“Betino Lah Beguno dalam Pemerintahan Desa Ko”

Perempuan Desa Teluk Singkawang Mengungkapkan Usulannya dalam Musrenbangdes

Kalimat berbahasa Melayu itu diungkapkan oleh ibu Toyibah, salah satu perempuan di desa Teluk Singkawang, kecamatan Sumay, kabupaten Tebo, Jambi. Pernyataan tersebut, meskipun singkat, namun secara tidak langsung melukiskan bagaimana kondisi dan posisi perempuan dalam proses pembangunan di desa Teluk Singkawang.

Menurut Yuni Wati, salah satu perempuan pembaharu desa Teluk Singkawang, perempuan di desa sekarang benar-benar merasakan adanya perubahan pemerintah desa sejak adanya pelaksanaan sekolah pembaharuan desa.

“Sekarang kami mempunyai bekal dan dibentuk dalam sebuah tim yaitu Tim Pembaharuan Desa (TPD). Sejak adanya TPD di desa kami, apa dibutuhkan masyarakat dari kelompok marginal sampai kalangan elit, kini mulai diperhatikan dalam proses pembangunan desa,” jelas Yuni.

Meningkatnya Partisipasi dan Menguatnya Daya Tawar Perempuan

Yuni juga menambahkan bahwa selama ini masyarakat biasa sangat awam dengan tahapan pembangunan di desa mulai dari perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, pengawalan, evaluasi, dan pertanggungjawaban. Masyarakat selama ini hanya mengetahui persoalan terkait administrasi di desa, serta sebagai penerima program di desa. Sementara untuk akses, partisipasi, dan kontrol pelaksanaan pembangunan desa belum sepenuhnya diketahui perempuan. Hal ini berdampak pada penerima manfaat dari pembangunan itu sendiri.

Betino lah beguno dalam pemerintahan desa ko, itulah kata-kata dari kaum perempuan yang ikut dalam Sekolah Desa. Khususnya kami kaum perempuan sangat merasakan perubahan itu, yang awalnya kami hanya seorang ibu rumah tangga biasa kini mempunyai peran keikutsertaan kami dalam pembangunan di desa tercinta kami ini,” ungkap Yuni.

O..macam tu ruponyo” tambah Yuni, karena sejak adanya Sekolah Desa, kaum perempuan sudah mulai berani bicara, mempunyai motivasi untuk maju, dan mulai mengetahui betapa pentingnya kaum perempuan dalam pembangunan di desa ini. Kini, lanjut Yuni, mereka mulai memahami bagaimana cara melaksanakan pembangunan di desa, apa saja aset da potensi desa yang dimiliki desanya, dan siapa saja masyarakat yang termarginalkan dan sangat penting diperhatikan.

“Intinya sejak ada Sekolah Desa, kami merasakan pemerintahan yang TRANSPARAN, ADIL DAN BIJAKSANA!” tandasnya.

Keterlibatan perempuan serta kelompok marginal lainnya di desa, berawal dari program “Penguatan Partispasi Kelompok Masyarakat Dalam Perencanaan, Pelaksanaan dan Pengawasan Pembangunan di Tingkat Desa Melalui Pendekatan Perencanaan Apresiatif Desa” melalui Sekolah Pembaharuan Desa. Program ini diselenggarakan oleh Infest Yogyakarta dengan kerjasama Pemerintah Kabupaten (Pemda) Tebo melalui Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintah Desa (BPMPD) Tebo.

“Kami, khususnya dari kelompok perempuan juga mengungkapkan rasa terimakasih kami kepada Infest Yogyakarta, Pemerintah Kabupaten dalam hal ini BPMPD, serta Pemerintah Desa (Pemdes) yang telah memberi kesempatan, dan membuka wawasan warga di desanya tentang betapa pentingnya peran masyarakat dalam pembangunan di desa kami tercinta ini.” [Alimah]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *