Berdaya dengan Padi dan Palawija Organik

Petani sudah sangat identik dengan desa. Belakangan, bermunculan pula kegelisahan segelintir pihak yang khawatir kaum muda akan tidak gemar bertani di desa. Tidak hanya itu, impor beras dan bahan pangan lain yang dilakukan pemerintah seakan menafikan eksistensi petani di desa. Menjadi petani seakan dianggap tidak menguntungkan, tidak menjanjikan, meskipun sebagian besar masyarakat desa di Indonesia bergantung dari hasil pertanian padi para petani. Berikut adalah kliping sekolahdesa.or.id yang dimaksudkan untuk menjawab  kegelisahan, asumsi, dan wacana tentang kemandirian petani dan desa tadi. Harian Kompas menulisnya pada 27 April 2016. Tulisan dimuat kembali untuk tujuan pembelajaran.

———————————————————-

Berdaya dengan Padi dan Palawija Organik

Ratusan petani di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, mengembangkan pertanian padi dan palawija organik. Mereka berdaya melepaskan diri dari ketergantungan pada pupuk dan pestisida kimia. Dengan harga beras dan palawija organik yang tinggi, penghasilan petani pun terdongkrak

Tanaman padi berumur sekitar dua minggu tumbuh subur di persawahan yang berbukit di Desa Catur, Kecamatan Sambi, Boyolali, Kamis (7/4). Trubus Jatmiko, Ketua Kelompok Tani Budi Rahayu Desa Catur, memeriksa padi yang ditanamnya di lahan seluas lebih kurang 5.000 meter persegi. Ia menanam padi tanpa menggunakan pupuk dan pestisida kimia sama sekali. “Di sini total ada 20 hektar sawah yang ditanami padi organik oleh 77 petani anggota kelompok,” katanya.

Trubus bertani padi organik sejak tahun 2007. Ia bergabung dengan Aliansi Petani Padi Organik Boyolali (Appoli), sebuah organisasi swadaya petani organik di Boyolali. Ia tertarik menanam padi organik karena harga jual gabah atau beras organik lebih tinggi dibandingkan dengan non-organik, sawah lebih subur, dan tidak bergantung pada pupuk dan pestisida kimia.

“Ketika panen raya, harga gabah biasanya selalu turun jadi sekitar Rp 3.300 per kilogram (gabah kering panen/GKP) dan untuk varietas pandan wangi hanya Rp 3.500-Rp 3.700 per kilogram GKP, tapi kalau gabah organik pandan wangi harganya stabil Rp 4.500 per kilogram GKP. Jadi, lebih menguntungkan Rp 800-Rp 1.000 per kilogram,” tuturnya.

Trubus menyebutkan, biaya tanam juga lebih murah karena memanfaatkan pupuk kandang. Untuk memenuhi kebutuhan pupuk, Kelompok Tani Budi Rahayu membuat unit pengolahan pupuk kandang. Kotoran sapi dari anggota dan petani setempat yang umumnya memelihara sapi dibeli seharga Rp 20.000 per bak mobil terbuka. Kotoran sapi kemudian diproses fermentasi menjadi pupuk kering tabur. “Rata-rata produksinya 3,5 ton per hari,” ujarnya.

Pupuk tersebut kemudian dijual kepada anggota Rp 800 per kilogram. Sampai panen, petani membutuhkan setidaknya 1 ton pupuk organik tabur per hektar lahan. Kelompok tani ini secara mandiri juga membuat pupuk cair dari urine sapi dan pestisida nabati. “Padi jadi lebih tahan terhadap hama,” katanya.

Muhdi (48), petani organik dari Andong, Boyolali, menanam padi beras hitam organik karena harga jualnya lebih tinggi daripada beras merah atau putih. Dari lahan sawahnya seluas 2.500 m2, ia memperoleh panen 1,25 ton GKP. Dengan harga GKP beras hitam organik Rp 7.000 per kilogram, Muhdi mengantongi hasil Rp 8,75 juta. Perolehan itu jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan bertani padi non-organik. Perhitungannya, dengan produksi 1,25 ton GKP dan harga GKP non-organik Rp 3.700 per kilogram (HPP), perolehan totalnya “hanya” Rp 4,6 juta.

Artinya, pendapatan yang diterima Muhdi melonjak hampir dua kali lipat daripada menanam padi biasa. Harga gabah beras hitam organik juga lebih tinggi dibandingkan dengan non-organik yang harga GKP umumnya Rp 5.000 per kilogram. “Saya masih ada lahan 2.500 m2 untuk memenuhi kebutuhan keluarga,” ujarnya.

Ketua Dewan Perwakilan Anggota Appoli Endro menuturkan, ada 596 petani anggota Appoli yang menanam padi dan palawija organik di lahan sawah seluas 194 hektar. Mereka tergabung dalam 80 kelompok tani organik. Petani menanam varietas padi lokal, seperti pandan wangi, beras merah, dan beras hitam, serta palawija, seperti kacang hijau, kedelai, dan jagung unyil yang biasa untuk popcorn.

Petani menerapkan pola tanam bergilir, yaitu musim tanam (MT) I padi, MT II padi, kemudian palawija. Tingkat produksi padi organik berkisar 6,5-7 ton per hektar. Di Boyolali, lahan pertanian organik ini tersebar di 12 kecamatan, yaitu Teras, Mojosongo, Sambi, Ngemplak, Nogosari, Simo, Andong, Klego, Karanggede, Kemusu, Wonosegoro, dan Banyudono. “Minat bertani padi organik semakin tumbuh karena harga produk lebih tinggi dibanding hasil pertanian konvensional,” katanya. Di luar Appoli juga ada petani yang menanam padi organik di Boyolali.

Menurut Endro, euforia menanam padi organik muncul tahun 2000 yang didorong pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, dan organisasi lain di Boyolali. Sayangnya, pasar untuk produk pertanian organik belum disiapkan. Akibatnya, di pasar, harga beras organik tidak berbeda dengan beras non-organik sehingga tidak menguntungkan petani. “Banyak yang kemudian meninggalkan pertanian organik,” ucap Endro.

Pada 2007 didirikan Appoli. Organisasi ini dibentuk sebagai wadah menyatukan langkah petani organik serta membantu pemasaran produk organik mereka. Appoli didampingi Vredeseilanden Country Office (VECO), lembaga nonpemerintah yang bergerak di bidang pertanian berkelanjutan dan berkantor pusat di Belgia. Petani dilatih mencapai standar mutu organik agar dapat memasarkan beras dan palawija yang mereka hasilkan. Appoli juga didampingi Aliansi Organis Indonesia.

Desember 2013, Appoli mengantongi sertifikat organik dari Lembaga Sertifikasi Organik Seloliman (Lesos), lembaga sertifikasi pangan organik. Sebelumnya, Appoli juga mengantongi sertifikat organik internasional Institute for Marketecology (IMO) Swiss, Desember 2012. Dengan sertifikat IMO itu, beras organik anggota Appoli berhasil menembus pasar ekspor.

Tahun 2013 beras pandan wangi organik produksi anggota Appoli diekspor 19 ton ke Belgia dan 17 ton ke Jerman bekerja sama dengan eksportir. Sayang, sejak tahun 2014 ekspor beras organik dihentikan karena tingginya biaya untuk mendapatkan sertifikasi IMO yang mencapai Rp 120 juta. “Saat ini fokus memenuhi permintaan di dalam negeri,” katanya.

Endro menuturkan, Pemerintah Kabupaten Boyolali membantu penuh Appoli meraih sertifikat organik Lesos dan IMO. Pemerintah Kabupaten Boyolali dan Kementerian Pertanian juga membantu alat dan mesin pertanian kepada kelompok-kelompok petani organik.

Untuk memasarkan hasil panen, Appoli mendirikan Koperasi Tresno Tani (KTT) yang beranggotakan 596 petani bersertifikat organik. Manajer KTT Appoli Sidiq Pamungkas menuturkan, KTT Appoli menyerap gabah hasil panen anggota yang meliputi pandan wangi, beras merah, beras hitam, kacang hijau, kedelai, dan jagung unyil untuk popcorn. Guna menjaga standar mutu produk sesuai sertifikat organik, KTT melakukan sendiri proses penggilingan, pemilahan kualitas bulir beras, pengemasan, hingga penjualan. Koperasi menelurkan merek “Arjuna”.

“Rata-rata produksi per bulan untuk beras pandan wangi 10 ton, beras merah 5 ton, beras hitam 1 ton, kedelai 500 kilogram, jagung unyil 500 kilogram, dan kacang hijau 1 ton,” kata Sidiq.

Beras dan palawija organik tersebut dipasarkan ke Jakarta, Yogyakarta, Bogor, dan Cianjur. Kepada pembeli, beras pandan wangi dijual Rp 13.500 per kilogram, beras merah Rp 12.500-Rp 13.000 per kilogram, beras hitam Rp 24.000 per kilogram, kacang hijau Rp 24.000 per kilogram, kedelai Rp 15.000 per kilogram, dan jagung unyil Rp 9.500 per kilogram.

Trubus dan Muhdi mengatakan menikmati hasil positif bertani organik. Muhdi menabung uang hasil panen padi organik untuk membangun rumah, sedangkan Trubus bisa membiayai kuliah kedua anaknya di Solo dan Semarang, Jawa Tengah.

**Tulisan ini telah dimuat sebelumnya di Kompas cetak,  27 April 2016, Tulisan dimuat kembali untuk tujuan pembelajaran.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.