Arsip Tag: Bringinan

Pelatihan PAD Desa Bringinan Hasilkan Berbagai Usulan Warga

Peserta Pelatihan PAD di Desa Bringinan, Minggu-Senin, (21-22/04/2019) Ponorogo | Kegiatan pelatihan Perencanaan Apresiatif Desa (PAD) yang diselenggarakan oleh Infest Yogyakarta dilaksanakan di Rumah Baca Desa Bringinan, Kecamatan Jambon, Ponorogo pada Minggu-Senin, (21-22/04/2019). Desa yang terletak di Kabupetan Ponorogo ini merupakan desa kecil dengan jumlah penduduk kurang lebih 900 orang.

Desa Bringinan merupakan salah satu desa kantong Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Ponorogo. Dari data pemerintah desa, ada kurang lebih 341 orang warga Bringinan yang bekerja ke luar negeri sebagai PMI. Antusiasme warga Desa Bringinan untuk mengikuti pelatihan begitu besar terlihat dari jumlah peserta yang membludak, baik dari kelompok pemuda, perempuan, KOPI Bringinan, perangkat desa maupun organisasi lain yang ada di Desa Bringinan.

Kegiatan pelatihan PAD di Bringinan juga dihadiri oleh Paroso, perwakilan dari Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Ponorogo dan Tim Infest Yogyakarta. Dalam sambutannya, Paroso dari Disnaker mengatakan bahwa pemerintah desa wajib memberikan perlindungan kepada warganya yang bekerja ke luar negeri sebagai PMI. Selain melindungi, pemerintah desa juga wajib memberdayakan PMI purna dan keluarganya.

Suasana proses pembelajaran Sekolah Desa “Perencanaan Apresiatif Desa” di Desa Bringinan.

PAD ini merupakan salah satu bentuk pemberdayaan kepada para PMI maupun masyarakat Desa Bringinan pada umumnya. Sementara itu, Muhammad Khayat dari Infest Yogyakarta, mengatakan bahwa PAD merupakan perencanaan pembangunan yang berdasarkan pada potensi dan kebutuhan desa. Melalui program ini diharapkan pemerintah desa mampu menggali seluruh potensi yang ada di desa untuk digunakan semaksimal mungkin bagi kesejahteraan warga. Jadi pembangunan desa dilaksanakan berdasarkan pada data dan partisipasi warga.

“Lewat pelatihan ini akan dihasilkan data valid tentang Desa Bringinan baik data aset dan potensi, kewenangan desa, data usulan perbaikan layanan publik, maupun data kesejahteraan lokal desa. Data tersebut dihasilkan dari partisipasi warga yang nantinya akan digunakan untuk acuan pemerintah desa menentukan arah kebijakan pembangunan desa,” kata Khayat.

Pemerintah desa Bringinan mendukung penuh kegiatan pelatihan yang diselenggarakan oleh Infest. Barno, kepala desa Bringinan mengatakan bahwa selama ini belum pernah ada pelatihan yang mengupas secara rinci tentang kondisi desa baik dari sisi kewenangan, sumber daya, sejarah, kondisi kesejahteraan maupun gagasan warga.

Oleh karena itu Barno berharap agar peserta pelatihan mengikuti kegiatan selama dua hari dengan sungguh-sungguh. Barno juga mengaku sangat terbantu, karena lewat pelatihan yang ditindaklanjuti survei akan menghasilkan data konkrit tentang kondisi desa sebagai dasar dalam menyusun RPJMDes.

“Saya memang sangat membutuhkan ide dan gagasan dari warga untuk kemajuan pembangunan desa, saya harap peserta mengikuti pelatihan ini dengan sungguh-sungguh. Setelah pelatihan, akan ada tindak lanjut survei ke warga sehingga didapat data valid tentang kewenangan desa, aset dan potensi, data kesejahteraan lokal desa dan gagasan atau usulan warga tentang layanan publik di desa. Data ini akan menjadi dasar bagi kami untuk menyusun RPJMDes,” ungkap Barno.

Kegiatan pelatihan PAD di Desa Bringinan sama seperti desa-desa lain, peserta dibagi menjadi lima tim yakni tim pemetaan kewenangan desa, aset dan potensi, tim penggalian gagasan kelompok marginal, tim pemetaan kesejahteraan desa dan tim survei perbaikan layanan publik. Fitri, salah satu peserta PAD mengatakan senang bisa mengikuti pelatihan ini karena bisa belajar tentang desa dan menggali apa saja yang ada di dalamnya seperti sejarah desa, aset desa maupun kesejahteraan warga.

“Ilmu ini belum pernah kami dapat sebelumnya dan kami berharap usulan dari berbagai kelompok di desa didengar dan dipenuhi oleh pemerintah desa meskipun untuk jangka panjang,” kata Fitri. Di akhir pelatihan, diadakan rapat pleno dengan mempresentasikan hasil diskusi masing-masing tim.

Tidak disangka, ternyata banyak sekali muncul gagasan dan usulan dari para peserta yang diharapkan dapat memajukan Desa Bringinan. Selanjutnya tim yang sudah terbentuk akan melakukan survei ke warga sesuai tugas masing-masing  untuk mendapatkan data valid Desa Bringinan. Rencana tindak lanjut dari pelatihan ini adalah diadakannya Musyarawah Desa (Musdes) untuk menyepakati indikator survei yang akan diadakan pada hari Jum’at, (11/5/2019). “Saya berharap agar semua tim bekerja sunguh-sungguh demi kemajuan bersama,” ujar Barno, Kepala Desa Bringinan. 

Anak-anak Desa Bringinan Beli Baju Baru dari Tabungannya Sendiri

Gerakan menabung bagi anak-anak di Desa Bringinan telah dimulai sejak tahun 2016. Setiap jelang lebaran, ada kebiasaan membongkar tabungan bersama-sama. Tahun 2018 ini, “Festival Bongkar Tabungan Masal” pun siap digelar akhir pekan ini.

Gerakan menabung bersama dilakukan secara unik oleh ratusan anak-anak di Desa Bringinan, Kecamatan Jambon, Kabupaten Ponorogo. Gerakan menabung menggunakan celengan atau kotak tabungan tersebut diprakarsai Kepala Desa Bringinan, Barno. Tim Sekolah Desa pertama mengetahui program Kades inovatif ini baru tahun 2018, saat melakukan penelitian di Desa Bringinan.

Menurut Barno, program menabung untuk anak-anak di desanya sejak bulan Juni tahun 2016 silam. Setiap jelang lebaran, ratusan anak di Desa Bringinan akan bersama-sama membongkar kotak celengan. Anak-anak di desanya telah diajarkan bagaimana menabung dalam kotak celengan. Kotak celengan pun telah disediakan secara gratis, dan kemudian dibawa ke rumah masing-masing. Kotak celengan yang sudah disegel atau kunci akan dibuka secara bersama-sama di Rumah Baca atau Perpustakaan Desa Bringinan.

Nah, jelang lebaran tahun ini, anak-anak di Desa Bringinan juga akan kembali membongkar tabungannya secara bersama-sama dalam “Festival Bongkar Tabungan Massal”. Acara yang akan diadakan di Rumah Baca Bringinan ini dilaksanakan pada Minggu, 27 Mei 2018.

Anak-anak yang Menabung Bertambah Banyak

Acara bongkar tabungan di Bringinan

Kebiasaan menabung di kotak celengan sampai saat ini terus dipertahankan, karena merupakan kebiasaan positif terutama bagi anak-anak. Tahun ini, anak-anak yang menabung juga semakin bertambah banyak. Menurut Barno, menabung ini akan melatih anak-anak hidup hemat, bertanggungjawab dan mandiri. Apalagi ketika bongkar tabungan dilakukan menjelang lebaran, anak-anak bisa membeli mainan atau baju baru yang mereka inginkan dari uang hasil tabungannya, serta untuk kebutuhan berguna lainnya.

“Jumlah anak-anak yang ikut semakin banyak, tahun kemarin hanya 105 tabung. Tapi sekarang yang ikut hampir 300 anak-anak. Selain anak-anak juga diikuti oleh para remaja. Sebenarnya pesan yang mau saya sampaikan adalah bagaimana anak ini mau belajar hemat dengan anggaran. Sehingga, besar nanti paling tidak dalam memorinya masih tersimpan bahwa dengan hemat akan membuat hidup yang lebih baik dan sejahtera. Mumpung masih anak-anak, virus hemat harus kita galakan, dengan hemat jadi nikmat,” ungkap Barno kepada SekolahDesa, pada Kamis (24/5/18)

Inisiatif Barno ini terinspirasi dari masa kecilnya yang sudah mulai menabung sejak kecil dikala bapaknya meninggal dunia, sementara tulang punggung keluarganya adalah ibunya sebagai petani dengan enam orang anak.

“Sehingga kenangan itu membuat sebuah inspirasi dan saya berupaya mengembangkan dengan gerakan “AYO GIAT MENABUNG” di rumah baca yang  dikelola oleh Karang Taruna Desa Bringinan,” jelas Barno.

Selain program menabung untuk anak-anak, Desa Bringinan memang cukup dikenal dengan program-program inovatifnya. Hal tersebut tidak terlepas dari peran kepemimpinan Barno, Kades Bringinan. Barno sendiri merupakan seorang purna pekerja migran, yang kini sukses menjadi pengusaha dalam memproduksi produk-produk organik.

Program-program Inovatif Bringinan

Dalam salah satu artikel yang berjudul “Barno: Purna BMI, Pengusaha Produk Organik, hingga Kades Penuh Inovasi“, Barno memaparkan program-program di sektor lainnya. Seperti di sektor Kesehatan, Desa Bringinan kini telah meluncurkan Kartu Bringinan Sehat (KBS) pada pertengahan tahun 2017. Peluncuran ini dilatarbelakangi oleh adanya Kartu Indonesia Sehat (KIS) berdasarkan data penduduk tahun 2011, dinilai banyak yang tidak tepat sasaran.  Dengan adanya KBS, Barno berharap dapat memberikan pelayanan kesehatan yang sama seperti pemegang KIS dan tidak ada lagi kecemburuan sosial.  Jadi, KBS merupakan salah satu bentuk tanggung jawab desa atas kesehatan masyarakat.

Barno menunjukan KBS

Selain meluncurkan KBS, Barno juga memperkenalkan mobil ambulan desa untuk warga yang membutuhkan. Uniknya, pembelian mobil ini tidak menggunakan dana desa melainkan hasil sumbangan warga yang sudah sukses.  Pemilihan mobil ambulan ini didasari karena di Desa Bringinan masih sedikit warga yang memiliki mobil. Jika sewaktu-waktu ada warga yang membutuhkan pertolongan dan perlu dibawa ke Rumah Sakit atau Puskesmas Kecamatan Jambon supaya tidak bingung lagi mencari kendaraan. Selain itu, para pemuda dan perangkat desa juga menginisiasi terkait kegunaan lain mobil ambulan. Selain untuk mengantar orang sakit baik fisik maupun jiwa, hingga untuk orang meninggal dunia, juga bisa dimanfaatkan oleh masyarakat desa sekitar yang membutuhkan.

Di sektor sosial, Desa Bringinan juga memberikan santunan bagi ahli waris atau pihak keluarga dari warga yang meninggal dunia. Uniknya, santunan yang diberikan bukan dalam bentuk uang tunai namun dalam bentuk barang. Barang tersebut diberikan dengan menggunakan dana Pendapatan Aseli Desa (PAD) dan swadaya masyarakat.

Menurut Barno, kegiatan sosial berupa santunan kepada ahli waris keluarga yang meninggal dunia dalam bentuk barang yang dibutuhkan mendesak yaitu kain kafan, batu nisan, dan air mineral.  Untuk kain kafan, langsung dibawakan oleh perangkat desa bagian Modin. Sedangkan air mineral dibawakan oleh Kamituwo, batu nisan dibawa oleh pemuda atau karang taruna dan lainnya dibawakan oleh Kades. Dengan demikian, apabila ada warga yang meninggal secara otomatis semua elemen mulai Kades, Perangkat Desa, Karang Taruna dan Masyarakat hadir secara bersamaan.

Selain itu juga banyak program inovasi yang jarang dilakukan di desa lain seperti program menabung bagi semua anak-anak di Desa Binginan, program perawatan khusus bagi warga yang terganggu jiwanya. Program ini bukan hanya mampu mengurangi warga yang terganggu jiwanya, namun juga memberdayakan mereka pasca penyembuhan. Lalu inovasi di sektor pertanian terkait pengelolaan air bersih dan sejumlah program inovasi lainnya.

Hal penting yang ingin disampaikan dalam tulisan ini adalah tentang ketulusan seorang Kades dalam mengabdi di desanya. Juga sekian upaya membangun dan memberdayakan warganya khususnya kaum perempuan dan marjinal. Kini ratusan warganya sudah mulai berdaya dan membangun usaha di desanya sendiri. Usaha mereka pun beragam dan sangat bermanfaat menunjang kebutuhan ekonomi, pendidikan, dan kesehatan warga di desanya.[]