Menjadi Fasilitator

Rabu (18/2/2014) digelar pertemuan internal tim Mampu Infest untuk meningkatkan kemampuan dan pemahaman anggota tim dalam mengerjakan tugas-tugasnya. Dalam pertemuan tersebut, Budi Hermanto memaparkan pentingya strategi pendekatan kepada kelompok masyarakat. Budi juga menekankan pentingnya kemampuan menjadi fasilitator bagi masing-masing anggota tim Mampu.

Kemampuan dan strategi komunikasi harus dimiliki masing-masing anggota tim Mampu. Hal tersebut dikarenakan setiap kerja-kerja yang dilakukan selalu berhubungan dengan masyarakat. Terlebih, tipikal masyarakat yang dihadapi pun beragam. Sehingga, selain penguasaan materi, kemampuan adaptasi dan pemahaman konteks kebudayaan masing-masing daerah pun harus dipahami.

Dalam belajar bersama masyarakat, perlu menghindari pemahaman sebagai orang yang serba tahu. Sebab, tugas utama sebagai fasilitator ialah menumbuhkan kepercayaan diri masyarakat dalam menggali informasi. Selain itu, fasilitator mempunyai ruang besar untuk berkreasi, khususnya dalam mengelola sebuah forum. “Jangan mempersulit hal yang mudah. Kita bisa membuat sesuatu ala kita, cara, metode dan alat,” terang Budi.

Ketika belajar bersama masyarakat, ada empat hal yang perlu diperhatikan. Pertama, pentingnya keterlibatan fisik, meliputi kontak mata, bahasa tubuh (gesture) dan penekaan suara, dan daya tahan.

Kedua, seorang fasilitator juga perlu memperhatikan gaya saat berhubungan dengan masyarakat, seperti lebih banyak mendengarkan, membangun suasana dengan humor, dan kreatif dalam menggali pertanyaan. Seorang fasilitator juga harus jeli melihat naik-turunnya suasana dalam sebuah forum. Untuk itu, bergerak selama proses diskusi dapat dilakukan supaya tidak membuat forum menjadi bosan.

Ketiga, seorang fasilitator harus mampu mengelola dan memahami dinamika kelompok. Artinya, seorang fasilitator mampu merumuskan ukuran atau penilaian setiap proses yang dilalui. Kemudian, seorang fasilitator juga mampu menyeimbangkan kerjasama dalam tim.

Terakhir, keempat, berhubungan dengan kepribadian. Hal tersebut menyangkut bagaimana tata cara berpakaian yang sopan dan bersikap profesional dalam pekerjaan. “Tinggalkan masalah pribadi dalam pekerjaan,” jelas Budi. (Sofwan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.