Temu Warga Desa Tracap: Menggali Indikator Kesejahteraan Lokal

Wonosobo – Senin pagi (3/8/2015), Desa Tracap, Kecamatan Kaliwiro, terlihat tidak seperti biasanya. Pemandangan yang tampak adalah warga terlihat berbondong-bondong menuju gedung balai desa. Mereka terdiri dari perempuan dan laki-laki dari berbagai usia.

Kedatangan warga di balai desa untuk mengikuti “temu warga’. Pertemuan ini bertujuan untuk menggali indikator kesejahteraan lokal yang akan difasilitasi oleh tim Pembaharu Desa Tracap. Indikator kesejahteraan lokal yang didapatkan, akan dijadikan basis data dalam menyusun rencana pembangunan Desa Tracap kedepan. Sehingga, persoalan umum yang biasanya terjadi di desa, misalnya, ketidaktepatan pengalokasian anggaran dan program bantuan tidak terulang kembali.

Hal itulah yang membuat pertemuan ini terasa menjadi sangat penting. Tauhid, salah satu anggota tim pembaharu mengatakan bahwa kegiatan “temu warga” dalam penggalian indikator ini merupakan pelajaran yang berharga bagi Desa Tracap khususnya dan seluruh desa di Indonesia pada umumnya.

Sebelumnya (2/8/2015), tim Pembaharu Desa bersama perangkat desa dan Infest Yogyakarta telah melakukan pertemuan persiapan. Dalam pertemuan persiapan, selain membahas persoalan teknis, mereka juga mendiskusikan bagaimana metode yang tepat agar semua peserta yang hadir dalam temu warga dapat bersuara dan menggunakan haknya secara aktif. Menurut Fatah, Program Officer (PO) Infest wilayah Wonosobo, persolan metode menjadi sangat penting agar dalam pelaksanaan  tidak terjadi dominasi oleh sekolompok orang dalam forum.

Temu Warga Desa Tracap

Temu Warga Desa Tracap (foto oleh Fandi)

Tepat pada pukul 10.00 WIB, acara dimulai. Jumlah keseluruhan peserta yang hadir adalah 71 orang. Acara ini dipandu oleh Siti dan Tauhid dari tim Pembaharu Desa Tracap. Pertemuan ini berhasil menemukan 11 indikator kesejahteraan lokal, yakni: penghasilan, kepemilikan lahan, jenis pekerjaan, pendidikan, kepemilikan rumah, usaha, beban sosial, kepemilikan aset lain, kepemilikan tabungan, hutang serta kepemilikan fasilitas air dan listrik.

Indikator-indikator  tersebut didiskusikan kembali oleh seluruh peserta dengan menurunkannya menjadi sub-sub indikator. Tujuannya, selain untuk menentukan perhitungan bobot juga berfungsi untuk memperdalam indikator yang didapatkan.

Tantangan dalam pendataan lapangan

Setelah kegiatan pertemuan penggalian indikator kesejahteraan lokal dinyatakan selesai pada pukul 13.00 WIB, para anggota tim Pembaharu Desa, perangkat desa dan perwakilan Infest Yogyakarta kembali melakukan diskusi kelompok. Diskusi itu juga dihadiri Aldhiana Kusumawati, perwakilan Pemerintah Kabupaten Wonosobo.

Diskusi ini menggali dan merumuskan beberapa catatan terkait dengan proses penggalian indikator kesejahteraan lokal yang sudah dilakukan. Selain itu, juga berusaha menemukan beberapa tantangan-tantangan yang akan dihadapi, baik dalam pendataan lapangan yang rencananya akan dilakukan pertengahan Agustus ataupun kelangsungan program terkait.

Salah satu tantangan yang akan dihadapi, menurut Siti ialah persoalan banyaknya kegiatan sensus yang dilakukan dalam bulan Agustus ini di Desa Tracap. Ia mengungkapkan bahwa setidaknya akan ada 3 kegiatan sensus yang dilakukan, yakni oleh Badan Pusat Statistik (BPS), Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB) dan persiapan Pilkada. Dengan demikian kemungkinan tim Pembaharu Desa, selaku tim yang akan melakukan pendataan di lapangan akan menghadapi sikap warga yang beragam.

Untuk itu, diskusi tersebut merumuskan agar dilakukan sebuah usaha tindakan pembangunan pola komunikasi yang intensif ke seluruh warga menjelang pendataan di lakukan dengan menggunakan struktur pemerintahan yang ada, seperti RT, RW, LPM, dan yang lainnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.