC dan air bersih, hanya ada bangunan WC yang rusak dan tidak terpakai yang berdekatan dengan kantor pasar. Masih perlu ada perbaikan selokan, karena ketika musim hujan pasar sebelah utara licin dan digenangi air serta lumpur.

Saat ini pasar Jatilawang memiliki 3 Petugas retribusi, yaitu Fendi, Junedi dan Karsono. Dan satu orang petugas kebersihan pasar. Pasar Jatilawang belum memiliki system penjagaan malam. Walaupun sebenarnya agak sering terjadi pembobolan kios. Alasannya karena pedagang tidak mau dan mampu membayar uang keamanan, sebab sebagian besar pada pedagang membawa kembali bisa barang dagangan mereka. Hanya sebagian kecil yang meninggalkan barang dagangannya di kios pasar. Selain itu juga tidak ada anggaran dari Pemda, untuk penjagaan malam. Sebagian besar para pedagang hanya berjualan setiap pon saja. Hanya sebagian kecil yang berjualan setiap paing. Untuk hari-hari biasa hanya ada sekitar 20 an pedagang yang berjualan di depan pasar. Pada hari selain paing dan pon di dalam pasar tidak ada penjual sekali.

Sebenarnya pasar merupakan potensi yang baik untuk membuka peluang usaha bagi masyarakat di sekitar pasar, tetapi sayangnya masih sedikit yang memanfaatkan peluang ini. Jumlah pedagang dari luar lebih banyak dari pada warga lokal. Padahal jika dinilai secara jarak seharusnya masyarakat lokal harusnya memiliki potensi yang lebih dekat dengan pasar lebih meringankan biaya transportasi bahkan bisa sama sekali tidak membutuhkan biaya transportasi. Pedagang lokal bisa datang lebih awal sehingga bisa mendapat pembeli lebih dahulu. Dengan jarak yang dekat pula lebih mengetahui apa yang sedang marak dibutuhkan atau digemari oleh masyarakat. Sangat disayangkan jika peluang yang ada tidak dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar pasar. Padahal ini sangat membantu meningkatkan perekonomian. Terutama untuk ibu-ibu rumah tangga atau kaum perempuan yang memiliki keterampilan membuat makanan atau produk lainnya sehingga potensi yang ada pada diri mereka bisa dikembangkan menjadi bentuk usahaa mandiri untuk membantu peningkatan kesejahteraan.

[Baca Juga: Pendidikan dan Pernikahan DiniLadangPabrik Teh: Hidup Segan Mati Tak Mau]

*Penulis adalah Staf Gender Infest Yogyakarta

Pemetaan Sosial di Desa Tunjungtirto

Pemetaan Kesejahteraan Lokal Desa Tunjungtirto, Kabupaten Malang

Musthofa, Kader Pembaharu Desa Tunjungtirto, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang melakukan survei kesejahteraan lokal (11/8/2015). Kegiatan ini merupakan bagian dari pemetaan sosial yang dilakukan para kader Pembaharu Desa di Kabupaten Malang. Sebelumnya, para kader Pembaharu Desa bersama pemerintah desa dan warga berembug untuk menentukan indikator kesejahteraan lokal. Indikator disusun berdasarkan ukuran kesejahteraan lokal.
Gambar oleh: Edi Purwanto

Tim Pembaharu Desa Kucur

Mimpi Tim Pembaharu Desa Kucur

Tim Pembaharu Desa Kucur, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang mengisahkan pengamalannya melakukan pemetaan sosial dalam Temu Kader Pembaharu Desa, (25-27/5/2015) di Yogyakarta. Likah dan Sangaji merupakan dua dari 27 anggota tim pembaharu Desa Kucur. Tim Pembaharu Desa menjadi mitra pemerintah desa dalam melaksanakan pembangunan di desa, mulai dari perencanaan hingga pertanggungjawaban. Tim ini terdiri dari perangkat desa, kader desa, dan warga desa.

Hasil pemetaan aset dan potensi desa kucur

Potret Pelatihan Pemetaan Sosial di Wonosobo dan Malang

Pelatihan pemetaan sosial dilakukan di tiga desa di Kabupaten Wonosobo (Gondang, Tracap, dan Wulungsari) serta satu desa di Kabupaten Malang (Kucur), selama tiga hari (21-23/5/2015). Pelatihan pemetaan sosial di masing-masing desa diikuti oleh puluhan kader pembaharuan desa. Pelatihan ini bertujuan untuk membekali pengetahuan dan keterampilan tentang pemetaan sosial mulai dari membuat instrumen penggalian, membaca, dan menganalisis data. Disusul dengan memvisualisasikan di atas peta desa. Berikut potret kegiatan pemetaan sosial di Kabupaten Wonosobo dan Malang:

 

Proses pelatihan pemetaan sosial di Desa Tracap

Pelatihan Pemetaan Sosial di Wonosobo

Wonosobo- Pelatihan pemetaan sosial dilakukan di tiga desa di Kabupaten Wonosobo yakni Gondang, Tracap, dan Wulungsari. Kegiatan ini diselenggarakan serentak selama tiga hari, (21-23/5/2015). Pelatihan pemetaan sosial di masing-masing desa diikuti oleh puluhan kader pembaharuan desa. Pelatihan ini bertujuan untuk membekali pengetahuan dan keterampilan tentang pemetaan sosial kepada kader pembaharu desa.

Proses pelatihan pemetaan sosial di Desa Tracap

Proses pelatihan pemetaan sosial di Desa Tracap (21/5/2015)

Pelatihan pemetaan desa ini merupakan tahap kedua dari proses perencanaan apresiatif desa. Pada pertemuan sebelumnya, para kader pembaharuan desa mengenali aset dan potensi desa. Disusul dengan merumuskaan pertanyaan-pertanyaan kunci untuk penggalian data aset dan potensi desa. Proses pendataan dilakukan kurang lebih selama 2-3 minggu.

Menurut Frisca Arita Nilawati, selaku Penanggunjawab Perencanaan Apresiatif Desa, pertemuan pada hari pertama pelatihan pemetaan sosial adalah melihat dan mendiskusikan hasil temuan-temuan di lapangan, meliputi sumber daya alam, sumber daya manusia, aset sosial, aset fisik, kelembagaan sosial, spiritual dan budaya. Data-data yang dikumpulkan kemudian divisualisasikan ke dalam peta.

“Pelatihan pemetaan salah satunya memetakan potensi dan aset yang ada di desa. Dimana dari hasil pemetaan aset kemudian memvisualkan lokasi aset. Juga untuk mengetahui jenis-jenis aset desa, selama ini digunakan untuk apa? Apa hasilnya? Bagaimana pengelolaannya? Dan dimana lokasinya,” terang Frisca.

Proses pelatihan pemetaan sosial di Desa Tracap

Proses pelatihan pemetaan sosial di Desa Tracap (21/5/2015)

Selain dibedakan berdasarkan jenisnya, aset desa yang didata dipisahkan berdasarkan kepemilikan. Dari pembedaan ini ada dua pengertian aset, yakni milik umum dan rumah tangga. Nah, untuk mengetahui kepemilikan berdasarkan rumah tangga, salah satu cara yang digunakan ialah dengan melakukan sensus.

Pada hari kedua,mulai masuk pada sesi mengidentifikasi kesejahteraan lokal. Sesi ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi kesejahteraan warga. Selain itu, para kader pembaharu desa juga akan dibekali pengetahuan serta keterampilan mengenai sensus, verifikasi hingga pengolahan data.

Pengetahuan dan kemampuan teknis pemetaan sosial akan menjadi bekal berharga bagi kader pembaharu desa untuk mengorganisir warga. Dalam pembahasan tindak lanjut, para kader pembaharu desa akan didorong menjadi aktor untuk membahas indikator kesejahtaraan lokal bersama warga.

“Dari pemetaan sosial ini nantinya akan muncul empat peta yang terdiri dari peta pembangunan, kesejahteraan, aset dan potensi desa serta rencana pembangunan desa ke depannya,” tutup Frisca.

Pemetaan Aset Desa Wulungsari

Pemetaan Sosial sebagai Basis Data Pembangunan Desa

Data menjadi salah satu elemen penting dalam alur perencanaan dan implementasi pembangunan desa. Data menjadi rujukan dan pertimbangan dalam penyusunan elemen rencana pembangunan, penentuan prioritas dan perumusan rencana pengembangan desa. Tanpa data yang memadai, perencanaan di tingkat desa dapat kehilangan konteks dan relevansinya.

Ketersediaan data di tingkat desa yang dikelola oleh pemerintah desa masih menjadi persoalan tersendiri hingga saat ini. Pendataan melalui profil desa yang ditentukan dan mengikuti metadata pemerintah nasional tidak berkontribusi pada pembangunan di tingkat desa. Profil desa tidak bisa mengakomodir keragaman kebutuhan data pada pemerintah desa. Di lain sisi, pengelolaan data terpusat melalui aplikasi Profil Desa menyebabkan desa semata menjadi enumerator data untuk kepentingan pusat. Desa pada akhirnya tidak bisa mempergunakan data yang diperoleh dengan menggunakan pendekatan profil desa.

Perencanaan pembangunan berbasis data menjadi kebutuhan mendesak bagi pemerintah desa. Dengan demikian, proses penggalian data idealnya menjadi elemen tidak terpisahkan dari proses perencanaan pembangunan itu sendiri. Perencanaan, bagaimana pun, membutuhkan dukungan data agar dapat mengejawantahkan kebutuhan masyarakat secara lebih terperinci dan menyeluruh.

Setidaknya terdapat beberapa tantangan yang terkait dengan ketersediaan data di tingkat desa, yaitu:

  1. Penyusunan instrumen penggalian data melalui mekanisme pemetaan sosial;
  2. Analisa dan penyajian; dan
  3. Integrasi data desa sebagai rujukan perencanaan

Ketiga persoalan tersebut terkait dengan kapasitas yang melekat pada pemerintah desa. Di lain sisi, proses pemetaan yang dilakukan perlu memenuhi prinsip partisipasi. Partisipasi diyakini dapat memerkaya perspektif dalam data yang digunakan sebagai rujukan pembangunan.

Pemetaan sosial sebagai bagian dari Perencanaan Apresiatif Desa

Sebagai salah satu tahapan dalam program Perencanaan Apresiatif Desa, Infest Yogyakarta menempatkan pemetaan sosial sebagai metode pengumpulan data di tingkat desa. Fase yang dimulai Mei 2015 ini menjadi bagian penting dalam perencanaan apresiatif desa. Pendataan ini akan sangat dipengaruhi oleh konteks lokal dan kewenangan lokal berskala desa yang menjadi ciri khas masing-masing desa.

Setelah melalui proses memahami Undang-undang Nomor 6 Tahun 2016 tentang Desa dilanjutkan dengan identifikasi aset serta potensi desa, Mei ini, akan dilakukan pemetaan sosial. Sesi ini menjadi bagian dari perencanaan apresiatif desa yang dilakukan di sembilan desa di tiga kabupaten yakni Malang, Takalar, dan Wonosobo.

Pada fase ini, para kader pembaharu desa akan mengenali terlebih dahulu apa itu pemetaan sosial. Disusul, pembahasan tentang ukuran kesejahteraan lokal. Dua hal tersebut akan menjadi bekal bagi para kader pembaharu desa untuk melakukan pemetaan sosial warga. Sehingga, data yang diperoleh bisa relevan dengan kondisi lokal masing-masing desa.

Secara teknis, pemetaan akan menggunakan metode survei. Para tim pembaharu desa yang terdiri dari perangkat, kader, dan warga akan melakukan pendataan penduduk berbasis rumah tangga. Data demografis, ekonomi, pendidikan, hingga aset menjadi variabel penting dalam pemetaan sosial. Hasilnya, data dari pemetaan sosial ini akan menjadi basis penting dalam perencanaan pembangunan desa. Data akan menjadi acuan bagi pemerintah desa dalam melaksanakan program-program pembangunan, pelayanan dan pemenuhan kebutuhan dasar warga.