Arsip Tag: Menulis

Perempuan Menulis di Jatilawang

Narasi Data Aset dan Potensi Desa

“Kalau begitu, saat Musdes (Musyawarah Desa) nanti sebaiknya memberikan usulan dengan menuliskan daftar usulan-usulan, jadi nggak cuma ngomong.”

Pernyataan tersebut diungkapkan Rini Lusiana, salah satu peserta Sekolah Perempuan Desa Jatilawang usai belajar menarasikan data aset dan potensi di desanya. Dia menyampaikan keinginannya tersebut kepada peserta Sekolah Perempuan lain di Desa Jatilawang, pada Minggu (9/8/2015). Dalam proses pertemuan Sekolah Perempuan minggu lalu, peserta mulai beranjak dari proses identifikasi dan pembuatan peta aset desa. [baca juga: Kader Sekolah Perempuan Membuat Peta Aset Desa]

Difasilitasi Yudi Setiyadi, Koordinator Komunitas Pena Desa, peserta yang pada umumnya belum memiliki pengalaman menulis terlihat antusias belajar menulis tentang desanya. Pertemuan pertama tentang penulisan deskriptif bertujuan untuk memotivasi para perempuan Pembaharu Desa untuk menulis. Mengapa menulis? Karena para perempuan Pembaharu Desa ini lahir dan besar di desa. Mereka-lah yang paling paham tentang desanya.

perempuan menulis

Yudi Setiadi (Pena Desa) menjadi pembicara dalam proses penulisan narasi aset di Desa Gentansari, (7/8/2015)

“Menulis merupakan pengembangan dari proses pembuatan peta desa. Data aset dan potensi dikembangkan untuk menjadi sebuah narasi per aset dan potensi. Selain pembuatan narasi deskriptif tentang aset desa dipetakan pula potensi, peluang, serta tantangannya,” terang Yudi Setiyadi.

Yudi menambahkan, metode yang digunakan dalam proses pembelajaran menulis ialah dengan membedakan bahasa lisan dan menulis. Dimulai dari contoh yang paling dekat dengan keseharian. Misalnya bagaimana mereka mengisahkan tentang sumber mata air. Dalam penjelasannya, sebisa mungkin dilengkapi data yang memenuhi enam unsur yakni apa, kapan, dimana, siapa, mengapa, dan bagaimana (5W, 1H). Metode ini yang disebut Yudi sebagai teknik melukis dengan kata-kata.

“Dari yang dikatakan berkembang melukiskan dengan apa yang mereka katakan. Misalnya di Gentansari ada waduk Tampomas. Kapan mulai diledakkan untuk dimanfaatkan batunya saat pembuatan waduk Mrican? Apakah ada sumber mata air? Kapan sumber mata air digunakan oleh warga dan saat ini sudah digunakan oleh berapa kepala keluarga?” terang Yudi.

Menulis narasi menjadi pintu masuk dalam proses analisis. Dengan identifikasi dan pemetaan aset desa mereka mempunyai basis data. Melalui menulis, para kader Pembaharu Desa mulai berpikir rinci dan sistematis dalam melihat suatu potensi, strategi dan peluang.

Menyoal sumber mata air hingga pernikahan dini

Dalam waktu singkat, hasil tulisan narasi peserta Sekolah Perempuan setelah praktik menarasikan data aset dan potensi desanya, ternyata sungguh diluar dugaan. Para perempuan dan laki-laki yang mengaku baru pertama kali menarasikan data aset dan potensi desanya, ternyata mampu menuliskannya secara detail. Dengan tulisan tangan, mereka menggambarkan apa yang terjadi di desanya, baik dari asepek kesehatan, pendidikan, maupun ekonomi.

[baca juga: Kala Perempuan Menulis Desanya]

Perempuan Menulis di Jatilawang

Peserta Sekolah Perempuan Desa Jatilawang menuliskan aset dan potensi desanya. (9/8/2015)

Seperti Rumiyati dari Desa Gumelem Kulon yang menuliskan kelompok difabel yang tetap bertahan dengan kemampuannya membuat alat-alat dapur berbahan bambu. Begitu pula Rini Lusiana dan Sutriyah dari Desa Jatilawang. Rini mengungkapkan gagasannya tentang pentingnya sumber mata air agar dimanfaatkan semua warga. Sementara Sutriyah, menuliskan tentang minat warga menyekolahkan anaknya hingga tingkat sekolah menengah hingga perguruan tinggi. Di sisi lain, angka pernikahan dini di desanya terus meningkat. Tema-tema yang diangkat pun berkisar tentang aset dan potensi desa seperti pasar desa, hutan, mata air, dan sebagainya.

Harapannya, hasil tulisan mereka tentang aset dan potensi desa ini dapat menjadi dokumen rujukan dalam pembuatan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJM Desa) dan Rencana Kerja Pemerintah (RKP Desa) yang responsif gender dan inklusi sosial. Melalui tulisan, mereka mulai aktif mengungkapkan gagasannya tentang desa. Karena yang disampaikan cukup beragam berdasarkan pengalamannya masing-masing. Suara mereka tidak semata bentuk kegelisahan terhadap kondisi kaumnya, melainkan juga mempertimbangkan sisi kesehatan dan pendidikan anak-anak mereka sebagai generasi penerus bangsa. [Alimah dan Sofwan]