Arsip Tag: biogas

Palipu: Desa Mandiri Energi Melalui Pemanfaatan Limbah Ternak

 

Kesadaran masyarakat terhadap limbah ternak yang berserakan dimana-mana akan mempengaruhi kesehatan lingkungan.

Desa Palipu adalah salah satu desa di Kabupaten Tana Toraja. Selama ini Tana Toraja dikenal dengan adat istiadat serta kebudayaan luhurnya, khususnya budaya pesta kematian dimana pesta kematian ini dilengkapi dengan pemotongan-pemotongan hewan-hewan ternak. Kondisi tersebut mendorong kesadaran masyarakat terhadap limbah ternak yang berserakan dimana-mana. Limbah tersebut tentunya akan mempengaruhi kesehatan lingkungan.

Masyarakat Desa Palipu terdiri 252 KK dengan jumlah penduduk 853 orang. Tingkat pendidikan rata-rata tamatan SMP, tempat tinggal mereka berada pada daerah lereng-lereng gunung. Sejumlah kelompok masyarakat turut andil dalam proses pengolahan limbah ternak menjadi energi (biogas). Antara lain seperti kelompok kaum ibu rumah tangga, kelompok PKK, kelompok pemuda dan Kelompok Karang Taruna.

Pekerjaan masyarakat Palipu pada umumnya adalah petani, khususnya petani kopi, disamping bertani juga memelihara ternak di sekitar rumah, ada yang dikandangkan tetapi ada juga yang dilepas bebas sehingga limbah ternak berserakan dimana-mana.

Sebelumnya, kesadaran lingkungan terhadap limbah ternak dan pemanfaatan limbah ternak belum maksimum. Hal ini karena masih terbatasnya pengetahuan yang minim oleh masyarakat. Upaya peningkatan nilai tambah dari limbah ternak dapat ditempuh dengan mengumpulkan dan mengolah limbah ternak menjadi biogas. Caranya adalah dengan membangun instalasi pengolahan limbah atau instalasi biogas dengan metode anaerobik digestion.

Program Mandiri Energi Sejalan RPJMDesa

Desa Mandiri Energi adalah desa yang dapat menyediakan energi bagi desa itu sendiri. Peningkatan energi baru terbarukan, memang diwajibkan oleh pemerintah nasional untuk menanggulangi pemanasan global serta pengurangan penggunaan bahan bakar fosil. Di Provinsi Jawa Tengah misalnya, pengembangan Desa Mandiri Energi sudah cukup populer. Menurut Dinas ESDM Jateng, Desa Mandiri Energi adalah desa yang masyarakatnya memiliki kemampuan memenuhi lebih dari 60% kebutuhan energi dari energi terbarukan yang dihasilkan melalui pendayagunaan potensi sumber daya setempat.

Dengan mandiri energi, kebutuhan energi di desa dapat disediakan sendiri oleh desa tersebut. Seperti Desa Jetak, salah satu Desa di Jateng, telah memiliki 86 reaktor biogas yang digunakan untuk memasak bagi 175 rumah tangga. Selain pengurangan LPG, Desa Jetak juga dapat memenuhi kebutuhan akan bensin dan listrik.

Ada dua tipe desa disebut mandiri energi. Pertama, tipe Desa Mandiri Energi yang berbasis pada sumber energi non pertanian/peternakan seperti: energi surya, air dan angin. Kedua, tipe Desa Mandiri Energi yang berbasis pada sumber energi dari pertanian/peternakan seperti biomassa dan biofuel yang berasal dari hasil pertanian maupun peternakan. Menurut Frederik Palallo dalam sebuah Seminar Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat (2017), Desa Palipu merupakan desa dengan tipe desa mandiri berbasis sumber daya ternak atau tanaman.

Desa Palipu awalnya sebagai lokasi pelaksanaan Program IPTEK bagi Desa Mitra (IbDM) tahun 2017 untuk program “Pemberdayaan Masyarakat Melalui Pengolahan Limbah Ternak Menjadi Energi (Biogas) dan Pupuk Organik Menjadikan Desa Palipu Menjadi Desa Mandiri Energi.”

Saat itu awalnya kesadaran masyarakat terhadap limbah ternak yang berserakan dimana-mana. Pemanfaatan ternak baru sebatas pemanfaatan daging ternak, sedangkan pemanfaatan limbahnya belum dimanfaatkan secara maksimal yang nantinya mendapatkan nilai tambah secara ekonomi atau finansial. Oleh karena itu, Desa Palupi mulai memanfaatkan limbah menjadi biogas melalui membangun instalasi pengolahan limbah atau instalasi biogas, dengan metode anaerobik digestion.

Sumber gambar: Prosiding Seminar Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat 2017 vol. 2 no. 1 oleh Frederick Palallo

Program pengolahan limbah juga sejalan dengan RPJM (Rencana Program Jangka Menengah) Desa Palipu. Program tersebut tentang Pengolahan Limbah ternak menjadi Biogas dan Pupuk organik yang diprogramkan setiap tahun. Sehingga dapat membangun instalasi biogas sebanyak 5 unit yang bertujuan untuk memanfaatkan limbah ternak menjadi energi biogas dan pupuk organik. Sehingga Desa Palipu menjadi Desa Mandiri Energi dan mandiri Pupuk.

Koperasi Bina Lingkungan, Kelompok PKK dan Kelompok Karang Taruna merupakan kelompok masyarakat yang menjadi mitra dan peduli terhadap lingkungan. Khususnya limbah ternak dan mereka sangat antusias untuk mengelola limbah ternak, agar dapat menghasilkan nilai tambah.

Menurut Frederick, keberadaan mitra akan sangat berpengaruh terhadap keberlangsungan model dan teknologi yang akan diterapkan di masyarakat. Disamping itu mitra juga memandang kemanfaatan teknologi ini akan benar-benar bermanfaat terutama untuk menambah nilai hasil ternak serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara ekonomi.

Hal lain yang mendukung teknologi ini adalah bahwa melalui mitra dapat menyampaikan manfaat pengelolaan limbah ternak. Melalui mitra, teknologi pengelolaan limbah dapat diterapkan oleh masyarakat secara langsung dan berkelanjutan serta dapat menghasilkan wirausaha baru dibidang biogas dan pupuk organik.

Selama ini, permasalahan yang dihadapi warga Desa Palipu adalah minimnya pengetahuan tentang pengolahan limbah ternak menjadi biogas dan pupuk organik. Selain itu juga minimnya keterampilan tentang teknologi pembangunan instalasi biogas. Serta, minimnya pengetahuan tata kelola pengelolaan limbah ternak menjadi biogas dan pupuk organik. Juga persoalan minimnya pengetahuan dan pengelolaan pemanfaatan pupuk organic untuk tanaman.

Namun kini desa Palipun telah mendirikan pembangunan 8 unit Instalasi Biogas Type Fixed Dome Beton, kapasitas 4 m 3 . Selain itu juga ada 1 unit Instalasi Biogas menghasilkan rata-rata 3 m 3 biogas per unit/hari sehingga total produksi biogas dari 8 unit instalasi/hari sebesar 24 m 3, setara dengan 14,88 liter minyak tanah atau setara dengan LPG sebesar 15,36 kg. Di tahun 2017, Desa Palipu juga telah memiliki instalasi Biogas berjumlah 15 unit . Sehingga Desa Palipu dapat disebut Desa Mandiri Energi tipe Desa Mandiri Energi berbasis dari sumber energi pertanian atau peternakan. Selain Desa Palipu hanya salah satu dari sekian banyaknya desa yang telah berdaya dengan memanfaatkan limbah menjadi energi alternatif.

Sumber referensi: Prosiding

Sumber gambar: Ilustrasi Tempo

Kandang kambing terintegarsi dengan instalasi pengolahan biogas

Instalasi Sederhana untuk Biogas

Teguh Haryanto, petani di Desa Kesenet, Kecamatan Banjarmangu, Kabupaten Banjarnegara memprakarsai pengolahan biogas di desanya. Dari biogas olahannya, Teguh mampu menghemat penggunaan gas LPG dan penggunaan pupuk untuk kebun salaknya. Berikut foto-foto instalasi pengolahan biogas buatan Teguh menggunakan peralatan sederhana.

Teguh Haryanto (kanan) menerangkan teknologi pengolahan biogas

Mengolah Kotoran Ternak Menjadi Biogas

Teguh Haryanto tidak sampai menempuh pendidikan tinggi. Kesehariannya adalah seorang petani salak dan peternak kambing. Kondisi tersebut tidak membatasinya untuk berinovasi. Pengalaman kesehariannya di kandang dan ladang mengajarkan banyak ilmu. Kini, ia mampu menginspirasi desanya untuk menjadi desa mandiri energi.

Kandang kambing terintegarsi dengan instalasi pengolahan biogas

Kandang kambing milik Teguh terintegarsi dengan instalasi pengolahan biogas

Di halaman samping rumahnya di Desa Kesenet, Kecamatan Banjarmangu, Kabupaten Banjarnegara, Teguh membangun instalasi pengolahan biogas (digester) sederhana dan murah. Teknologi tepat guna ciptaan Teguh ini, memanfaatkan plastik, pipa peralon, ember, tong, dan kapur tulis untuk mengolah kotoran kambing miliknya menjadi biogas. Menurutnya, biaya untuk membangun instalasi sederhana ini tidak lebih dari setengah biaya untuk membuat instalasi biogas pada umumnya.

Teguh sendiri mengenal teknologi pengolahan Biogas pada 2012. Ia pernah diikutkan oleh Pemerintah Kabupaten Banjarnegara dalam sebuah pelatihan pengolahan Biogas di Malang, Jawa Timur. Sepulang dari Malang, ia langsung mempraktikkan ilmu yang ia dapat. Hanya saja, ia tidak mematuhi teori selama proses di Malang.

“Kalau ukuran teori, dibutuhkan 40 ekor kambing dan setiap hari diisi.,” terang Teguh.

Kambing milik Teguh tidak sampai 40 ekor. Di kandang samping rumahnya hanya ada empat ekor saja. Namun demikian, Teguh tak patah arang. Ia tetap mencoba. Teguh mampu membuktikan bahwa dengan empat kambing miliknya dapat diolah menjadi biogas.

Menciptakan teknologi sederhana dan murah

Teguh membuat lubang berukuran lebar setengah meter dan panjang sekitar 3-4 meter. Lubang ini digunakan untuk meletakkan plastik sebagai penampung kotoran kambing. Ia memasukkan kotoran kambing ke dalam plastik, dicampur dengan air dan dekomposer. Setelah 10 hari, gas akan mulai keluar. Lubang kecil dibuat di atas plastik dan dipasang pipa peralon untuk mengalirkan gas keluar.

“Selain murah, plastik itu tidak berpori, sehingga proses penguraiannya bisa maksimal,” terang Teguh

Tong plastik diisi air sebagai indikator gas

Tong plastik diisi air sebagai indikator gas.

Pipa disalurkan ke dalam tiga tong plastik yang diisi air. Bagian atasnya ditaruh ember dalam kondisi terbalik. Alat ini digunakan sebagai indikator untuk mengetahui gas yang keluar.

“Untuk mengeluarkan gas, ujung yang lain sudah dibuat lubang yang terpasang pipa setinggi 2 meter dan pipa tersebut masuk ke dalam tong yang ditempatkan terbalik di dalam kolam. Jika tong naik, berarti gas masuk,” katanya.

Pada uji coba pertamanya, ia langsung menyalurkan gas ke kompor. Hanya saja, wujud api berwarna kemerahan dan mengeluarkan aroma tidak sedap. Kondisi tersebut diakibatkan karena kandungan uap air masih terlalu tinggi. Ia pun menambahkan 4 botol kecil yang diisi kapur tulis. Fungsinya, sebagai menyerap uang air dan menetralisir gas yang keluar. Setelah dari penetralisir, gas baru disalurkan ke dapur.

Keuntungan menggunakan Biogas

Menurut Teguh, ada dua keuntungan yang diperoleh dari pengolahan kotoran kambing ini, yakni hemat energi dan pupuk. Dengan menggunakan biogas, kebutuhan dapur untuk membeli gas LPG bisa dikurangi. Dari pengolahan biogas miliknya, Teguh bisa menghemat satu tabung LPG ukuran 3 kilogram selama tiga bulan.

“Kalau aktivitas biasa, satu tabung (ukuran 3 kg) habis dalam satu bulan. Kalau dengan biogas ini, pemakaian tabung LPG bisa sampai tiga bulan,” ujar Teguh.

Selain itu, Teguh juga memanfaatkan pupuk dari sisa pengolahan biogas untuk kebun salak miliknya. Teguh membuat perbandingan, untuk 1200 pohon salak bisa diselesaikan dalam waktu empat bulan saja tanpa harus mengeluarkan biaya. Pemupukan ia lakukan setiap empat hari sekali.

“Untuk pupuk organik kita harus bisa menghitung waktu dan kebutuhan pupuk. Keuntungannya, kita tidak perlu membeli pupuk kimia sintetis,” terangnya.

Sementara, apabila menggunakan pupuk kimia sintetis, waktu pemupukan dilakukan dua kali dalam setahun. Untuk pemakaian pupuk kimia sistetis, dibutuhkan 2 ons untuk setiap pohonnya. Dengan harga 5 ribu rupiah per kilonya, tidak cukup biaya 5 juta rupiah untuk membeli pupuk kimia sintetis.

Imam Purwadi, Kepala Kantor Pemberdayaan Masyarakat Desa Kabupaten Banjarnegara mengatakan bahwa daerah atas di Banjarnegara merupakan sentra peternakan. Pemerintah Kabupaten Banjarnegara berencana akan bekerjasama dengan Teguh untuk menularkan temuannya ke desa-desa yang lain.

“Sentra peternakan akan kita kembangkan untuk desa mandiri energi dan mandiri pupuk. Rencana akan kita kembangkan di babadan, jatilawang dan empat desa lainnya. Pak Teguh yang akan membagi ilmunya kepada para peternak dan petani salak,” terang Imam. []

Lihat: galeri foto