Pemuda Penggerak Desa: Bertani dan Mengabdi

“Bekerja sebagai petani, mungkin sebagian orang berpikir bahwa pekerjaan yang rendah, pekerjaan orang desa, kotor dan lain sebagainya. Tapi bagi saya bekerja sebagai petani itu luar biasa. Jika dilihat dari segi penghasilan, sebenarnya petani dengan PNS tidak beda jauh. Hanya saja seragam yang membedakannya. Petani adalah pahlawan bangsa. Ya, ungkapan itu cukup tepat meskipun terkesan berlebihan. Bagaimana tidak, jika semua orang tidak mau menjadi petani khususnya orang Tebo, terus dari mana material pembuatan ban motor, mobil mau dari mana? Apakah kita mau impor lagi? Ini hanya contoh kecil saja.”
(Ari Rudiyanto, Pemuda Penggerak Desa Tegal Arum)

Suatu hari saya merasa takjub dengan semangat para pemuda dan pemudi di beberapa desa di kabupaten Tebo, Jambi. Semangat mereka untuk membangun desanya dan menggerakkan warga di desa. Semangat mereka untuk belajar tentang bagaimana membangun desa bersama Pemdes dan warga. Semangat yang jarang saya temukan sebelumnya di desa-desa yang pernah saya kunjungi, bahkan termasuk desa kelahiran saya. Tulisan ini juga bukan untuk membahas soal desa saya yang ditinggalkan para pemuda dan pemudinya untuk keluar kota atau bermigrasi. Namun tentang para pemuda yang terus semangat, peduli dan rendah hati mengabdi dan membangun desanya. Mereka adalah para pemuda di beberapa desa di kabupaten Tebo, Jambi.

Mengajar, Bertani, dan Mengabdi untuk Desa

15079077_10202654984973945_8071131794197070112_n

Ari bersama beberapa pemuda penggerak desa. Ari berdiri paling belakang dengan syal di lehernya. Kades Tegal Arum yang membawa kertas bertuliskan “I Love Tegal Arum”. (Sumber foto: Facebook Ari)

Dalam sejumlah kunjungan ke beberapa desa, saya pernah bertanya pada pemuda desa di daerah transmigran. Saya hanya sekadar ingin tahu, maka pertanyaan saya pun sederhana, “Apa saja aktifitasmu di desa?”. Dari sekian jawaban mereka, yang sama adalah aktifitas mereka membantu orang tua mereka di kebun. Ada beberapa di antaranya adalah bekerja sebagai guru. Rutinitas hariannya, setiap pagi sebelum berangkat mengajar, mereka menyempatkan diri dulu ke kebun membantu kedua orang tua mereka bertani atau berkebun. Begitu pun pemuda yang bekerja sebagai perangkat desa, maka pagi buta sebelum ke kantor desa, mereka biasanya akan ke kebun terlebih dahulu, atau usai bekerja dari kantor desa atau mengajar, maka mereka akan menyempatkan diri ke kebun. Waktu luang selain mengajar dan bertani adalah berkumpul bersama komunitas pemuda dan komunitas lain di desanya. Mereka berkumpul bukan sekadar ketika ada kegiatan yang bersifat seremonial, lebih dari itu mereka berbagi gagasan dan merancang perubahan yang lebih baik untuk desanya.

Dari sekian pemuda itu, ada salah satu pemuda desa bernama Ari Rudiyanto (23 tahun). Aktifitas rutinnya di desa sama seperti yang sudah saya paparkan, yaitu berkebun, mengajar di salah satu sekolah, dan mengabdi di desanya sebagai pemuda penggerak desa. Dia lahir di Desa Tegal Arum, Kecamatan Rimbo Bujang, Kabupaten Tebo, Provinsi Jambi. Sebagai pemuda desa, jika dia mau, maka sebenarnya dia memiliki banyak pilihan untuk ke luar dari desanya dan mengepakkan ‘sayap’-nya sejauh yang dia inginkan. Karena sebenarnya dia memiliki kapasitas lebih dari apa yang dia lakukan saat ini di desanya. Dia lulusan sarjana strata 1 (S1) Kimia dari salah satu perguruan tinggi swasta, Universitas Islam Indonesia (UII) di Kota Yogyakarta. Dia juga tidak kurang mendapatkan tawaran pekerjaan. Namun, dia memilih tetap di desa, mengajar, bertani, dan mengabdi menggerakkan desanya. Bertani dan Mengabdi, karena mengajar juga bagian dari pengabdian.

Kembali ke Desa dan Membangun Desa

Ari hanya satu dari sekian pemuda di desa yang masih memiliki semangat mengabdi dan memberdayakan warga desanya. Di desanya, pemuda-pemudi seusianya begitu bersemangat belajar tentang desanya, termasuk kepala desanya sendiri adalah seorang pemuda desa yang penuh semangat belajar dan melakukan perubahan. Mereka begitu antusias belajar tentang perencanaan apresiatif desa, salah satu tahap kegiatan dari program yang diselenggarakan oleh Institute of Education Development, Social, Religious and Cultural Studies (Infest) Yogyakarta, atas kerjasama Pemkab Tebo dan Pemdes Tegal Arum. Di Rimbo Bujang, selain Tegal Arum, desa dampingan lainnya adalah desa Tirta Kencana, sementara desa lainnya adalah desa Teluk Singkawang, kecamatan Sumay.

Di masing-masing tiga desa tersebut, yang membuat saya takjub adalah semangat para pemuda-pemudi dan para ibu di desa. Sebagai pemuda yang memiliki gelar dari perguruan tinggi, Ari mengaku pernah memiliki pemikiran untuk bekerja dengan gaji di atas rata-rata. Namun di akhir studinya, dia sempat merenungkan pemikirannya sendiri untuk kembali lagi ke desa.

“Saya memutuskan untuk pulang meskipun sebenarnya ada beberapa lowongan di beberapa daerah seperti di Tangerang dan Kalimantan. Ketika saya memutuskan untuk pulang, saya sebelumnya memang tak punya pandangan mau kerja apa di desa nanti. Karena di desa tidak ada pekerjaan yang sesuai dengan latar belakang pendidikan saya,” ungkap Ari pelahan.

“Saya hanya punya tekad ingin ikut membantu membangun desa. Akan tetapi waktu itu saya belum paham mau memulainya dari mana? Tapi saya tetap bergerak membantu sebisa saya. Ketertarikan saya ikut terjun dalam kegaitan di desa berawal ketika saya kuliah kerja nyata (KKN). Waktu itu program saya adalah membuat pupuk cair organik. Ketika saya sedang sosialisasi program, saya dibuat bengong oleh kelompok tani di desa tersebut. Ternyata mereka lebih paham dari pada saya. Dari situ saya berpikir, kenapa desa saya tidak bisa seperti ini?”.

Wong Isin Kui Bakal Ngeleh

Berawal dari pengalaman tersebut, Ari pun memilih kembali ke desanya dan bertekad untuk turun tangan membangun desanya melalui Pemuda Penggerak Desa. Kendati demikian, dia sadar belum memiliki pengalaman bagaimana membangun desanya, maka “memulai” bergerak dan belajar dari nol adalah jawaban paling tepat saat itu. Sampai akhirnya dia secara resmi menjadi seorang guru, dia sadar tantangan berikutnya adalah membagi waktu ketiga jenis aktifitas di tempat yang berbeda.

“Jam 06.00 pagi sampai jam 07.30, saya membantu orang tua di kebun, jam 08.00 sampai jam 2 saya mengajar, jam 03.00 sampai jam 10.00 saya mulai membantu kegiatan di desa. Setiap hari ya seperti itu. Kenapa saya masih mau berkebun? Karena di pagi hari saya masih memiliki waktu cukup luang, dari pada bangun tidur siang, lebih baik saya membantu orang tua saya sekaligus sebagai balas budi saya dan wujud bakti saya kepada orang tua. Meskipun tidak banyak yang bisa saya lakukan setidaknya bisa sedikit meringankan. Kata orang jawa “wong isin kui bakal ngeleh” (orang yang malu/gengsi itu bakal lapar),” papar Ari.

Sambil bercerita, Ari sesekali berhenti sejenak merenungkan kalimatnya sendiri. “Meskipun”, lanjutnya, “Setelah dari kebun, harus ekstra dalam bersih-bersih tangan agar tidak bau getah saat salaman sama murid-murid,” kata Ari sambil menertawakan dirinya sendiri.

Di desanya, masyarakat mayoritas adalah petani karet, termasuk orang tuanya. Setiap orang memiliki maknanya sendiri tentang bekerja. Meskipun sama-sama bekerja, namun bisa jadi memiliki makna yang berbeda. Apakah dia bekerja sekadar untuk mengejar finansial seperti uang, kedudukan, dan lain sesuatu yang bersifat materi, ataukah dia bekerja untuk berkarya, bekerja untuk mengabdi dan lain sebagainya. Bagi Ari sendiri, bekerja haruslah menuruti atau sesuai dengan kata hati atau nurani, dan pastikan bahwa kita merasa nyaman. Karena kenyamanan membuat kita bekerja dengan tulus dan ikhlas, bukan sebagai robot.

“Bekerja sebagai petani, mungkin sebagian orang berpikir bahwa pekerjaan yang rendah, pekerjaan orang desa, kotor dan lain sebagainya. Tapi bagi saya bekerja sebagai petani itu luar biasa. Jika dilihat dari segi penghasilan, sebenarnya petani dengan PNS tidak beda jauh. Hanya saja seragam yang membedakannya. Petani adalah pahlawan bangsa. Ya, ungkapan itu cukup tepat meskipun terkesan berlebihan. Bagaimana tidak, jika semua orang tidak mau menjadi petani khususnya orang Tebo, terus dari mana material pembuatan ban motor, mobil mau dari mana? Apakah kita mau impor lagi? Ini hanya contoh kecil saja.”

Peran Pemuda dalam Pembangunan Desa

14449942_1567093909983745_9119931549890291945_nMengenal sosok pemuda seperti Ari yang sudah berpanjang lebar menceritakan tentang kiprahnya di desa, rasanya sayang sekali jika tidak bertanya tentang peran pemuda dalam pembangunan desa. Maka dengan lancar, Ari pun menjawab berdasarkan sudut pandangnya sebagai pemuda desa Tegal Arum.

“Sebenarnya, peran pemuda dalam pembangunan desa tidak terlepas dari peran pemerintah desa, khususnya seorang Kades. Apa yang terjadi di desa Tegal Arum mungkin berbeda dengan desa lainnya, tapi saya ingin sedikit bercerita bahwa apa yang saya alami bersama teman-teman pemuda penggerak desa tidak terlepas dari kecerdasan Kades kami.”

Kades yang dia maksud adalah Rohmad Annas, usianya tergolong masih muda, namun pengabdiannya di desa cukup konsisten, mulai dari Kadus hingga Kades.

“Walaupun beliau hanya lulusan SMP, tapi semua mengakui pola pikir beliau. Ketika banyak orang berpikir bahwa pemuda identik dengan masalah, namun Kades tidak seperti itu, pemuda adalah solusi jika diberi wadah dan kesempatan, karena banyak yang tidak percaya sama pemuda, sehingga peran aktif pemuda sangat terbatas sekali. Baginya, pemuda adalah harapan. Dalam 1 tahun, ada begitu banyak kegiatan, termasuk acara-acara besar yang selalu diselenggarakan di desa. Semua itu adalah wadah bagi kami para pemuda untuk mengabdi dan berkarya bagi desa. Jadi peran pemuda bagi saya adalah mengabdi dan berkarya bagi desa.”

Di desa Tegal Arum, Pemuda Penggerak Desa berdiri sejak masa pemerintahan Rohmad Annas, Kades yang dimaksud Ari sebagai Kades yang berperan penting dalam memberdayakan pemuda di desa. Tepatnya April 2016 bersamaan dengan acara Hari Ulang Tahun (HUT) Desa.

“Saya memang tidak bergabung dari awal. Karena pada waktu itu saya baru saja kembali dari Yogyakarta, jadi sekitar 8 bulanan pemuda ini terbentuk, meskipun baru seumur rambut jagung, gebrakan yang dilakukan cukup luar biasa dan sangat membantu pihak Desa.”

Sebagai pemuda desa, Ari berharap agar pemerintah desa tetap memberdayakan para pemuda di desa. Ari juga punya pesan tersendiri kepada semua Kades di Indonesia. Pemdes bukan sekadar pelayan desa, bukan juga sekadar pekerja untuk desa. Menjadi Pemdes khususnya Kades seharusnya bukan sekadar pemerintah yang puas bekerja di dalam ruangan kantor desa. Namun lebih dari itu, Kades adalah pemimpin bagi warganya, guru bagi warganya, orang tua bagi warganya, sahabat bagi warganya yang mampu membuat nyaman warganya, betah di desa, sedih dan gembira bersama.

Bagaimana Pemuda di Desamu?

Ari hanyalah salah satu contoh dari sekian pemuda yang masih memiliki harapan yang kuat akan desanya. Juga pemuda yang masih memiliki mimpi untuk terus membangun desanya. Iya, tentu saja semangat yang saya maksud bukanlah semangat para pemuda yang bermimpi dan berlomba meninggalkan desanya untuk ke kota bahkan ke luar negeri. Cerita Ari mengingatkan saya akan pemuda di desa kelahiran saya. Sebuah desa di mana para pemudanya berlomba menjadi pekerja migran di Taiwan dan Korea, tepatnya setelah mereka lulus SMA. Jika tahun 1990-an para orang tuanya khususnya ibu mereka menjadi pekerja migran di Timur Tengah, kini anak-anaknya memimpikan bekerja di Taiwan, Korea, dan Hongkong, lalu mereka pun akan menikah muda, lalu meninggalkan istrinya yang juga masih sama-sama mudanya. Kendati demikian perjalanannya tetap dipenuhi kekhawatiran, tentang apa yang harus mereka lakukan ketika kembali lagi ke desanya. Kekhawatiran itulah yang pada akhirnya membawa mereka kembali menjadi pekerja migran, entah sampai kapan.

Sungguh tidak ada yang salah bagi mereka para pemuda dan pemudi yang berlomba menjadi pekerja migran. Karena bahkan, pada kondisi tertentu sangatlah mulia bekerja menghasilkan uang dan membiayai hidup keluarganya. Tapi, sampai kapan mimpi pemuda-pemudi Indonesia hanya sebatas menjadi pekerja migran? Khususnya di bidang pekerjaan yang membuat mereka tidak bisa berkembang. Berapa jumlah pemuda-pemudi yang tersisa di desa jika yang mereka pikirkan sejak kecil hanyalah menjadi pekerja migran? Meskipun saya melontarkan pertanyaan-pertanyaan tersebut, nyatanya sampai saat ini saya tidak mampu menjawabnya. Kalaupun saya mampu menjawabnya, bisa jadi saya belum mampu mewujudkannya. Karena pertanyaan tersebut memang bukan hanya ditujukan pada para pemuda-pemudi, namun juga pemerintah dan sistem yang membuat mereka tidak memiliki pilihan lain selain bermigrasi. Harapan saya, kelak pemuda di desa kelahiran saya atau di manapun memiliki mimpi lebih tinggi lagi, memiliki pilihan karir yang lebih banyak, juga sistem yang memberi kesempatan dan memudahkan mereka mewujudkan mimpinya. Dan semoga orang-orang seperti saya tidak sekadar berharap, tapi juga turut bergerak mewujudkannya.

Keterangan Penulis:

*Alimah Fauzan adalah gender specialist di Institute of Education Development, Social, Religious and Cultural Studies (Infest) Yogyakarta. Pengalaman tentang pemuda desa ini merupakan salah satu pembelajaran penting dari proses pengorganisasian komunitas yang dilakukan Infest Yogyakarta di sejumlah desa, khususnya komunitas pemuda desa dan perempuan sebagai salah satu kekuatan sumber daya manusia (SDM).

3 gagasan untuk “Pemuda Penggerak Desa: Bertani dan Mengabdi

  1. Ping-balik: Kolaborasi Perempuan dan Pemuda Desa Tegal Arum Mengelola Kebun Toga - Sekolah Desa

  2. Ping-balik: Menengok Kebun Toga Desa Transmigran Jawa di Propinsi Jambi – My Last Paragraph

  3. Ping-balik: Perempuan Berkisah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *