Perempuan Pembaharu Desa Bicara Kesetaraan Gender hingga BUMDesa

“Mohon maaf bapak Kyai, kali ini saya menyampaikan tausyiah (ceramah agama) di depan bapak-bapak dan ibu-ibu semuanya. Saya ingin menyampaikan tentang pentingnya kesetaraan gender, terutama dalam kehidupan berumah tangga..”

Dengan pelahan dan penuh percaya diri, Tursiyem, salah satu peserta Sekolah Perempuan di Desa Gumelem Kulon, Kecamatan Susukan, Kabupaten Banjarnegara meneruskan ceramahnya. Ceramah agama tersebut dia sampaikan menjelang acara berbuka puasa bersama yang diselenggarakan Infest Yogyakarta, Jumat (26/6/2015). Acara tersebut memang sengaja dirangkai setelah kegiatan Sekolah Perempuan pertemuan kelima yang membahas hasil identifikasi aset desa. Buka puasa dilakukan bersama keluarga peserta Sekolah Perempuan, perangkat desa, tokoh agama dan masyarakat.

Dalam acara tersebut, ada hal yang sangat mengesankan bagi saya sebagai fasilitator kegiatan Sekolah Perempuan. Di acara itu, tanpa saya duga, salah seorang peserta Sekolah Perempuan menjadi penceramah agama untuk kali pertamanya di depan khalayak perempuan, laki-laki perwakilan tokoh agama dan masyarakat. Hal tak terduga lainnya adalah isi dari ceramahnya menyampaikan tentang pentingnya kesetaraan peran antara laki-laki dan perempuan dalam kehidupan berumah tangga.

Pemetaan aset dan buka bersama di Desa Gumelem Kulon

Pemetaan aset dan buka bersama di Desa Gumelem Kulon

Dalam ceramahya, Tursiyem berkali-kali menyebut istilah gender. Mungkin, bagi masyarakat di Desa Gumelem Kulon, istilah gender masih belum terlalu dipahami. Tursiyem menjelaskan istilah gender dan memberikan contoh dalam praktik kehidupan berumah tangga dengan sederhana.

”Bapak-bapak, sebagai suami, kalau istrinya di rumah sedang kerepotan mencuci piring, baju dan mengurus anak, maka bapak-bapak wajib hukumnya membantu istri. Tidak apa-apa, meskipun laki-laki memebantu istri mengerjakan pekerjaan itu tidak ada hubungannya dengan jenis kelamin. Ibu-ibunya juga jangan diam saja kalau suaminya kerepotan atau sakit misalnya, istri juga harus membantu suami,” ujarnya.

Menemukenali aset desa

Sebelum acara buka puasa bersama dimulai, pengasuh Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), mempresentasikan hasil identifikasi aset desanya. Salah satu aset yang diidentifikasi adalah aset sumber daya alam di Desa Gumelem Kulon. Dalam proses pemetaan tersebut, dia baru menyadari bahwa sebenarnya sumber mata air di desanya sangat banyak. Sayangnya selama ini belum terdistribusi secara merata ke rumah-rumah warga secara langsung. Dari temuannya itu, ia mengusulkan perlunya Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa) yang mengelola sumber mata air. Usulannya tersebut diungkapkan di depan Kepala Desa Gumelem Kulon yang saat itu memang mengikuti proses pelaksaan sekolah perempuan dari awal sampai selesai.

“Ternyata di desa kita memiliki 15 sumber mata air, ada Blawong, Jlupang, Sabuk Janur, Tlatak, Sawangan, Karet, Bacok, Gintung, Kaliwaru, Kaliwani, dan Kalikadung. Tapi pemanfaatannya masih belulm merata ke rumah-rumah warga. Terutama masyarakat sekitar,” ungkap Tursiyem.

Ia berharap, sumber mata air dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan air bersih warga. Salah satu caranya dengan membuat bak penampung air. Sebab, dari hasil wawancara yang dilakukan kader Perempuan Pembaharu Desa, selama ini, air lebih banyak dimanfaatkan oleh warga yang lokasi tempat tinggalnya lebih rendah dari mata air. Sementara, bagi yang posisinya lebih tinggi belum bisa merasakan manfaat sumber mata air.

“Usulan saya, perlu ada BUMDesa untuk pengelolaan sumber mata air,” tutup Tursiyem disambut tepuk tangan peserta yang lain termasuk aparat pemerintah desa Gumelem Kulon.

Satu gagasan untuk “Perempuan Pembaharu Desa Bicara Kesetaraan Gender hingga BUMDesa

  1. Ping-balik: Kala Perempuan Menulis Desanya | Sekolah Desa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *