Belajar BUMDes di Panggungharjo

Yogyakarta- Sabtu (21/3), balai Desa Panggungharjo, Sewon, Bantul tampak ramai. Hari itu, pemerintah desa (Pemdes), pengurus PKK, Posyandu serta Kader Desa Tunjungtirto, Singosari, Kabupaten Malang berkunjung ke Panggungharjo. Rombongan disambut oleh Kepala Desa Panggungharjo Wahyudi Anggoro Hadi dan Manajer Badan Usaha Milik Desa Gatot Ferianto.

Menurut Kepala Desa Tunjungtirto, Hanik Dwi Martya, kunjungan perangkat desa beserta kader Tunjungtirto ingin tahu dan belajar tentang pengelolaan BUMDes dan tata kelola pemerintahan desa di Panggungharjo. Kunjungan kali ini pun, Hanik menambahkan, menjadi bagian dari proses inisiasi BUMDes yang akan dikembangkan di Tunjungtirto.

“Di Tunjungtirto, kami dari pemerintahan desa punya gagasan untuk merintis BUMDes berupa usaha pupuk organik hasil kerjasama dengan Gapoktan dan bank desa. Karena di Panggungharjo, BUMDes-nya sudah maju serta didukung tata kelola pemerintahan yang total,” ujar Hanik.

Dalam pemaparannya, Wahyudi menjelaskan tiga inovasi yang dilakukan oleh Pemdes Panggungharjo, yakni reformasi birokrasi, jaminan sosial dan pengelolaan BUMDes.

Di bidang reformasi birokrasi, Pemdes Panggungharjo merupakan satu-satunya desa yang menyertakan Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP) dalam tata kelola pemerintahan. Menurut Wahyudi, keterbukaan tata kelola pemerintahan desa menjadi prasyarat kemandirian desa dan kesejahteraan warga.

Di bidang jaminan sosial, Pemdes Panggungharjo membentuk badan pelaksanan jaring pengaman sosial. Sementara di bidang BUMDes, pemerintah desa telah merintis badan usaha pengelolaan sampah. Keuntungan dari BUMDes salah satunya digunakan sebagai jaminan sosial warga, diantaranya yang sedang digalakkan oleh Pemdes panggungharjo adalah satu rumah satu sarjana.

Di bidang ekonomi desa, BUMDes Panggungharjo memang menonjol. Pada 2013, pemerintah desa Panggungharjo melembagakan Kelompok Usaha Pengelolaan Sampah (Kupas) menjadi Badan Usaha Milik Desa. Saat ini mampu melayani 1400 epala keluarga yang tersebar di 14 pedukuhan.

“Jenis usaha yang akan tetap ada selama masih ada manusia selain energi dan makanan adalah sampah. Selama manusia masih hidup dan mengonsumsi pasti akan ada sampah,” terang Gatot yang sejak 2013 dipercaya menahkodai BUMDes.

Dari modal awal sebesar Rp 37 juta, saat ini aset BUMDes Panggungharjo mencapai 450 juta. Untuk iuran diserahkan setiap awal bulan sebesar Rp 10.000 – Rp 15.000. Untuk pengumpulan iuran bulanan, BUMDes turut menggandeng pengurus PKK di tingkat RT. Itu artinya, pendapatan Kupas setiap bulannya antara 14 juta hingga 21 juta. [*]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.