pentingnya data untuk RPJMDesa

Pentingnya Data untuk Penyusunan RPJMDesa

“Semua isi keterangan data aset dan potensi desa yang ditulis ibu-ibu ini benar-benar sesuai dengan isi pikiran saya dan kondisi di desa. RPJMDesa harus merujuk dari data ini (aset dan potensi desa). Saya semakin semangat mendukung kelompok perempuan di desa,” ujar Supriyanto, Kepala Desa Jatilawang, Kecamatan Wanayasa, Kabupaten Banjarnegara.

koordinasi kelompok perempuan dengan kepala desa Jatilawang

koordinasi kelompok perempuan dengan kepala desa Jatilawang

Rasa bangga dan pujian beberapa kali diungkapkan Supriyanto. Dia mengaku optimistis jika hasil perbaikan dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDesa) menjadi lebih baik. Hal itu diungkapkannya di depan kelompok perempuan “Raga Jambangan” Desa Jatilawang saat koordinasi perkembangan kegiatan kelompok perempuan, Jumat (13/11/15).

[baca juga : Perbaikan RPJMDesa Jatilawang Berbasis Data]

Di Jatilawang, selain usulan kelompok perempuan mulai masuk dalam RPJMDesa, pemerintah desa (Pemdes) juga sudah menganggarkan kegiatan untuk kelompok perempuan di tahun 2016. Bahkan menurut Supriyanto, anggaran kegiatan kelompok perempuan juga akan dinaikkan lagi. Hal tersebut diungkapkan Supriyanto setelah menyadari betapa hasil kerja keras kelompok perempuan di desanya dibutuhkan dalam proses pembangunan desa.

[baca juga: Data Kesejahteraan Desa]

RPJMDesa Responsif Gender dan Inklusi Sosial

Apresiasi atas hasil kerja keras kelompok perempuan tidak hanya muncul dari Pemdes Jatilawang, tetapi juga dari Desa Gentansari dan Gumelem Kulon, Kabupaten Banjarnegara. Bagi kelompok perempuan, apresiasi dan dukungan dari Pemdes merupakan peluang sekaligus tantangan tersendiri. Khususnya, keterlibatan dalam pembangunan desa mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga pengawasan, akan menjadi pengalaman baru bagi mereka.

[baca juga: Saatnya Perempuan Bersuara]

Salah satu ibu rumah tangga yang juga pegiat kelompok perempuan “Raga Jambangan, Emi Wahidah mengungkapkan bahwa dirinya semakin percaya diri untuk terlibat dalam pembangunan di desanya. Dia juga menekankan pentingnya posisi perempuan dalam pembangunan desa.

“Dulu saya sering tidak nyambung jika diajak ngobrol sama suami. Tapi sekarang saya sudah nyambung kalau diajak ngobrol. Saya juga percaya diri bicara tentang pembangunan desa dan menjelaskannya ke masyarakat ketika bertanya. Dadi wong kanggo yo seneng (Jadi orang yang berguna itu menyenangkan). Meskipun sering pergi ke sana ke mari, tujuan saya jelas,” ungkap Emi Wahidah.

Kini, kelompok perempuan telah menghasilkan data aset dan potensi desa, data kesejahteraan lokal, serta data hasil prioritas perbaikan layanan publik dasar. Selain itu, kelompok perempuan juga sedang menggali usulan kelompok marginal di desanya. Data-data tersebut akan dipersiapkan kelompok perempuan untuk direkomendasikan sebagai bahan rujukan penyusunan RPJMDesa. Sehingga, desa dapat menghasilkan RPJMDesa responsif gender dan inklusi sosial.

[baca juga : Perempuan dan Pembangunan Desa]

Bagi Pemdes di Jatilawang, Gentansari, dan Gumelem Kulon, kini optimis akan menghasilkan RPJMDesa berbasis data dan usulan kelompok marginal. Masing-masing Pemdes juga akan membentuk kembali tim penyusun RPJMDesa, terutama dengan menambahkan keterlibatan kelompok perempuan. [Alimah]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.