‘Seribu’ Pasar Desa Organik Demi Masa Depan Pangan Lestari, Mungkin kah?

Karena pasar bukan sekadar tentang ekonomi, namun juga lokalitas, kesehatan dan lingkungan

Dengan beragam dan banyaknya kearifan lokal, Indonesia sangat memungkinkan membangun dan mengembangkan pasar organik bagi masyarakat. Salah satu komunitas yang saat ini masih aktif memperkenalkan gaya hidup sehat melalui produk-produk organik adalah Komunitas Pasar Milas. Komunitas Pasar Milas selama beberapa tahun terakhir telah aktif memperkenalkan gaya hidup sehat kepada masyarakat.

Komunitas Pasar Milas juga mengadakan pasar organik setiap pekan. Pasar organik ini sebagai salah satu media untuk menjual hasil bumi dan makanan hasil dari olahan dan pertanian organik. Pasar tersebut sekaligus menjadi media untuk memperkuat pesan-pesan terkait isu kesehatan, pendidikan, dan lingkungan. Komunitas yang terbentuk melalui Pasar Milas ini menjadi agen terdepan untuk mengkomunikasikan konsep dan upaya mewujudkan masa depan pangan yang lestari.

Dalam rangkaian kegiatan Jagongan Media Rakyat (JMR), Komunitas Pasar Milas juga menggelar diskusi terbuka “Masa Depan Pangan Lestari”, pada Kamis (8/3/18) di Jogja National Museum (JNM) Yogyakarta. Pada diskusi yang difasilitasi oleh Westiani Agustina dari Tim Program Pengelola Pasar Milas, menghadirkan narasumber yang merupakan petani serta produsen langsung produk organik. Mereka adalah Budi Prasetya, seorang Petani sayuran organic “Bapa Biyung”. Lalu, ada T.A. Kuncoro, seorang produsen tahu kedelai organic “Tahu Toelen”. Serta, Cicilia Suryaniwati, seorang Produsen tahu kedelai organic “Tjah Dampit”.

Pasar Organik dan Pemberdayaan Masyarakat

Salah satu pembahasan penting dalam diskusi “Masa Depan Pangan Lestari” adalah tentang lokalitas, produk organik dan upaya pemberdayaan. Menurut Cicilia Suryaniwati, membeli produk organik dari petani yang ada di desa secara tidak langsung turut memberdayakan petani lokal yang ada. Termasuk yang dilakukannya melalui brand tempenya, yaitu “Tjah Dampit”.

“Tempe banyak mengandung vitamin B yang dapat menggantikan daging. Beberapa alasan mengapa mengambil bahan kedelai yang lokal yaitu bahannya sehat dan bermanfaat. Kami juga menggunakan ragi usar yang memiliki manfaat, yaitu bahan tempe yang lebih awet jika tempe sudah lama maka tempe tersebut tidak akan pahit,” papar Cecilia.

Cecilia juga menambahkan, bahwa Indonesia telah mengimpor kedelai dari Amerika 70% sebanyak 2.37 ton setiap tahun, produksinya 800.000 ton, artinya hanya sepertiganya. Tragedi yang kedua 60-63 ekspor kedelai 5000 ton ke India sdan Srilanka. Kemudian tragedi ketiga impor 1970 ke Amerika, 1990 ke Brazil dua yang terbesar.

T.A.Kuncoro juga berbagi pengalaman bahwa selama ini produk tahu miliknya sebagian kedelai mengambil dari Kulon Progo. Kedelai yang dimaksud adalah tanaman organik. Sehigga dapat organik dapat merasakan dampak positifnya.

“Produksi tahu organik sendiri dapat memberikan distribusi dalam memperkenalkan gaya hidup sehat kepada masyarakat. Serta, ikut mendistribusikan sebagai produsen makanan dari olahan dan pertanian organik,” jelas Kuncoro.

Dalam diskusi ini, baik narasumber dan peserta sepakat bahwa penting sekali membangun kesadaran baru dalam memandang pasar. Bahwa, pasar tidak hanya sekedar tentang ekonomi, lokalitas, kesehatan, namun juga soal lingkungan. Pasar komunitas, khususnya yang menjual produk organik telah memiliki kemasukakalan yang ada di masyarakat. Indonesia sebagai negara dengan beragam kearifan lokal, seharusnya mampu membangun dan mengembangkan pasar untuk masyarakat yang mencakup semua kemungkinan tersebut. Di akhir diskusi, semua narasumber, peserta, dan penyelenggara pun sepakat mendorong terwujudkan seribu desa organik bersertifikasi, khususnya yang ada di Yogyakarta. [Alimah]

Foto dan referensi tulisan: JMR2018

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.